Dilema Kuliah Bauran di Tengah Serangan Omicron

Foto: Produksi/bul

Pemerintah tidak ingin kehilangan kesempatan dalam penyelenggaraan pertemuan tatap muka (PTM) melihat penanganan pandemi di Indonesia yang kian membaik. Oleh karena itu, setiap institusi pendidikan formal didorong agar dapat melaksanakan PTM di tempat masing-masing. Perihal keputusan ini telah tercantum dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022 yang dikeluarkan pada bulan September 2021 kemudian disusul dengan Keputusan Bersama empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada Desember 2021. Menindaklanjuti edaran tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai memberlakukan PTM terkendali. PTM terkendali sendiri diimplementasikan sebagai pengadaan pembelajaran secara bauran melalui pembelajaran secara daring dan luring dengan melaksanakan protokol kesehatan sesuai dengan panduan.

Salah satu di antaranya tidak lain adalah Universitas Gadjah Mada. Pelaksanaan PTM terkendali di UGM sendiri telah diselenggarakan sejak Oktober 2021 lalu. Kegiatan ini berlanjut hingga ajaran semester genap 2021/2022. Jika sebelumnya kegiatan PTM terkendali ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang penelitian atau tugas akhir, praktikum, ataupun mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang belum pernah menginjakkan kakinya di kampus, maka pada semester baru ini seluruh mahasiswa UGM dapat kembali merasakan kuliah di kampus. Bahkan, rektor UGM, Bapak Panut Mulyono, berharap supaya kegiatan ajar-mengajar tatap muka dapat diselenggarakan hingga persentase 100 persen secara bertahap. Hal ini dimaksudkan supaya mahasiswa mampu menyerap materi pembelajaran yang diberikan tenaga pengajar dengan baik sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai jurusan yang dijalaninya.

Mungkin sebagian besar dari mahasiswa pun telah rindu pada suasana pembelajaran di kampus secara luring dan sebagian lainnya masih merasa nyaman dengan pembelajaran daring. Senada dengan survei yang dilakukan pada mahasiswa dan tenaga pengajar UGM, yang dilansir melalui Liputan 6 (2022) yakni 86% mahasiswa merasa perlu akan pembelajaran luring ataupun bauran dan 14% nyaman dengan pembelajaran daring.

Berbeda dengan mahasiswa, sebanyak 78% tenaga pengajar/dosen membutuhkan pembelajaran bauran dan 11% pembelajaran secara luring penuh. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih dibayangi oleh peningkatan kasus covid-19 berikut varian barunya, omicron. Keadaan ini jelas membuat UGM dan sejumlah perguruan tinggi lainnya berharap cemas sebab kekhawatiran akan munculnya klaster kampus dan kesehatan dari civitas akademika UGM yang dapat mengganggu jalannya perkuliahan. Tinjau demi tinjauan mesti dilakukan secara berkala oleh pihak rektorat terkait metode PTM terkendali ini. Meskipun jika nanti keputusan akhir dikembalikan kepada fakultas, pihak rektorat harus tetap memberi arahan dan pertimbangan yang adil bagi seluruh mahasiswa UGM. Pasalnya, kesehatan setiap orang tidaklah sama dan kesehatan serta keselamatan seharusnya tetap menjadi prioritas.

Pembelajaran luring pastinya akan mengeluarkan biaya dan risiko yang besar sebab di tengah serangan varian baru covid-19 yang dinamai omicron–bahkan bukan hal yang mustahil bila masih akan ada varian terbaru lainnya–menuntut UGM agar dapat mengambil langkah yang tegas dan adil. Di luar hal itu, pembelajaran luring semestinya mampu menciptakan lulusan yang lebih berkualitas. Untuk itu, penguatan keamanan dan protokol kesehatan di sejumlah fakultas perlu dievaluasi agar risiko yang mengintai dapat dihindari sehingga kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan optimal apabila bersikukuh untuk meningkatkan pertemuan luring. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan protokol kesehatan di kampus adalah dengan mensyaratkan bukti vaksinasi, surat izin orang tua, penyediaan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer di sudut strategis di tiap fakultas, skrining kesehatan kepada setiap civitas yang hendak ke kampus, memberikan tes covid kepada civitas akademika dengan kuota tertentu di setiap fakultas, dan membentuk satgas covid yang dapat ditempatkan di seluruh fakultas. Selain itu, tenaga pengajar yang bersangkutan dapat memilih bentuk pelaksanaan kuliah menimbang kemungkinan tenaga pengajar yang tidak dalam kondisi prima atau mempunyai komorbid.

Melihat perkembangan kasus covid-19 memang membuat kita tidak bisa berharap banyak. Apakah nanti UGM akan kembali melaksanakan KBM secara daring? Ataukah tetap dengan metode sebelumnya, yakni hanya diperuntukkan oleh mahasiswa yang memiliki kepentingan? Lalu, bagaimana soft skill lapangan yang harus dikuasai oleh mahasiswa lulusan UGM? Pertanyaan demi pertanyaan akan selalu terbesit di setiap pengambilan keputusan ini.

Apa pun langkah yang diambil UGM di kemudian hari tentulah enggan membuat rugi orang-orang di dalamnya, baik mahasiswa, tenaga pengajar, maupun civitas lainnya. Jikalau memang sudah saatnya kembali melaksanakan KBM di ruang kelas serta menjalani ujian dalam satu ruangan yang sama, sudah saatnya mahasiswa menutup Google-nya dan kembali dengarkan detak jarum jam serta ketukan pulpen yang menggema di ruang kelas.

Penulis : Adiba Tsalsabilla/Bul

Editor : Zahrah Salsabila/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here