Southeast Asia Conference on Media, Cinema, and Art 2021: Rediscovering Southeast Asia Amidst its Multi-layered Burdens

Foto : Dok. panitia

Pada tanggal 4-5 Oktober 2021, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM) akan melangsungkan konferensi yang berfokus pada isu media, sinema, dan seni di Asia Tenggara bertajuk Southeast Asia Conference on Media, Cinema, and Art 2021 dengan tema “Rediscovering Southeast Asia Amidst Its Multi-Layered Burdens”. Konferensi tersebut akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Virtual Webinar, yang memungkinkan presenter dan partisipan konferensi untuk tetap dapat terhubung meski terpisah lokasi geografis yang berjauhan di tengah berlangsungnya pandemi Covid-19.

Beragamnya lanskap sosial, ekonomi, dan politik di negara-negara Asia Tenggara, dan diperburuk dengan pandemi Covid-19, Asia Tenggara terbentur dengan kendala yang beragam pula. Southeast Asia Conference on Media, Cinema, and Art 2021 diadakan untuk merespons kondisi tersebut, dengan spirit akademis untuk menguraikan sekaligus menjadi katalisator permasalahan dari kacamata media, sinema, dan seni. Konferensi akan dibuka oleh keynote yang akan disampaikan oleh Prof. Maria Serena Icasiano Diokno, yang kemudian akan dilanjutkan dengan paparan sembilan pembicara dari berbagai latar belakang. Sesi hari ke-2 akan dilangsungkan secara paralel dengan pembicara yang telah mengirimkan artikel serta beberapa mitra seperti Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, PUI-PT Disruptive Learning Innovation Universitas Negeri Malang, PUI-PT Javanologi Kajian Tradisi Jawa (Universitas Sebelas Maret), dan Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarjana UGM, serta PUI-PT CARE (Choreographic and Artistic Research) ISI Surakarta.

Profesor di Universitas Philippine Diliman memparkan tentang tantangan dan kesempatan yang dihadapi oleh warga di Asia Tenggara dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama di masa pandemi seperti ini. Prof Maria juga menyoroti tentang keragaman yang ada diantara negara-negara di Asia Tenggara. “Ada yang perlu ditingkatkan dalam hubungan antar negara di asia tenggara, setiap negara di asia tenggara perlu mengadakan kajian terhadap negara-negara lain di asia tenggara untuk menghindari eksklusivitas. Keanekaragaman merupakan nilai tambah bagi kami,” tuturnya.

Sesi panel pertama mengangkat tema “The Fate of Journalism in The Region: Between Freedom, Security and Responsibility”. Sesi ini membahas tentang Jurnalisme dan kaitannya dengan kebebasan, keamanan dan tanggung jawab. Sesi ini turut diisi oleh Gilang Desti Parahita, S.IP., M.A. dosen Ilmu Komunikasi UGM, Evi Mariani Sofian jurnalis senior, Professor Cherian George dosen Jurnalisme Universitas Hong Kong Baptist, dan dimoderatori oleh Mufti Nurlatifah S.IP., M.A. dosen Ilmu Komunikasi UGM.

Evi Mariani mengatakan, digitalisasi membuka jalan bagi pengusaha untuk membuka media dan membuka pasar baru dan luas. Evi juga bertutur tentang bagaimana pandemi menghantam media dengan keras. Ia memaparkan banyak kantor berita yang harus tutup, pemotongan tenaga kerja, dan banyak jurnalis yang beralih karier akibat pandemi.

Sesi panel kedua mengangkat tema “Envisioning New Landscape of Southeast Asian Cinema”. Sesi ini diisi oleh Budi Irawanto S.IP., M.A., Ph.D kepala program doctoral Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM, Kamila Andini sutradara film Indonesia, Thomas Barker, Ph.D ketua Media, Bahasa, dan Budaya di Nottingham University Malaysia, dan dimoderatori oleh Aninda Dewanti, S.IP., M.Sc. dari ISEA-Yusof Ishak Institute.“Seni tidak hanya untuk keindahan saja, tetapi seni juga memiliki makna yang lebih dalam. Seni berperan untuk menyuarakan yang tidak bersuara,” ucap Budi Irawanto.

Sesi panel ketiga mengangkat tema “Art(ist) and Change on the Scene of Crisis”. Melalui panel ini dijelaskan tentang bagaimana seni juga memiliki kekuatan untuk mendorong dinamika perubahan sosial politik di Asia Tenggara. Sesi ini diisi oleh Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang dosen Antropologi UGM, Dr. Eko Supriyanto S..Sn., M.F.A. Institute Seni Indonesia Surakarta, Gridthiya Gaweewong artist director di Jim Thompson Art Center Bangkok. Sesi ketiga ini membahas tentang bagaimana seni harus dapat beradaptasi di tengah pandemi.

SEA-MCA 2021 diikuti oleh lebih dari 150 peserta dengan 79 pembicara dari beragam akademisi dan seniman dari Indonesia, Filipina, Thailand, Hongkong, dan Singapura.

“Dengan adanya konferensi ini, diharapkan mampu melihat Asia Tenggara sangat dinamis melalui topik-topik yang membumi. Selain itu, melalui konferensi ini kita juga bisa memaparkan hasil riset dinamika sosial dan kebudayaan masyarakat di Asia Tenggara,” tutur direktur CESASS Hermin Indah Wahyuni (4/10).

Penulis : Panitia SEA-MCA 2021

Editor : Yufa/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here