Trans Gadjah Mada sebagai Moda Transportasi Efektif dalam Kampus

Fariz Risky Pradana dan Meitri Lathifah

Foto: Kinanti Ghanihakim

Siapa sih yang tidak tahu tentang bus listrik Trans Gadjah Mada yang baru? Bus yang keluar pada April 2022 ini rupanya telah direncanakan sejak tahun lalu.

            “Bus ini hibah dari alumni fakultas teknik, bus ini juga menjadi salah satu pendukung gerakan green campus yaitu dengan menyediakan moda transportasi ramah lingkungan. Salah satunya bus listrik,’’ tutur Pak Suryanto selaku Seksi Sepeda Kampus, Bus Listrik, Lahan Parkir, dan Kantin.

Setelah mendapatkan hibah dari Dr. Ir. Airlangga Hartarto, Direktorat Aset pun segera melakukan banyak persiapan untuk peluncuran bus listrik ramah lingkungan tersebut. Mulai dari persiapan jalur serta rute bus hingga pembangunan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya.

Bus listrik Trans Gadjah Mada ini memang dikhususkan untuk civitas akademik Universitas Gadjah Mada. Masing-masing bus memiliki jarak tempuh berkisar 9 Km dengan dua jalur berbeda, yakni, jalur 1A dan jalur 1B.

Efektivitas Trans Gadjah Mada

            Menurut Pak Suryanto sendiri dalam wawancara hari Jumat (4/11), Trans Gadjah Mada sebagai moda transportasi di UGM telah berhasil untuk dapat mengakomodasi perjalanan mahasiswanya di seluruh fakultas. Ia juga menambahkan bahwa rute bus listrik ini telah mencakup tiap-tiap fakultas yang ada, mulai dari Grha Sabha Pramana, Fisipol, FIB, hingga daerah fakultas peternakan.

Trans Gadjah Mada saat ini juga telah terintegrasi dengan Trans Jogja di beberapa titik. Kondisi tersebut membuat mahasiswa UGM yang menggunakan Trans Jogja dapat langsung menaiki Trans gadjah Mada.

Selain itu, posisi beberapa halte Trans Gadjah Mada yang dekat dengan kantong parkir sepeda kampus, seperti perpustakaan pusat, Teresia, Fakultas Filsafat, Pujale  , dan juga GOR memberikan opsi bagi mahasiswa untuk dapat menggunakan sepeda kampus setelah turun dari halte bus Trans Gadjah Mada terdekat.

Keberadaan bus Trans Gadjah Mada ini juga tak luput dari antusiasme mahasiswanya dalam menggunakan transportasi umum sebagai transportasi di sekitar kampus. Hal tersebut diperkuat dengan statistik jumlah pengguna Trans Gadjah Mada sejak bulan April hingga September yang menunjukan tren positif.

“Kita lihat mulai beroperasi April, kita lihat per bulan penggunanya ada 2000an pengguna, kemudian di bulan Mei agak turun sekitar 1400an, Juni kembali menjadi 4500an, pada bulan Juli 2600an, di Agustus, saat sudah luring, menjadi 7000, dan pendataan terakhir pada September lalu ada 10.000 pengguna,” ujar Pak Suryanto.

            Tak hanya itu, antusiasme ini juga menjadikan beberapa mahasiswa memiliki sebutan tersendiri untuk bus Trans Gadjah Mada, yaitu Tayogama. Seperti yang dituturkan, salah satu penumpang reguler bus ramah lingkungan ini, Ananda pada Rabu (2/11).

Selain mempermudah mobilitas mahasiswa di dalam kampus, fasilitas yang disediakan di dalam Trans Gadjah Mada juga tak kalah memanjakan. Fasilitas seperti cek suhu, AC yang dingin, serta port charger siap memberikan kenyamanan bagi mahasiswa selama perjalanan.

Terlepas dari beragam kemudahan yang ditawarkannya, Trans Gadjah Mada juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu menjadi evaluasi. Salah satunya adalah keterlambatan yang kerap terjadi karena kemacetan di beberapa titik.

