Solidaritas Angkatan di Tengah Pandemi Covid-19

Ilus: Tiara/Bul

Solidaritas menjadi kebutuhan bagi angkatan mahasiswa di setiap fakultas Universitas Gadjah Mada. Pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Keberagaman sifat dan karakter memperkaya solidaritas antar mahasiswa untuk mewujudkan keharmonisan. Solidaritas menjadi hal yang sangat penting dalam setiap angkatan karena pada dasarnya solidaritas selalu mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Angkatan akan tetap ada jika dalam kelompok angkatan memiliki rasa solidaritas di antara anggota-anggotanya.

Dalam buku Teori Sosiologi Klasik dan Modern (1994) karya Doyle Paul Johnson, solidaritas merujuk pada suatu hubungan antara individu dan/atau kelompok yang berdasarkan pada moral dan kepercayaan yang dianut bersama, serta pengalaman emosional bersama (Gischa, 2019). Solidaritas yang dipegang, yaitu kesatuan, persahabatan, rasa saling percaya yang muncul akibat tanggung jawab bersama, dan kepentingan bersama di antara para anggotanya. Jika di dalam suatu angkatan atau kelompok saling percaya satu sama lain, mereka akan membentuk persahabatan, menjadi saling menghomati, terdorong untuk bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan bersama.

Di masa pandemi ini, semua kegiatan akademik dan non akademik dilaksanakan sepenuhnya secara daring. Seluruh kegiatan yang sudah dijadwalkan sebelumnya oleh angkatan mahasiswa pun terpaksa ditunda, dilaksanakan secara online, atau bahkan dibatalkan. Hal tersebut membawa dampak positif dan negatif. Bima Surya Adi mahasiswa angkatan 2019 dari Sekolah Vokasi Teknik Mesin mengatakan, “dampak negatif adanya pandemi ini angkatan jadi nggak bisa ketemu secara langsung, sharing-sharing, dan nongkrong-nongkrong gitu. Terkait sama mata kuliah juga berpengaruh sama kesolidan angkatanku. Yang biasanya kita biasa kerja kelompok, tapi sekarang jadi terhambat. Kalau dampak positifnya kita bisa lebih kuat ldr-an.”

Sedangkan menurut Rohmah Yuni mahasiswi Fisipol jurusan MKP 2019, “kesolidan di angkatanku jadi kurang terasa karena nggak ada interaksi secara lansung di antara kita. Yang sebelum Covid-19 bisa pergi ke kampus ketemu teman-teman dan nongki sambil diskusi bareng, selama pandemi ini kita berinteraksi hanya secara online, paling cuma lewat Whatsapp dan itu pun nggak setiap hari.”

Membangun solidaritas angkatan di masa pandemi dapat dilakukan dengan saling mengingatkan kepada teman angkatan untuk selalu menjaga kesehatan, menggunakan masker ketika keluar rumah atau di tempat kerumunan, jaga jarak, tetap rajin berolahraga dan sering mencuci tangan, serta membagikan berita atau konten yang positif dalam grup angkatan di media sosial. Berinteraksi secara daring dengan video call melalui Line, Webex, Zoom, dan lain sebagainya juga menjadi salah satu cara meningkatkan hubungan pertemanan. Bima juga mengatakan, “angkatanku agar tetap solid, dengan tetap berhubungan secara online. Dari kegiatan resmi sampai inisiatif dari teman-teman angkatan secara dadakan untuk ngobrol dalam bentuk daring.” Rohmah juga berkata, “untuk mempererat solidaritas pertemanan, diaplikasikan melalui game online. Di sini kita bisa seru-seruan bareng.”

Dari semua kegiatan tersebut, angkatan dapat meningkatkan rasa solidaritasnya dalam bentuk kesatuan, persahabatan dan rasa saling percaya yang muncul akibat tanggung jawab bersama melalui kegitan secara resmi, serta kepentingan bersama. Hal tersebut muncul secara disadari maupun tidak disadari oleh setiap anggota dalam angkatan. Setiap angkatan pun memiliki cara yang berbeda-beda dalam membangun dan meningkatakan rasa solidaritas di masa pandemi Covid-19.

Referensi:

Serafica Gischa. (2019). Teori Solidaritas, dari Mekanik hingga Organik. Diakses pada 14 Juni 2020 melalui https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/18/190000069/teori-solidaritas-dari-mekanik-hingga-organik?page=all.

Penulis: Mey Wulandari/Bul
Editor: Anisah Nur Shafiyah/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here