Webinar Youth and SDGs Around the World dan Wake Up and Take Action: Membangun Critical Thinking dan Problem Solving Pemuda Untuk Berperan Dalam SDGs

Foto : Dok. panitia

AIESEC in UGM berhasil menyelenggarakan webinar dengan tema Youth and SDGs Around the World dan Wake Up and Take Action: Realize Issues Around You and Solve It with SDGs pada Minggu, 18 dan 25 Juli 2021. Webinar ini merupakan pre-event dari Project Plan Competition yang bertema SDGs Empire: Empower Yourself and Pioneer Youths through Revolutionary Solution, yang diadakan untuk membangun rasa berpikir kritis dan penyelesaian masalah (problem solving) dalam menghadapi masalah yang ada di sekitar dengan memanfaatkan SDGs.

Webinar pertama dengan tema Youth and SDGs Around the World, yang berlangsung pada Minggu, 18 Juli 2021 menghadirkan pembicara May Methavee, presiden AIESEC in Thailand dan Gubera Kumar, presiden AIESEC in Singapore. Dalam webinar ini, pembicara membahas bagaimana peran pemuda dalam merealisasikan SDGs dalam kehidupan. May Methavee mengambil fokus pada SDGs poin ke 4, yaitu kualitas pendidikan. Hal ini dijadikan fokus May, mengingat bagaimana pendidikan belum didapat secara merata di Thailand. Banyak siswa di Thailand tidak melanjutkan pendidikannya dan tidak banyak pula siswa di Thailand yang mahir berbahasa Inggris, padahal bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Oleh karena itu, ia mengajak pemuda-pemuda di Thailand untuk bergerak membawa perubahan. May berhasil mengirim lebih dari 400 relawan pendidikan ke kawasan pedesaan dan daerah terpencil di 5 provinsi untuk membantu mengajar bahasa Inggris.

Sedang Gubi, sapaan akrab Gubera Kumar, menggunakan SDGs untuk mengajak pemuda membantu meningkatkan pemerataan kualitas hidup masyarakat. Berkaca pada prinsip hidup orang Singapura, yaitu menghormati orang lain, Gubi menitikberatkan SDGs poin 8,10, dan 16 untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Poin 8 yang berfokus pada pemerataan pekerjaan dan kualitas perekonomian, poin 10 berfokus pada pengurangan ketimpangan dalam negara, serta poin 16 bertujuan untuk memberikan pemerataan akses dan inklusivitas terhadap keadilan bagi semua masyarakat dijadikan titik fokus Gubi untuk menggerakkan semangat pemuda dalam berperan untuk negaranya dan dunia.

Kemudian untuk webinar kedua dengan tema Wake Up and Take Action yang dilaksanakan pada Minggu, 25 Juli 2021 mengundang dua pembicara Fildzah Amalia, Coordinator Zero Waste Indonesia dan Alfaridz Rayhan, Co-Founder AjakGerak. Alfaridz memaparkan materi tentang pendidikan di Indonesia yang belum merata.

“Kompetensi pelajar dan pengajar di Indonesia masih sangat kurang menurut data. Padahal, pendidikan itu sangat penting karena merupakan kunci untuk keluar dari kemiskinan dan untuk mencapai kesetaraan gender.”

Oleh karena itu, Alfaridz mendirikan AjakGerak, platform yang difokuskan dalam bidang pendidikan untuk mempertemukan orang-orang yang ingin belajar dan mengajar.

Pembicara kedua, yaitu Fildzah memberikan materi tentang pentingnya mengurangi sampah yang digunakan sehari-harinya terutama sampah plastik. Sampah yang dihasilkan dari tiap individu berjumlah sekitar 0,7 kg/orang/hari yang 60% nya berupa sampah organik. Fildzah mengajak orang-orang untuk berpikir dua kali ketika ingin mengonsumsi sesuatu. Dengan metode prevention, rethink, refuse, reuse, reduce, rot, dan recycle, beliau berharap bahwa orang-orang akan sadar untuk mengurangi produksi sampah. Pengurangan produksi sampah dapat dilakukan dengan hal-hal kecil, seperti menghabiskan makanan, tidak rutin membeli pakaian, dan masih banyak lagi.

Webinar ini mengajak pemuda untuk memahami pentingnya peran mereka dalam menjadi promotor penggerak perubahan. Dengan memanfaatkan 17 poin SDGs, harapannya pemuda dapat lebih peka terhadap masalah di sekitar dan lebih kritis dalam menyelesaikan permasalahan tersebut untuk dunia yang lebih baik.

Penulis: Yufa/Bul

Editor: Aaliyah/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here