Untuk mengatasi hal tersebut, Direktorat Aset UGM selaku pengelola Trans Gadjah Mada berencana untuk mengubah rute bus yang sering kali menjadi sumber kemacetan guna meminimalisir keterlambatan yang mungkin terjadi.

Selain persoalan keterlambatan, jumlah armada Trans Gadjah Mada yang hanya dua juga dinilai belum cukup maksimal untuk menampung penumpang Trans Gadjah Mada yang semakin banyak tiap waktunya.

Menanggapi hal tersebut Direktorat Aset UGM berencana untuk menambah jumlah armada guna memaksimalkan fungsi Trans Gadjah Mada.

“Kami baru memiliki dua unit, kemungkinan akan ada pengembangan jumlah dan juga rutenya,” sebut Pak Suryanto.

Pengalaman Pengguna

            Melalui wawancara yang dilaksanakan pada hari Rabu (2/11), Nanda sebagai salah satu mahasiswa dari Fakultas Geografi mengutarakan bagaimana pengalamannya menaiki Trans Gadjah Mada . Menurutnya, Trans Gadjah Mada saat ini sudah cukup nyaman dan tidak membuat capek sebagaimana bila menaiki sepeda kampus.

            “Kalau naik Tayogama kita tinggal duduk aja, adem lagi. Kalau sepeda kampus, ya, kita keringetan. Terus juga, takutnya, tuh gak ganggu penampilan, gitu. Kalau Tayogama ‘kan duduk santai, selesai,” tambahnya.

  Kehadiran Trans Gadjah Mada saat ini juga membantu nanda untuk berhemat. Pasalnya, ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menggunakan transportasi ojek online dan dapat naik Trans Gadjah Mada dengan gratis.

            Tak hanya itu, bagi Nanda bus Trans Gadjah Mada ini sudah cukup efektif dan bagus dalam membantunya beraktivitas di dalam kampus, misal seperti pergi menuju fakultasnya. Dengan menaiki Trans Gadjah Mada atau Tayogama ini juga, membantunya dalam mengurangi stres. Hanya saja, ia merasa perlunya penambahan unit bus agar meminimalisir waktu menunggu di halte.

    Di samping dari kemudahan  yang ditawarkan, Nanda juga sempat menyinggung mengenai kedatangan bus Trans Gadjah Mada yang kerap kali tidak sesuai dengan jadwal yang sudah ada. Nanda mengutarakan bahwa Trans Gadjah Mada yang hendak ditumpanginya terkadang tiba sebelum jadwal semestinya.

 “Kalo misalnya kan pemberhentian di FMIPA tu biasanya tu di menit 56. Nah kadang tu lebih awal 53 gitu. Kalau di sana gak ada orang ya tinggal gitu,” tutur Nanda. Oleh karena itu, Nanda juga memberikan tips kepada penumpang Trans Gadjah Mada yang lain untuk tetap memperhatikan jadwal dengan seksama agar tidak terlambat.

Pengaruh Trans Gadjah Mada Terhadap Eksistensi Sepeda Kampus

Trans Gadjah Mada sebagai mode transportasi baru di UGM tentunya membawa angin segar dan  memberikan kemudahan bagi mahasiswanya untuk dapat bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain di dalam kampus. Namun, jauh sebelum Trans Gadjah Mada hadir, masyarakat UGM telah terlebih dahulu diperkenalkan dengan mode transportasi bernama sepeda kampus.

Keberadaan Trans Gadjah Mada saat ini dinilai melengkapi fungsi sepeda kampus dan juga memberikan opsi transportasi lain bagi mahasiswa UGM untuk dapat bepergian di dalam kampus.

“Sejak luring sudah mulai naik pengguna sepeda, gak terlalu berpengaruh, kami harap ke depan penggunaan sepeda motor bisa berkurang karena pilihannya sudah disediakan masing-masing, jarak jauh bisa naik bus dan jarak dekat bisa naik sepeda,” jelas Pak Suryanto ketika ditanya mengenai pengaruh Trans Gadjah Mada terhadap penggunaan sepeda kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here