Peningkatan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Secara Daring Selama Pandemi Menjadi Sorotan

ilustrasi-kekerasan
ilus/bodhi

Perkembangan teknologi informasi merupakan bukti modernisasi sosial. Saat pandemi meletus, hampir semua aktivitas kita dibatasi dan terkonsentrasi di ruang virtual. Hal tersebut memicu peningkatan intensitas penggunaan platform digital, sehingga muncul perilaku abnormal dalam interaksi sosial di media sosial. Prasangka relasi kuasa juga sering digunakan oleh para pelaku KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) sebagai alat dengan memanipulasi persetujuan korban, salah satunya dengan menyebarkan konten yang intim dan tidak disengaja.

Definisi KBGO berdasarkan Komisioner Tinggi Persatuan Banga-Bangsa untuk Pengungsi merupakan kekerasan yang ditujukan secara langsung kepada orang berdasarkan seks, atau gender. Kekerasan ini termasuk perbuatan yang dapat mengakibatkan bahaya atau penderitaan fisik, mental atau seksual, ancaman, paksaan, dan penghapusan kemerdekaan.  

KBGO dapat disebabkan oleh faktor eksternal serta internal. Faktor eksternal diantaranya adalah budaya patriarki, lemahnya penegakan hukum dan kesadaran hukum, serta kenyamanan media sosial dan teknologi. Faktor internal meliputi hasrat seksual, kebutuhan akan uang, balas dendam dan kecemburuan. Hingga Mei 2020, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 892 kasus. Sepanjang 2019, jumlah ini menyumbang 63% dari total jumlah pengaduan. Jumlah kasus kekerasan di bidang online juga melebihi total tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa selama pandemi covid-19, perempuan menjadi semakin rentan.

Kekerasan ini merupakan serangan terhadap tubuh manusia, jenis kelamin, dan identitas gender yang dipromosikan melalui teknologi digital. Saat ini, kita dapat melihat bahwa cakupan internet telah meluas ke banyak bidang, dan perkembangan teknologi informasi menjadi semakin kompleks. Pengguna media sosial yang pasti semakin meningkat, dan pemahaman dan pemahaman penuh tentang keadilan gender tidak dapat mendukung hal tersebut. Justru hal ini sering disalahgunakan oleh tangan-tangan jahat di dunia maya. Orang-orang jahat ini berniat untuk memfitnah, menggulingkan, dan menghina korban atau lawan yang menjadi sasaran kejahatannya. Hal tersebut juga tak luput dari dampak psikologis jangka panjang yang tentunya akan mengubah kehidupan dan persepsi dari korban. KBGO telah menjadi masalah serius, dan pandemi covid-19 telah memperburuk situasi. 

Meningkatnya jumlah kekerasan berbasis gender online membuat United Nations Women prihatin dengan peningkatan eksponensial kekerasan berbasis gender dalam berbagai bentuk (termasuk kekerasan yang dipicu oleh teknologi komunikasi). Pemerintah harus menyediakan forum untuk membahas keseriusan masalah ini dan potensi jangka panjang untuk meningkatkan tindakan pencegahan selama pandemi covid-19, juga memberikan ruang aman bagi perempuan agar suara mereka bisa didengar. 

Kekerasan berbasis gender online dapat menghasilkan berbagai bentuk perlawanan dan pengaruh. Bentuk perlawanan korban termasuk menghadapi pelaku, marah kepada pelaku, menolak permintaan pelaku, memblokir akun pelaku, mengabaikan pelaku, mengklarifikasi akun palsu, dan menghina pelaku. Dalam hal ini, beberapa tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk melindungi privasi pribadi di dunia maya, salah satunya dengan menggunakan internet secara bijak, hingga menjaga keamanan akun pribadi untuk mencegah privasi orang lain. 

Akses internet yang inklusif dianggap sangat penting karena merupakan bagian dari hak setiap orang untuk menerima informasi dengan aman. Salah satu cara untuk mendapatkan keselamatan dan melindungi anak di dunia maya adalah dengan melindungi keselamatan anak saat berselancar di dunia maya melalui regulasi. Perempuan berhak atas kesempatan yang sama dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Referensi:
Muhammad Ahsan Ridhoi. 22 September 2020. Kekerasan terhadap Perempuan di Masa Covid-19 | Katadata. https://katadata.co.id/0/analisisdata/5f69619121b54/kekerasan-terhadap-perempuan-di-masa-covid-19. Diakses pada Jumat, 05 Maret 2021, pukul 14.07

Penulis: Sonia Valda Hersalenka & Najla Aprilia di Jogjana/ Bul
Editor: Hafis Ardhana/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here