Aksi Pasca Aksi: Masa Aksi Ditahan, Bangunan Rusak, Omnibus Jalan Terus

Foto: Yuniardo Alvarres/Bul

Gimana seandainya pak Amir ini punya anak, (sedang) kuliah, (dan) terjadi seperti ini, sebagai orang tua langkah sampean seperti apa? dia diem aja” ucap Supriyono, salah satu orang tua yang anaknya ditangkap dalam aksi Jogja Memanggil (8/10) menceritakan pengalamannya berargumen dengan salah seorang polisi yang berada di Portal Resmi Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta, dalam rilis pers Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Aksi Jogja Memanggil menciptakan berbagai respon pasca aksi. Sehari setelah aksi, geliat ekonomi kembali berjalan seperti sewajarnya di Malioboro. Sejumlah wisatawan terlihat mulai memenuhi area Malioboro. Di area gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), petugas mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) menyemprotkan disinfektan, beberapa petugas berjaga di depan gerbang yang sebelumnya sempat roboh. Seorang wisatawan menanyakan apakah hari ini aksi masih berlangsung kepada petugas, sambil tersenyum ramah petugas itu mengkonfirmasi bahwa aksi telah selesai.

Petugas dinas perhubungan berjalan menyusuri Malioboro, salah seorang dari mereka melakukan pendataan kerusakaan fasilitas umum diakibatkan aksi Jogja Memanggil yang lalu. Seorang kusir menyela kegiatan petugas dinas perhubungan, ia menyarankan perbaikan semacam saluran air yang digunakan untuk membersihkan kotoran kuda. Petugas dinas perhubungan mendengarkan saran kusir itu lalu mencatatnya di kertas.

Coretan-coretan bekas aksi masih banyak membekas pagi itu, dibeberapa sudut petugas sudah ditugaskan membersihkan coretan di fasilitas umum. Sebuah halte Trans Jogja yang dipenuhi coretan masih tetap beroperasi. Restoran Legian yang hangus terbakar diberi garis polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Ada yang mengatakan penyebab kebakaran disebabkan lemparan molotov, ada yang mengatakan kebakaran diakibatkan lemparan gas air mata yang salah sasaran, dan ada pula yang menyebut keduanya saling terkait. Sejumlah orang berhenti di depan restoran Legian, dan mengambil gambar.

Beberapa jam sebelumnya, puluhan video yang memperlihatkan ringkasan kejadian aksi tersebar di media sosial. Tagar dukungan bertebaran memenuhi timeline malam itu. Beberapa orang mulai menyadari kawan atau saudara mereka menghilang. Informasi beredar tentang kemunculan preman yang melakukan sweeping terhadap masa aksi. Komunikasi terputus. Kawan dan keluarga dibantu lembaga bantuan hukum (LBH) memenuhi Polresta Yogyakarta sejak malam tanpa kepastian.

“kita kesana sampai jam 2 pagi, baru dikasih datanya, jadi keluarga ini kumpul nungguin tidak tahu keberadaan anaknya, kerabatnya, gimana kondisinya, sudah makan apa belum, pakai baju apa. Tetapi kita ditahan tidak boleh masuk, tidak boleh mengetahui informasi dan tidak diberikan akses” kata perwakilan LBH Yogyakarta dalam rilis pers menggambarkan hambatan usaha advokasi yang dilakukan pasca aksi.

Sekitar 12 jam setelahnya, bersamaan dengan rilis pers dari kepolisian, seluruh masa aksi yang ditangkap dibebaskan kecuali 4 orang yang dituduh melakukan perusakan. Total 95 masa aksi diamankan di polresta Yogyakarta, diantarnya 36 orang mahasiswa, 32 pelajar, 16 wiraswasta, dan 11 pengangguran. Dari total 95 orang yang diamankan diketahui 1 orang reaktif covid 19, setelah dilakukan rapid test.

Aksi menolak omnibus law yang berujung ricuh mendapat respon kecaman dari banyak pihak, buntutnya muncul aksi demo menolak demo yang dilakukan di Malioboro. Respon keras juga memenuhi media sosial tentang aksi anarkis yang terjadi, ada yang mendukung, ada yang menganggap respon ini adalah kesalah pahaman. Sultan Hamengkubuwono X juga turut bersuara perihal aksi, ia menyebut kerusuhan dalam aksi ini by design dan bukan kepentingan buruh. Atas aksi ini pula Sultan menyanggupi beberapa tuntutan dari buruh yang ditemuinya secara tertutup di kraton, salah satunya melanjutkan surat berisi mosi tidak percaya kepada presiden Jokowi.

Saat aksi berlangsung, sejumlah pedagang yang berlokasi disekitar titik 0 masih buka, tetapi kebanyakan lapak yang berada di sekitar pusat aksi terpaksa tutup. Wisatawan juga masih terlihat meskipun dari arah gedung DPRD sudah terlihat asap putih yang mengepul. Di depan gedung DPRD seorang pedagang ngedumel diantara masa aksi, matanya berkaca-kaca, ia bilang baru mulai kembali berdagang setelah vakum beberapa bulan terdampak pandemi. Hari itu ia harus menutup lapaknya kembali.

Saat itu Malioboro menjadi ruang interaksi yang unik. Orang-orang yang bertempat tinggal di Malioboro, mengintip dari balkon lantai 2 rumahnya. Ambulans dan skuter yang dimodifikasi menjadi transportasi medis berseliweran. Bunyi dentuman dan sirine saling bersautan. Mall berubah menjadi shelter perlindungan. Beberapa saat  suasana kembali tenang, masa kembali berkumpul, kemudian suasana kembali kacau. Rentetan itu terjadi beberapa kali, bahkan setelah sejumlah masa aksi dikoordinir untuk mundur sekitar pukul 17.00 WIB.

Minggu (11/10) aksi konsolidasi kembali direncanakan digelar di Bonbin, Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan yang rencananya dilaksanakan pukul 16.00 WIB mendapat halangan dari pihak kampus. Gerbang masuk kampus dijaga dan diblokade oleh Satuan Keamanan dan Keselamatan Kampus (SKKK). Hal ini disinyalir berhubungan dengan himbauan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam 7 poin yang disampaikan dalam surat kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2 diantaranya mendapatkan sorotan. Dalam poin nomor 4 disampaikan tentang himbauan mahasiswa untuk tidak turut serta dalam kegiatan demonstrasi yang membahayakan keselamatan dan kesehatan di masa pandemi. Sementara poin nomor 6 menginstruksikan para dosen untuk senantiasa mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dalam mengkritisi UU Cipta Kerja, maupun produk kebijakan lainnya dan tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti/mengadakan kegiatan demonstrasi yang membahayakan keselamatan dan kesehatan mahasiswa.

Sampai hari ini (13/10) gelombang aksi di berbagai daerah masih terus terjadi. Berbagai himbauan juga dikeluarkan untuk mencegah kerusuhan makin meluas. Respon pasca aksi yang paling ditunggu-tunggu mungkin respon terhadap peraturan omnibus law yang menjadi pertentangan utama dalam serangkaian kejadian yang terjadi.

Penulis: Yuniardo Alvarres/ Bul
Editor: Hafis Ardhana/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here