International Women’s Day: Aksi “Mari, Kak, Rebut Kembali!”

Foto: Zulfa Nur /Bul

“Mari, Kak, rebut kembali!” Massa bersorak memperjuangkan hak-hak wanita dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Sebanyak 35 komunitas yang ada di Yogyakarta menghadiri aksi yang diselenggarakan di Bundaran UGM pada tanggal 8 Maret 2024 kemarin. 

Aksi dimulai pada pukul 9 pagi sampai terik mentari menyengat kulit, tetapi massa tanpa gentar menyuarakan mereka yang sampai saat ini masih dipersulit. Peringatan Hari Perempuan Internasional 2024 di Yogyakarta mengusung tema ‘Mari Kak Rebut Kembali’. Dilansir dari akun Instagram @iwdjogja, seruan ini adalah plesetan dari lirik lagu ‘Mari Bung Rebut Kembali’, yaitu seruan untuk merebut kembali kemerdekaan.

“Di tahun 2024 ini, hak perempuan masih sangat dibatasi, apalagi dalam pekerjaan. Gaji perempuan masih rendah dibandingkan laki-laki. Tidak ada kesetaraan, beberapa akses pada perempuan memang dibatasi di lingkup sosial. Itulah yang teman-teman suarakan untuk hari ini,” ujar Rahma, salah satu panitia penyelenggara.

Foto: Zulfa Nur /Bul

Perempuan dan haknya yang kerap kali direnggut dan dibatasi memang menjadi pemantik utama kobaran api dalam aksi kali ini. Diskriminasi gender, tidak adanya ruang aman di publik, serta kekerasan seksual secara verbal maupun non-verbal masih menjadi persoalan umum yang belum sepenuhnya teratasi. Ditambah lagi, tidak adanya penindaklanjutan dan ketidakpedulian pemerintah terhadap persoalan ini semakin mendorong massa untuk terus bersuara lantang demi merebut kembali kemerdekaan mereka yang semestinya.  

“Kami bersatu dan bersolidaritas dengan seluruh perempuan Indonesia, teman-teman mahasiswa dari semua sektor yang hadir hari ini di sini untuk turut menuntut pertanggungjawaban pemerintah Indonesia,” ujar salah satu orator pada aksi ini. Di akhir orasi, terdapat yel-yel yang berbunyi “We are workers, we are not slaves” yang berarti “Kami buruh, kami bukan budak”. Yel-yel ini disuarakan atas dasar perempuan sebagai pekerja migran yang oleh pemerintah digunakan untuk mencari keuntungan dibanding pemberdayaan dan kesejahteraan.

Orator lainnya, Laili, mengungkap bahwa saat ini belum semua perempuan mendapat hak untuk belajar dan bekerja. Para perempuan masih menghadapi kekerasan yang dilakukan oleh berbagai pihak. ‘LAWAN’, satu kata yang diulang-ulang pada orasi tersebut. Bersama perempuan, kita harus melawan kapitalisme. Tidak ada pembebasan nasional tanpa pembebasan perempuan.

Dari sudut pandang seorang laki-laki, Ronnie Alves Junior (Hukum UGM ’23) berpendapat, “Menurut saya, setiap suara ini patut untuk dihargai, apalagi dari kaum perempuan. Hal ini karena mau bagaimanapun setiap insan yang ada di dunia ini lahir dari rahim seorang ibu dan menurut saya sah-sah saja jika para perempuan ini menuntut hak-hak yang mereka inginkan.”

Maka dari itu, IWD Jogja dan puluhan komunitas yang tergabung di dalamnya mengambil langkah dan komitmen penuh untuk terus menyuarakan suara mereka di setiap tanggal 8 Maret yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Selain melakukan orasi, acara ini juga mempunyai serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, seperti forum diskusi bertajuk “Panggung Perempuan” yang diadakan di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta.

Berti, sebagai salah satu orator dalam aksi ini bersorak dengan berani dan lantang, “Hari ini, di hari yang sangat penting ini, mari kita terus berkomitmen untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender, menciptakan perubahan yang positif, dan merayakan kekuatan dan perjuangan seluruh perempuan yang ada di dunia! Bersama kita ciptakan masa depan yang lebih baik!” 

Selain untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, aksi ini dilaksanakan sebagai wadah mengekspresikan diri dan memperjuangkan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. “Mari, Kak, rebut kembali…,” ucap Berti di akhir orasinya. Berjuang merebut hak dan kemerdekaan yang telah direnggut, sesuai dengan tema yang diangkat dalam aksi tahun ini. Maka dari itu, harapan besar telah tercipta agar semua perempuan dan kelompok yang terdiskriminasi segera mendapatkan hak-haknya secara utuh, tanpa lagi dibatasi. 

Reporter: Zulfa Nur /Bul

Penulis: Retno /Bul, Silky /Bul

Editor: Decita Syahda /Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here