Diskusi Ringan Menilik Peran Musik Pergerakan dalam Negara Demokrasi

poster-event

Sintesa Diskusi Ringan (SINDIRAN) merupakan kegiatan yang diadakan oleh Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Sintesa sebagai bentuk diskusi terkait pembahasan isu yang saat ini sedang relevan. Acara ini sejatinya adalah bagian dari diskusi Sintesa yang bertujuan untuk mengembangkan wawasan, kekritisan, dan membangun dialektika baik civitas academica dalam lingkungan kampus maupun masyarakat umum. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (30/01) secara daring melalui platform Zoom.

SINDIRAN kali ini mengusung tema musik dan pergerakan. Tema tersebut diangkat karena bagi sebagian besar orang, musik telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Dalam perkembangannya, musik mulai bersuara tentang demokrasi, solidaritas, pergerakan, bahkan resistensi. Oleh karena itu, pada diskusi ini, Sintesa ingin mengulik lebih lanjut mengenai peran musik pergerakan dalam demokrasi Indonesia.

Pada diskusi ini, panitia mengundang beberapa narasumber yang berkecimpung dalam dunia musik sekaligus menjadikannya sebagai media pergerakan. Salah satu narasumber yang turut menyampaikan pendapatnya adalah Gusti Arirang yang merupakan vokalis Tashoora, sebuah band yang identik dengan kritik dan penyuara aspirasi rakyat. Salah satu karyanya berjudul Aparat menjadi pembuka dalam acara ini. Narasumber lainnya adalah dosen departemen sosiologi yaitu Dr Phill Oki Rahadianto serta Devananta Rafiq yang merupakan Alumni Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.

“Lagu pergerakan itu dibuat bertujuan agar isu-isu penting dapat dibicarakan banyak orang sehingga dapat menggiring opini publik. Harapannya akan lebih banyak dukungan terhadap perjuangan yang dituju hingga pemerintah bisa menemukan jalan keluar,” ungkap Gusti. Ia juga mengatakan bahwa Tashoora bermusik karena musik merupakan ruang yang aman untuk mengutarakan ekspresi dan tidak terlalu memikirkan tentang persaingan dunia musik.

Dalam sejarah Indonesia dapat diketahui bahwa musisi Indonesia banyak yang menggunakan karya seni sebagai alat bentuk pergerakan yang konteksnya untuk memperjuangkan keadilan. “Perubahan sosial tidak akan mengubah keadaan hanya dengan menulis lagu. Secara strategis musik dapat digunakan untuk bisa berekspresi pada perubahan,” ujar Oki. Acara diskusi ringan ini memunculkan beberapa pendapat mengenai peran musik dalam pergerakan karena dalam pemaknaan lagu tergantung dari siapa yang mendengarkan dan kondisi pendengar masing-masing. 

Acara yang diselenggarakan oleh LPPM Sintesa ini memberikan wadah diskusi bukan hanya untuk mahasiswa tapi juga masyarakat umum. Dialog yang disampaikan memberikan gagasan bahwa musik sebagai media pergerakan tidak hanya menjamur di tengah masyarakat tapi juga dipakai sebagai sarana pergerakan alternatif bagi mahasiswa. Menurut Rafiq, perlu banyak membuka ruang-ruang kritik baik lewat musik, demonstrasi, gambar, film, tarian, sosial media, dan lain sebagainya. “Kritik dapat dilakukan dimanapun tergantung pada berani tidaknya anak muda untuk mengeksplorasi musik dalam pergerakan dan keluar dari zona nyaman,” tambah Rafiq.

Penulis: Adelia Intan Puspitasari, Fitriani Arumningsih, Ufaira Rafifa Huda
Editor: Hafis Ardhana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here