Psychological First Aid, Pertolongan Pertama dari Repsigama untuk Korban Bencana di NTT

Ilus: Hana/Bul

Beberapa waktu lalu telah terjadi bencana di NTT. Beberapa tim relawan dari UGM turun langsung ke lokasi untuk membantu para korban.

Bencana dan Inisiatif UGM

Bencana alam datang tanpa pemberitahuan. Selain hilangnya harta benda bahkan nyawa, tak jarang bencana juga membawa suatu trauma mendalam bagi korban, tak terkecuali pada bencana yang baru-baru ini menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT). Sudah ada banyak pihak yang membantu bencana tersebut, termasuk Tim Disater Respons Unit (DERU) dan Tim Relawan Psikologi Gadjah Mada (Repsigama).

Mendengar bencana alam di NTT, pihak UGM memberikan bantuan berupa pengiriman relawan ke lokasi kejadian bersama pihak Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) yang memiliki organisasi dibawahnya yaitu Tim DERU. DPKM menerjunkan relawan dari Teknik Sipil dan Repsigama. Kedua tim berangkat untuk memberikan Training of Trainer (ToT) kepada mahasiswa IKIP Muhammadiyah Maumere dan Politeknik Negeri Kupang sebagai mitra dari UGM. Kegiatan ToT tersebut berupa training mengenai cara membangun hunian sementara menuju tetap (hutrap) kepada mahasiswa mitra di lokasi kejadian oleh dosen-dosen Teknik Sipil UGM dan psychological first aid oleh Repsigama.

Dukungan Psikologis Awal

Psychological first aid merupakan dukungan psikologis awal untuk meminimalisasi adanya dampak psikologis pada korban, termasuk korban akibat bencana. Psychological first aid bisa dilakukan oleh semua orang meski orang awam sekalipun. Dukungan psikologis awal ini dirasa sangat penting dilakukan bukan hanya pada kejadian pascabencana tetapi juga untuk orang-orang yang baru mendapat perubahan besar dalam hidupnya.

Pada bencana alam NTT, kegiatan ini juga disampaikan dalam training yang ditujukan kepada mahasiswa IKIP Muhammadiyah Maumere dan Politeknik Negeri Kupang. “Tujuannya adalah untuk mempersiapkan kembali jika suatu saat teman-teman di sana akan terjun sebagai relawan secara langsung sehingga mereka sudah tahu bagaimana cara mengajarkan dan mengaplikasikan psychological first aid kepada penyintas yang ada di sana,” ungkap Queenta Azzahra Mayo (Psikologi ’19), sebagai salah satu relawan yang terjun langsung ke lokasi. 

Mayo, sapaan akrab Queenta Azzahra Mayo, mengatakan bahwa awalnya Repsigama hanya diminta untuk melakukan ToT Psychological First Aid dan tidak menyangka akan diberi kesempatan untuk terjun langsung ke lokasi. “Jadi, sebelum kami berangkat, kami sudah menyiapkan beberapa kegiatan yang akan dilakukan jika kami mendapat kesempatan untuk terjun langsung ke sana,” tutur Mayo saat diwawancarai pada Rabu (5/5). Kegiatan di sana berlangsung selama 4 hari yaitu pada tanggal 28 April sampai 1 Mei dan pada hari ketiga, tim Repsigama mengunjungi Pulau Sabu yang letaknya cukup jauh dari ibu kota NTT untuk melihat keadaan yang ada di Pulau Sabu. Tidak ada banjir di Pulau Sabu tetapi angin kencang yang menerjang cukup untuk membuat keadaan sekitar tumbang. Fasilitas umum dan perumahan warga merupakan beberapa contoh yang terdampak. 

Selain memberikan ToT Psychological First Aid, Repsigama juga memberikan dukungan psikososial kepada teman-teman dan adik-adik di gereja di Pulau Sabu. Hal yang dilakukan berupa asesmen awal sekaligus permainan untuk mendistraksi teman-teman dari dampak badai kemarin. “Kegiatannya yaitu tim mengenalkan berbagai macam emosi yang ada banyak jenisnya dan mengajarkan adik-adik untuk menggambar bersama emosi yang ingin mereka gambar. Hal itu juga bisa menjadi salah satu kegiatan asesmen untuk mengetahui bagaimana situasi teman-teman di sana,” terang Mayo. 

Pengalaman Pertama

Kegiatan-kegiatan kerelawanan sudah banyak dilakukan oleh Repsigama. Namun, kegiatan ToT ini merupakan pengalaman pertama bagi Repsigama maupun Tim DERU. Biasanya, Tim DERU UGM atau Repsigama langsung menerjunkan relawan ke lokasi kejadian untuk bertemu langsung dengan penyintas, bukan memberikan training. “Misalnya ada bencana yang terjadi, kami hanya sebatas menggalang dana karena untuk penerjunan sendiri butuh proses yang sangat panjang dan persiapan yang sangat matang sehingga akan lebih baik jika bersama-sama dengan pihak universitas,” tutur Mayo. Meskipun baru pertama kalinya, Mayo mengaku banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini. 

Penulis: Nisa Asfiya/Bul

Editor: Shafira M./Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here