AIR MATA DALAM PEMBERITAAN BENCANA

sumber: reuters.com

(Oleh: Nuraini I. P. Nugraheni, Editor: Esya Charismanda)

Tahun 2021 baru saja memulai perjalanannya, tetapi sudah banyak bencana terjadi selama bulan pertama di tahun baru ini. Menurut data BNPB per tanggal 21 Januari 2021 pukul 10.00 WIB terhitung sebanyak 185 bencana yang terjadi dari tanggal 1 Januari 2021. Melalui data tersebut, banjir merupakan bencana yang telah mendominasi wilayah Indonesia dengan total sebanyak 127 kejadian. Selain itu, ada 30 kejadian tanah longsor, 21 puting beliung, 5 gelombang pasang, dan 2 gempa bumi. Tak hanya itu, kecelakaan besar juga terjadi di awal Januari yaitu hilangnya kontak pada pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak setelah beberapa menit lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Tragedi Sriwijaya Air SJ 182 lantas santer diberitakan secara masif oleh media televisi, elektronik, maupun koran konvensional. Melalui kejadian tersebut lantas terdapat beberapa pemberitaan yang sepertinya dibuat hanya untuk menjadi ‘komoditas’ media itu sendiri. Pemberitaan tersebut ‘menjual’ air mata dari keluarga korban untuk menarik pembaca, serta penonton sehingga mendapat rating yang baik di televisi, atau yang nantinya akan diungah ke internet untuk menaikkan traffic. Kemudian pemberitaan tersebut akan menarik pembaca atau penonton karena adanya human interest melalui judul dan gambar yang disajikan.

Pemberitaan untuk menarik minat pemirsa yang dirasa kurang pantas ditunjukkan pada video yang diunggah kanal milik Tribun Timur. Terdapat seorang bapak sedang menangis histeris, tetapi justru diwawancarai dan diberi pertanyaan. Dengan tersedu-sedu, bapak yang bernama Yaman Zai menjawab pertanyaan wartawan bahwa ia kelihangan istri dan tiga anaknya. Berita seperti ini pun bisa dilihat pada laman megapolitan.kompas.com yang mengekspos tangisan keluarga pramugari maskapai Nam Air yang menjadi korban Sriwijaya Air SJ 182. Dalam berita tersebut media berfokus pada kondisi keluarga korban yang menangis histeris dan juga melanggar privasi keluarga tersebut dengan menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Hal ini sebenarnya tidak patut dilakukan karena media tidak berempati terhadap kesedihan keluarga korban dan malah menyorotnya. Selain itu, dengan menyebutkan alamat lengkap akan mengusik privasi keluarga korban dan dapat menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan kemudian hari.

Jika ditilik dari kode etik jurnalistik, sebenarnya dalam pasal 2 telah diatur cara-cara profesional wartawan dalam menjalankan tugas kejurnalistikan. Wartawan diharuskan menghormati hak privasi narasumber, sedangkan peliputan yang dilakukan di rumah keluarga korban dengan menunjukkan alamat lengkap sudah termasuk melewati batas privasi tersebut. Di samping itu, disebutkan pula pengaturan untuk menghormati pengalaman traumatik narasumber. Liputan yang menyajikan wawancara terhadap Bapak Yaman Zai yang sedang menangis merupakan contoh dari pengkhianatan pasal tersebut.

Selain kejadian di atas, terdapat artikel lain yang juga memberitakan tentang sosok pribadi korban yang bersumber dari sahabat korban. Seperti artikel berjudul “Pramugari Isti Yudha Prastika Korban Sriwijaya Air SJ-182 Dikenal Sebagai Sosok Humoris dan Dewasa” yang dimuat oleh tribunnews.com. Padahal dalam pasal 9 kode etik jurnalistik telah disebutkan bahwa wartawan harus menghormati kehidupan pribadi, kecuali untuk kepentingan publik. Sedangkan, artikel tersebut sebenarnya tidak ada korelasinya dengan kepentingan publik.

Pemberitaan yang berlebihan terkait kehidupan keluarga dan pribadi korban justru bisa menutupi berita-berita lain yang lebih penting untuk diungkapkan ke publik. Seperti pemberitaan penemuan lebih lanjut tentang fakta kecelakaan atau proses evakuasi dan investigasi terkait kecelakaan ini. Lagipula, pemberitaan tentang keluarga dan kehidupan korban dapat memperdalam kesedihan keluarga korban karena mengingat kejadian kecelakaan ini. Toh, apabila dilihat secara saksama pemberitaan tersebut juga tidak memiliki urgensi untuk diketahui publik.

Pranala luar:

Dewan Pers, 2011. Kode Etik Jurnalistik.
Diakses melalui: https://dewanpers.or.id/kebijakan/peraturan
[Diakses pada 30 Januari 2021].

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, 2021. Sebanyak 185 Bencana Terjadi Hingga Minggu Keempat Januari 2021.
Diakses melalui: https://bnpb.go.id/berita/sebanyak-185-bencana-terjadi-hingga-minggu-keempat-januari-2021
[Diakses pada 29 Januari 2021].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here