Cek Fakta: Benarkah Indonesia Akan Mengalami Resesi 2023?

Ilus: Angga/ bul

Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan terkait prediksi kondisi ekonomi yang semakin gelap di tahun 2023 pada awal bulan Oktober lalu. Jokowi menekankan bahwa kondisi ekonomi akan gelap secara global, termasuk di Indonesia. Namun, seberapa gelapnya ekonomi Indonesia belum dapat diprediksi. Jokowi hanya meminta masyarakat untuk waspada dan tetap mengikuti informasi terkait resesi global.

 Informasi tersebut hangat diperbincangkan setelah adanya postingan melalui Instagram @folkative pada 29 September lalu dengan headline “Kondisi ekonomi di 2023 akan lebih gelap, kata Presiden Jokowi” yang mengumpulkan like sebanyak 288.392 dan komentar sebanyak 5.456. Tanggapan netizen pun sangat beragam. Ada yang menanggapi dengan rasa khawatir, seperti yang diungkapkan salah seorang pengguna dengan akun @its.yanthie, “Kemarin pengamat ekonomi di Taiwan juga ngomong gitu… katanya tahun depan akan ada krisis ekonomi global :(”. Kemudian ada pula yang berusaha menyikapi dengan tenang seperti pada akun @dwiadityoo, “Semoga ga seperti yang dibilang pak Presiden yaa… Insyaallah bakalan terang dan makin stabil.” 

Tidak hanya di Instagram, kata “gelap” dan “resesi” sempat menjadi trending di Twitter yang diwarnai oleh beragam tanggapan netizen. Kondisi semakin dianggap serius ketika para influencer mulai membuat konten edukasi dalam menghadapi resesi 2023 dan beberapa netizen mulai kembali merasa takut akan resesi tersebut. Lalu, muncul pertanyaan apakah Indonesia akan mengalami resesi di tahun 2023?

Mengenal Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi dapat diartikan sebagai peristiwa ketika ekonomi suatu negara memburuk yang dapat diidentifikasi melalui nilai Produk Domestik Bruto (PDB) yang bernilai negatif. Resesi ini dapat terjadi ketika aktivitas ekonomi mengalami tingkat penurunan signifikan dalam kurun waktu yang lama. Penyebab munculnya resesi dapat didorong oleh berbagai hal, antara lain adanya guncangan ekonomi mendadak melalui peristiwa pandemi Covid-19 yang sempat memperlambat kegiatan ekonomi atau adanya invasi antara Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi stok kebutuhan ekonomi negara lain, adanya inflasi dan deflasi yang tidak terkendali, ataupun jumlah utang berlebih yang ditanggung individu dan bisnis dalam suatu negara. Dampak dari resesi ini, yaitu akan terjadinya perlambatan ekonomi yang berpengaruh terhadap sektor riil dalam menahan kapasitas produksinya. Hal tersebut akan memunculkan banyak pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu, adanya resesi akan menciptakan pemikiran dalam benak masyarakat untuk selektif ketika menggunakan uang sehingga daya beli mayarakat pun menurun.

Berdasarkan yang dipaparkan oleh seorang ahli  ekonomi, Julius Shiskin. Tanda-tanda resesi mulai terjadi dapat dilihat dari indikator nilai PDB riil, yaitu keseluruhan nilai pasar dan jasa yang diproduksi. Selain itu, Biro Nasional Penelitian Ekonomi (NBER) juga mengemukakan bahwa resesi dapat berlangsung ketika terjadi peningkatan jumlah pengangguran dan pemutusan kerja.

Menurut laporan studi World Bank, resesi global 2023 dapat terjadi ketika bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga secara bersamaan sebagai respons terhadap inflasi. Hal tersebut juga mengakibatkan krisis keuangan di negara berkembang. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sepanjang tahun 2022 memiliki kenaikan suku bunga sebesar 300 basis poin, yaitu 3%-3,25% yang diperkirakan akan terus bertambah. Hal ini memunculkan prediksi oleh Ekonom Nouriel Roubini atau disebut sebagai Dr. Doom yang memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan mengalami resesi di akhir 2022 sebelum menyebar secara global di tahun 2023. Menurutnya, kondisi ini mirip seperti krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2008, dilihat dari utang dan korporasi yang tinggi. Selain itu, rasio jumlah utang swasta dan publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global melonjak menjadi 350% di tahun 2022 ketika semula pada tahun 1999 sebesar 200%.

S&P Global Market Intelligence memprediksi pula bahwa Eropa dan Amerika Serikat akan menghadapi resesi 2023. Mereka akan menghadapi dampak dari turunnya permintaan dan pendapatan keuangan di pasar perumahan atau investasi modal. Namun, S&P memperkirakan bahwa ekonomi Asia-Pasifik yang akan mendominasi pertumbuhan global di tahun 2023. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut akan menghasilkan 35% dari PDB dunia.

Prediksi Keadaan Ekonomi Indonesia

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5,01% di kuartal pertama 2022 dan 5,44% di kuartal kedua tahun yang sama. Persentase yang terus tumbuh tersebut mengembangkan rasa optimis pemerintah bahwa di tahun 2023 Indonesia dapat tumbuh sebesar 5% berkat dorongan dari faktor konsumsi dosmetik. Namun, kondisi ekonomi global yang belum pulih akan mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Menurut Eko Listiyanto selaku Deputi Direktur Indef, tantangan ekonomi di Indonesia dapat mulai dirasakan semenjak adanya kenaikan harga BBM dan nilai tukar rupiah. Namun, menurutnya Indonesia tidak akan mencapai resesi ekonomi, tetapi hanya mengalami penurunan ekonomi yang masih dapat dikendalikan. Jiro Tominaga sebagai Country Director ADB pun berkata demikian. Menurutnya, Indonesia dengan tingkat belanja konsumen yang kuat dan permintaan ekspor komoditas yang berkembang akan membantu mempertahankan kondisi ekonomi Indonesia.

Namun, untuk mengantisipasi agar Indonesia secara nyata tidak mengalami resesi 2023, masyarakat dapat mulai mengurangi pembelian barang yang bukan kebutuhan primer. Selain itu, pemerintah tidak perlu melebih-lebihkan persoalan resesi ini dan harus membangun suasana yang optimis dengan meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia dapat mengatasi resesi global tersebut.

Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa di tahun 2023 Indonesia tidak akan mengalami resesi jika masyarakat dan pemerintah memiliki sikap optimis dalam mengatasi persoalan tersebut. Akan tetapi, Indonesia akan mengalami penurunan ekonomi yang masih dapat dikendalikan akibat dari adanya ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi secara global.

Penulis: Annisa Fadhilah/ Bul

Editor: Maria Qibtiyya/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here