Menjadi Mahasiswa yang Bermakna Melalui “Gerakan Setana”

Ilus: Bodhi/ Bul

Siapa yang saat ini tidak mengenal virus COVID-19? Seluruh umat manusia di dunia nampaknya sudah mengenal betul virus yang satu ini. Kemunculannya pertama kali dilaporkan berasal dari kota Wuhan, China sejak akhir Desember 2019. Ya, tak terasa kita sudah hampir 3 tahun hidup berdampingan dengan virus ini. Mustahil virus ini akan lenyap dari muka bumi. Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya berkeluh kesah dan pasrah terhadap keadaan.

Kemudian, muncullah sebuah pertanyaan dalam benak ini. Apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa untuk ikut berperan serta mengurangi dampak dari pandemi global yang terjadi? Dilansir dari berita Universitas Gadjah Mada (UGM), sekelompok mahasiswa UGM telah berhasil mengembangkan sistem deteksi kerumunan guna mencegah penularan COVID-19. Sistem yang diberi nama Syncrom atau kepanjangan dari System of Detection and Crowd Mapping ini dibuat dengan berbasis Deep Learning dan WebGIS. Dengan begitu, melalui sistem ini, maka dapat terdeteksi adanya kerumunan dengan menyajikan informasi jumlah massa dan menampilkan visualisasi kondisi di lapangan, baik waktu dan tempat terjadinya kerumunan secara near real time (mendekati real time). Tak berhenti sampai di situ saja, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) juga berinovasi dengan menciptakan alat pendeteksi pasien COVID-19. Alat yang diberi nama Ramones ini dinilai mampu mendeteksi Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG), dan pasien positif COVID-19.

Luar biasa! Sebagai sesama mahasiswa, tentunya ikut bangga mendengar berita tersebut. Itu karena teman-teman mahasiswa di atas sudah dapat menerapkan ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan dengan cara menciptakan berbagai alat teknologi sebagai solusi di tengah masyarakat dengan tujuan mengurangi dampak dari pandemi global COVID-19.

Peran mahasiswa melalui Gerakan Setana

Dengan adanya prestasi tersebut, pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah kita semua harus dapat menciptakan sebuah alat teknologi? Apakah kita semua, mahasiswa, dapat dengan tiba-tiba membuat alat seperti itu? Tentu saja, jawabannya adalah tidak. Terlebih mahasiswa biasa seperti saya yang hanya pulang-pergi untuk kuliah, atau biasa disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang). Apakah mahasiswa biasa-biasa saja seperti saya ini dapat memberikan dampak yang signifikan untuk membantu mencegah penyebaran virus COVID-19? Tentu saja, pasti bisa! Lalu, seperti apa peran yang dapat dengan mudah dilakukan oleh seluruh mahasiswa tanpa terkecuali? Saya menyebutnya Gerakan Setana yang merupakan akronim dari “​Sederhana Tapi Bermakna”. Berikut ini ulasan dari Gerakan Setana yang dapat kita implementasikan di tengah masyarakat sebagai bentuk aksi nyata kepedulian kita terhadap pandemi COVID-19 yang sedang terjadi.

Pertama, yaitu melakukan edukasi kecil-kecilan. Mengapa disebut kecil-kecilan? Karena edukasi ini berasal dari kesadaran diri sendiri untuk saling mengingatkan masyarakat sekitar mengenai bahaya dan cara pencegahan virus COVID-19 di tempat kita tinggal. Hal ini dapat dilakukan melalui obrolan sehari-hari saat bertegur sapa dengan tetangga sekitar. Terkadang masyarakat, khususnya di pedesaan, memandang seorang mahasiswa adalah mereka orang-orang yang berpendidikan. Oleh karena itu, mereka akan menghargai dan mendengarkan apa yang kita katakan. Kepercayaan tersebut tentunya dapat kita gunakan sebagai mahasiswa agar bisa menyebarkan berita yang terpercaya dan ter-update mengenai perkembangan COVID-19 di dunia saat ini. Hal ini tentu mengingat bahwa masyarakat pedesaan masih banyak yang belum melek akan teknologi sehingga rawan termakan oleh berita hoaks yang beredar. Kita sebagai mahasiswa dapat melakukan peninjauan ulang terhadap ‘gosip’ yang sedang dibicarakan oleh masyarakat sekitar dan meluruskan informasi tersebut berdasarkan sumber yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kedua, memberikan contoh yang baik. Tentu kita tidak ingin menjadi orang JARKONI, ‘iso ngujari nanging ora iso nglakoni’, merupakan akronim dalam budaya masyarakat di Jawa, yang memiliki arti tidak adanya kesesuaian antara omongan dengan sikap dan perilaku yang ditunjukkan seseorang. Di samping memberikan edukasi, kita juga harus memberikan contoh dengan mengamalkan sesuatu yang kita katakan mengenai cara pencegahan virus COVID 19 sesuai dengan anjuran pemerintah Indonesia. Hal tersebut dapat terkait penerapan protokol kesehatan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan interaksi.

Ketiga adalah mengingatkan tentang vaksin, vaksin, dan vaksin. Kata vaksin disebut sebanyak 3 kali yang mengindikasikan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang teramat penting. Vaksinasi merupakan cara yang efektif untuk membentuk kekebalan dalam tubuh seseorang dan menangkal serangan berbahaya dari suatu mikroorganisme, seperti virus COVID-19 ini. Semakin banyak individu yang telah mendapatkan vaksinasi pada sebuah daerah atau negara, maka diharapkan Herd Immunity akan dapat segera tercapai sehingga meminimalisir risiko paparan dan mutasi dari virus COVID-19. Herd immunity adalah suatu kondisi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu sehingga dapat memberikan perlindungan secara tidak langsung kepada orang-orang yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Cara ini dapat mengendalikan penyebaran penyakit tersebut. Jika target vaksinasi di seluruh dunia telah terpenuhi, maka pandemi ini dapat berubah menjadi endemi. Tahap vaksinasi sendiri kini telah sampai pada vaksin booster yang merupakan vaksin dosis ketiga. Vaksin ini diberikan pada seseorang yang sudah mendapatkan dua kali dosis vaksin, yang bertujuan untuk meningkatkan imunitas secara penuh dari serangan COVID-19.

Itulah opini saya mengenai peran mahasiswa di tengah masyarakat dan pandemi global. Gerakan Setana (Sederhana Tapi Bermakna) tersebut dirasa dapat dilakukan oleh seluruh mahasiswa sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi pandemi global yang sedang terjadi saat ini. Penulis berharap keadaan dapat semakin membaik, kasus COVID-19 berangsur-angsur menurun, dan pandemi berubah menjadi endemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari.

Data Diri Penulis

Denny Priaditama, biasa dipanggil Denny. Seorang pria yang berasal dari Cilacap. Berstatus sebagai seorang mahasiswa baru (2 tahun lalu) dari prodi Teknologi Industri Pertanian. Tertarik dengan dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMA melalui karya cerpen pertamanya berjudul “Rumus Luas Cinta Segiempat” yang juga dijadikan sebagai sebuah judul antologi cerpen. Semenjak itu, menjadi bucin dengan karya tulis, menyukai makna dari tiap kata yang hadir. Selain itu, Denny juga suka ngopi dan suka memandangi bulan. Jika ingin mengontaknya, melalui email saja ke luas.segiempat@gmail.com.

Editor: Yesika Fierananda Rezky/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here