Cek Fakta : Benarkah Utsmani Menjadi Pelopor dalam Penanganan Wabah Melalui Vaksinasi?

Ilus : Syifa/Bul

Saat ini pemerintah tengah gencar mengajak masyarakat agar melakukan vaksinasi untuk menciptakan kekebalan tubuh dalam melawan virus Covid-19. Selain itu, dengan melakukan vaksinasi, maka penyebaran virus dapat diminimalisir seiring terbentuknya imun tubuh yang lebih kuat. Dengan demikian, pasien tidak akan mengalami gejala yang terlalu berat dan rantai penularan Covid-19 perlahan dapat dihentikan.

Namun, netizen Indonesia justru sempat digemparkan oleh sebuah unggahan di Twitter beberapa waktu yang lalu. Unggahan tersebut dilakukan oleh sebuah akun Twitter bernama @af1_ yang menarasikan bahwa Kekhalifahan Utsmaniyah adalah pelopor penanganan wabah melalui vaksinasi. Dengan sebuah foto bertuliskan “Certificat du Vaccin”, ditegaskan bahwa sertifikat tersebut dikeluarkan oleh kekhalifahan pada tahun 1326 H untuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun saat dunia dilanda wabah cacar api.

Unggahan @af1_ yang telah di-retweet sebanyak 2.596 kali dan mendapatkan 9.988 likes, nyatanya menimbulkan berbagai pertentangan. Dilihat dari kolom komentar, dapat kita saksikan bahwa cukup banyak orang yang mempercayai unggahan tersebut. “Jaman segitu. Bisa mengisolasi virus berbahaya, tanpa tertular. Masya Allah… hebat sekali…,” ungkap salah seorang pengguna Twitter di kolom komentar yang mendapatkan 97 likes. Kemudian, ada pula lainnya yang mengungkapkan kekagumannya, “Wow. ternyata dunia islam lbih dulu mngnl vaksin,  hmm baru tau….”

Meskipun begitu, tidak sedikit juga yang mempertanyakan validitas informasi dari unggahan @af1_, “Pelopor? Yg benar aja. Klo iya knp tu certifikat hrs ada bhsa perancis nya. Jgn buat hoax aneh2 deh.” Lantas apakah memang benar Kekhalifahan Utsmaniyah yang menjadi pelopor vaksin pertama dalam penanganan wabah?

Sekelumit Perjalanan Vaksin di Dunia

Jauh sebelum era kemunculan vaksin, sejumlah metode tradisional telah dilakukan untuk mencegah penyakit menular pada manusia, yaitu dengan metode variolasi atau inokulasi yang telah dipraktikkan bangsa Tiongkok sejak sekitar tahun 1.000 Masehi. Inokulasi adalah sebuah metode menginfeksi pasien dengan virus atau bakteri yang sifatnya lebih ringan dan tidak berbahaya. Metode ini kemudian dipopulerkan di Inggris pada tahun 1721 oleh Lady Mary Wortley Montagu.

Kemudian seiring berjalannya waktu, sejarah mencatat bahwa istilah dan penggunaan vaksin pertama dikenalkan oleh seorang dokter asal Berkeley, Inggris bernama Edward Jenner pada tahun 1796. Vaksin tersebut digunakan untuk mencegah penyakit cacar air (smallpox) yang saat itu sedang mewabah dengan menggunakan sampel dari virus cacar sapi (cowpox). Setelah keberhasilan Jenner mencegah cacar air, seorang ahli kimia bernama Louis Pasteur juga berhasil menemukan vaksin untuk rabies pada tahun 1885. Sejak saat itu vaksin makin dikenal di dunia kesehatan dan mengalami perkembangan untuk mencegah penyakit menular lainnya.

Vaksin dan Kekhalifahan Utsmaniyyah

Dilansir dari detik.com, Sabtu (11/09/2021), seorang guru besar filologi UIN Jakarta, Oman Fathurahman, di dalam video YouTube-nya yang berjudul Ngariksa 53: Ikhtiar Insani Akhir Pandemi, menjelaskan bahwa Turki yang saat itu dipimpin oleh Kekhalifahan Utsmaniyah telah mengenal inokulasi sejak tahun 1670. Metode tersebut dipraktikkan kepada para istri Sultan yang berasal dari Kaukasus. Lady Montage yang sebelumnya disebutkan telah mempopulerkan metode ini di Eropa, terutama Inggris, mendapatkannya saat ia sedang berada di Turki. Kemudian seiring berjalannya waktu, saat vaksin ditemukan oleh Edward Jenner, Turki mulai mendapatkan inspirasi untuk menggunakannya dalam menangani wabah cacar. Meskipun sempat mengalami berbagai penolakan dari masyarakat, tetapi sebuah fatwa pada tahun 1840 akhirnya menyatakan bahwa vaksinasi halal untuk dilakukan. Hal tersebut membawa Kekhalifahan Utsmaniyah untuk mewajibkan setiap warganya melakukan vaksinasi agar mencegah cacar yang kemudian dilengkapi dengan sebuah sertifikat pada tahun 1904.

Dengan sederet fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa memang benar adanya sertifikat yang terdapat dalam foto di unggahan Twitter @af1_ dikeluarkan pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah saat terjadinya wabah cacar. Akan tetapi, kekhalifahan tersebut bukanlah pelopor penggunaan vaksin pertama di dunia untuk menangani wabah, melainkan oleh Edward Jenner pada tahun 1796. Namun, akibat kurangnya kemauan mengeksplor informasi dari sumber-sumber yang terpercaya, netizen menjadi gampang termakan berita di media sosial yang belum tentu benar atau tidaknya.

Referensi

Nur MR, Ani. [SALAH] “Utsmaniy menjadi pelopor dalam penanganan wabah melalui vaksinasi”. Diunggah pada 01 Oktober 2021 di https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-utsmaniy-menjadi-pelopor-dalam-penanganan-wabah-melalui-vaksinasi 

Widiyani, Rosmha. Sertifikat Vaksin Zaman Turki Utsmaniyah, Sekelumit Perjalanan Vaksinasi. Diunggah pada Sabtu, 11 September 2021 18:40 WIB di https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5719444/sertifikat-vaksin-zaman-turki-utsmaniyah-sekelumit-perjalanan-vaksinasi

Anindiati Nursastri, Sri. Penemuan yang Mengubah Dunia: Vaksin, Sudah Ada Sejak 1.000 Tahun Lalu. Diunggah pada 17/04/2020, 19:03 WIB di https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/17/190300723/penemuan-yang-mengubah-dunia–vaksin-sudah-ada-sejak-1.000-tahun-lalu?page=all 

Nabila, Ardela. Kenapa Harus Vaksin COVID-19? Ini Lho Manfaatnya. Diunggah pada Selasa, 06 Juli 2021, 06.00 WIB di https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5632621/kenapa-harus-vaksin-covid-19-ini-lho-manfaatnya 

Penulis: Yesika Fierananda Rezky

Editor: Zahrah Salsabila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here