Berburu BTS Meal, Bagaimana dengan Prokes?

Ilus: Rinda/Bul

Sejak beberapa pekan lalu, Indonesia dihebohkan oleh peluncuran BTS Meal pada Rabu (9/6). BTS Meal menjadi viral di kalangan publik karena produk ini merupakan menu kolaborasi antara McDonald’s dengan salah satu idol group kondang asal Korea Selatan, yaitu BTS. Kolaborasi ini tentu memberi kebahagiaan yang luar biasa bagi kalangan Army Indonesia (sebutan untuk penggemar BTS). Tepat pada saat pembukaan pesanan dimulai, Army langsung berbondong-bondong memesan menu BTS Meal melalui layanan pemesanan daring seperti, GoFood, GrabFood, ShopeeFood, danjuga layanan pesan-antar milik McDonald’s. Hal tersebut terjadi karena pemesanan hanya dilayani via platform daring dan DriveThru. Akibatnya, setiap gerai McDonald’s di seluruh Indonesia langsung dibanjiri oleh orang-orang berjaket hijau dan oranye karena pesanan yang tidak berhenti datang. Konon, mereka rela mengantre berjam-jam demi memperoleh satu pesanan BTS Meal ini. Paket BTS Meal dibanderol dengan harga sebesar Rp50.000 berisi sembilan potong chicken nugget (McNugget), minuman berukuran medium, kentang goreng, serta Chili Sweet Sauce dan Cajun Sauce yang masing-masing dikemas dalam kemasan warna ungu sebagai ciri khas dari BTS. Kemudian, McDonald’s juga memberi satu buah paper bag terpisah berlogo BTS dan brand makanan cepat saji tersebut sehingga membuat menu ini menjadi lebih istimewa.

Tidak lama usai peluncuran BTS Meal, beberapa gerai McDonald’s terpaksa ditutup sementara oleh pihak berwajib. Pasalnya, antrean tersebut dianggap telah melanggar protokol kesehatan karena menimbulkan keramaian. Berdasarkan KRJogja.com, terdapat lima gerai McDonald’s di seluruh DIY yang menonaktifkan layanan pemesanan daring. Selain itu, Satpol PP DIY pun juga langsung mendatangi gerai-gerai McDonald’s dan meminta untuk segera melakukan pembubaran yang menjadi buntut dari kerumunan. Alih-alih menutup restoran, pihak berwajib hanya memberi surat peringatan. Langkah tersebut dipilih sebab McDonald’s di DIY menyatakan bahwa mereka tidak tahu menahu soal perizinan dan sekadar mengikuti program dari McDonald’s pusat.

Sementara itu, gerai-gerai McD yang berada di Semarang, Jakarta, dan beberapa kota lainnya diminta untuk mematikan sistem pemesanan secara daring dan menyelesaikan pesanan yang telah mengular panjang. Restoran juga diminta untuk tutup sementara karena membludaknya driver ojol yang memesan BTS Meal. Penutupan tersebut juga berperan sebagai peringatan terhadap pihak manajemen yang tidak memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Padahal maksud awal dari diberlakukannya pemesanan terbatas via daring adalah untuk mengantisipasi keramaian. Namun, rupanya hal tersebut tidak berjalan efektif dan malah terjadi sebaliknya.

Melihat dari fenomena ini, penting bagi pihak restoran untuk meminta izin pada pengurus setempat (DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)) jika akan mengadakan event atau peluncuran produk yang berpotensi menyebabkan keramaian. Disamping itu, pihak manajemen restoran harus menekankan penerapan protokol kesehatan untuk mengantisipasi risiko penularan COVID-19. Misalnya dengan memasang tanda jaga jarak pada antrean, mengatur waktu, lokasi, jumlah orang yang datang ke restoran cepat saji, serta bekerja sama dengan kepolisian dan Satpol PP untuk menjaga dan mengatur keramaian.

Penulis: Adiba Tsalsabilla
Editor: Esya Charismanda Puteri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here