Menilik Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka Pasca Pandemi pada Mahasiswa UGM

Ilus : Hans/Bul

Angin segar telah hadir di dunia pendidikan setelah melawan ketimpangan selama pandemi. Kemendikbudristek melalui Ditjen Dikti Ristek mengeluarkan Surat Edaran No. 4 Tahun 2021 yang mengatur tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022. Surat edaran tersebut mengharuskan perguruan tinggi yang mengadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Seperti sebuah keputusan pada umumnya, PTM menuai respons pro dan kontra dari kalangan mahasiswa. Berkaitan dengan hal tersebut, Divisi Penelitian dan Pengembangan SKM Bulaksumur mengadakan survei terhadap 117 responden yang tersebar di 13 fakultas dan satu sekolah vokasi. Berdasarkan hasil riset, sebesar 69,2% responden setuju PTM diadakan dan sebesar 30,8% responden tidak setuju pelaksanaan PTM. Namun, jika ditinjau seberapa yakinkah responden terhadap PTM muncul perbedaan. Sebanyak 35 responden menempatkan dirinya netral, sedangkan 30 responden merasa tidak yakin dan 15 responden sangat tidak yakin. Hanya segelintir responden yang yakin dan sangat yakin dengan PTM, masing-masing dengan 18 dan 19 responden.

Ketidakyakinan mahasiswa dengan kembali bergulirnya PTM sebenarnya adalah respons wajar. Apalagi inkonsistensi pemerintah dalam menangani penyebaran COVID-19, ancaman meningkatnya kasus sewaktu-waktu adalah sebuah hal yang mungkin terjadi. Wilayah satuan pendidikan juga menjadi daerah yang rawan dengan penyebaran COVID-19. Seperti yang dilansir dari Kompas.com (12/09) bahwa 139 orang terinfeksi COVID-19 dari klaster kampus di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Tentunya, berita semacam ini menguatkan keraguan pelajar untuk kembali ke kampus.

Siap atau Tidak, Kuliah Resmi Tatap Muka

Merespon surat edaran yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah, Universitas Gadjah Mada pun telah siap melakukan PTM. Melalui Surat Edaran Nomor 6312/UN1.P/PIKA/PK/2021 tentang Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terkendali Semester Gasal TA 2021/2022, telah diatur tata tertib yang diharapkan dapat melancarkan proses pembelajaran selama PTM Terkendali. Namun, bagaimana dengan kesiapan mahasiswanya sendiri? Kami menuai hasil beragam, seperti menyiapkan fisik yang prima dan kesiapan mental setelah lama tidak mengikuti kelas luring. Mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta juga mempersiapkan diri untuk mencari kos untuk menetap.

Saat ditanya harapan dengan adanya PTM, sejumlah responden berharap bahwa mereka dapat segera mengikuti proses kuliah bauran. Beberapa responden juga berharap bahwasanya kelas luring akan membantu dalam mengatasi permasalahan pembelajaran selama pandemi. Dalam pertanyaan yang sama, responden juga sudah tidak sabar untuk berinteraksi langsung dengan dosen dan teman-teman angkatan. Apalagi dengan kesan pembelajaran daring yang melelahkan, responden berekspektasi kalau proses PTM nantinya dapat berjalan secara seru dan menyenangkan tanpa melupakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Urgensi Pembelajaran Tatap Muka

Setelah melihat paparan di atas, bukan berarti kita boleh bersikap lengah karena ancaman pandemi sesungguhnya belum selesai. Negara-negara Eropa seperti Inggris dan Rusia tengah menghadapi gelombang ketiga virus yang bermula darI Wuhan, China. Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebutkan gelombang ketiga pandemi di Indonesia adalah sebuah keniscayaan, mengingat negara-negara lain yang memiliki angka vaksinasi tinggi pun kini mengalami kondisi tersebut.

Saat bertanya mengenai tanggapan mahasiswa UGM tentang angka COVID-19 yang meningkat setelah PTM, kami mendapat respons beragam. Mayoritas responden setuju proses pembelajaran kembali dilaksanakan secara daring. Hal ini diyakini lebih mudah dan aman dilakukan di kondisi pembatasan sosial. Muncul pula tanggapan bahwa PTM tetap dilaksanakan, tetapi dengan protokol kesehatan yang lebih ketat dan evaluasi terhadap ketertiban mahasiswa di lingkungan pendidikan.

Respons mengenai tetap dijalankannya PTM meskipun angka kasus meningkat adalah cerminan kondisi pelajar saat ini. Harus diakui, proses pembelajaran selama pandemi telah mengganggu banyak pelajar. Seperti yang diakui Mendikbudristek, Nadiem Makarim dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR bahwa pelajar harus segera kembali ke sekolah. Beliau mengemukakan lima alasan, yakni meningkatnya angka putus sekolah, kasus KDRT terhadap anak, kondisi psikologis anak, hilangnya kesempatan belajar, dan penurunan hasil belajar.

Tanggapan responden tentang mengapa memilih kuliah luring tidak jauh berbeda dari pernyataan Nadiem Makarim. Responden kami menganggap sistem pembelajaran daring tidak efektif. Apalagi tidak semua mahasiswa dapat beradaptasi dengan pembelajaran yang berbeda dengan biasanya. Responden kami juga khawatir tidak dapat memahami materi secara jelas. Belum lagi gangguan psikologis yang membuat mereka terdistraksi selama kuliah daring. Minimnya interaksi yang terjadi dengan teman sebaya juga menghadirkan rasa jenuh selama pandemi berlangsung.

Pada akhirnya, terdapat hal yang harus dikorbankan yaitu masa depan bangsa atau kesehatan pelajar. Hasil riset kami telah menunjukkan bahwa ada masa depan yang perlu diselamatkan. Bukan pilihan yang mudah memang, tetapi sudah seharusnya para pemangku jabatan tidak lagi berdiam diri dan segera mengambil pilihan yang tidak lain adalah demi kelangsungan pendidikan di Indonesia.

REFERENSI

Cipta, H. (12 September 2021). Muncul Klaster Kampus, Sebanyak 139 Orang di Kalbar Terpapar Covid-19. Kompas.com. Diakses 25 Oktober 2021, dari https://regional.kompas.com/read/2021/09/12

Kristina. (23 Agustus 2021). 5 Alasan Nadiem Mengapa Siswa Harus Segera Sekolah Tatap Muka. Detik.com. Diakses 24 Oktober 2021, dari https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5692747/5-alasan-nadiem-mengapa-siswa-harus-segera-sekolah-tatap-muka

Penulis: Lazuardi C. I, Zabrina, Tiara Arni

Editor: Esya Charismanda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here