Distance Learning: Lika-liku Baru Mahasiswa UGM

distance-learning
Ilus: Anam/Bul

Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup mengejutkan bagi kita semua. Pasalnya, pandemi Covid-19 yang terjadi pada awal tahun memaksa kita semua untuk mengubah cara hidup kita dengan cara yang baru. Larangan untuk berkumpul secara fisik demi menghambat penyebaran virus mengakibatkan masyarakat harus diam dan bekerja dari rumah. Tidak dapat dipungkiri, aspek pendidikan mendapatkan dampak yang besar dari larangan ini. Ruangan kelas belajar mengajar yang senantiasa diisi sehari-hari oleh mahasiswa menjadi hampa, dialihkan menjadi layar perangkat di rumah. Universitas Gadjah Mada serempak melaksanakan distance learning.

Distance learning, dikutip dari Oxford Languages (2020), merupakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan dari rumah melalui situs daring. UNESCO telah menganjurkan pemerintahan tiap negara untuk melaksanakan dan mendukung berjalannya distance learning dengan menyediakan sumber pendidikan pada webnya. Sumber pendidikan ini berupa pranala-pranala yang dikumpulkan dan berisi berbagai macam materi. Dengan fasilitas yang diberikan, diharapkan distance learning dapat dilakukan secara efektif.  Maka, atas anjuran tersebut, berjalanlah distance learning hampir satu semester lamanya.

Distance learning tentu menuai banyak pro kontra dari para mahasiswa. Banyak mahasiswa berpendapat bahwa distance learning memang jauh lebih fleksibel daripada kuliah pada umumnya. Mereka mengatakan bahwa kuliah terasa lebih efisien karena bisa disambi. Mereka dapat kuliah sembari makan ataupun minum. Mahasiswa pun terkadang merekam kelasnya sehingga materi kuliah dapat ditonton kembali. Terlebih lagi, mahasiswa tidak perlu menghabiskan tenaganya datang ke kampus atau berpindah-pindah kelas, bahkan memikirkan untuk bersiap-siap memakai baju apa.

Di sisi lain, banyak mahasiswa yang terlena dengan rasa nyaman yang diberikan oleh tempat tinggalnya. Godaan untuk rebahan yang kadang tidak bisa dibendung menjadikan prolog mahasiswa untuk tertidur saat kelas. Terkadang, mahasiswa bahkan bangun menjadi salah satu akun yang masih bertahan saat dosen dan teman kelasnya sudah pergidari laman. Kenyamanan ini pula terkadang menjadi bumerang bagi mahasiswa untuk berkonsentrasi belajar ataupun menggarap tugas, yang berakhir dengan ketidakproduktifan. Dosen pun cenderung memudahkan penilaian mahasiswa hanya dengan memberi tugas dan tugas, namun terasa kurang sarat dengan pemahaman materi. Beberapa jurusan yang mengharuskan adanya praktikum, harus menggantikannya dengan hanya mengamati cara kerja sesuatu melalui video dan menyelesaikan banyaknya laporan. Mahasiswa cenderung lebih stres dan kelelahan karena merasa kesepian. Mereka yang terbiasa bertemu teman saat ke kampus, harus kehilangan hal-hal kecil yang ternyata bermakna bagi mereka saat ini.

Sedihnya, bagi sebagian mahasiswa, untuk menuntut ilmu secara daring pun masih sulit karena fasilitas yang mereka miliki terbatas. Sulitnya jaringan ataupun jumlah kuota yang tidak menyukupi menjadi kendala terbesar bagi mereka. Bahkan, beberapa mahasiswa tidak memiliki perangkat yang memadai. Jangankan untuk mengikuti kelas daring, untuk mencari materi pun banyak dari mereka yang kesulitan. Cukup sulit untuk merasakan kesetaraan dan memberikan bantuan dengan tepat secara keseluruhan bagi mereka yang membutuhkan.

Adanya lika-liku yang telah dirasakan, tentu membuat distance learning menjadi kejutan besar bagi para mahasiswa. Sejak distance learning pertama kali dilaksanakan di hampir seluruh universitas, hal tersebut memberikan kesan yang berbeda-beda di tiap individunya. Namun apabila ditelusuri kembali, sebenarnya kita belum siap menghadapi distance learning. Selain kurangnya penunjangam fasilitas mahasiswa, minimnya publikasi mengenai regulasi diri untuk menjaga kesehatan mental seakan-akan tak dihiraukan.  Apalagi, sangat diperlukan adanya evaluasi mengenai sistem yang sekiranya memberikan efek mutualisme bagi mahasiswa dan dosen. Sehingga, proses belajar mengajar serta keakademikan tidak memberatkan salah satunya saja. Di sisi lain, kita dapat mengevaluasi secara pro aktif dari semester sebelumnya, supaya kita dapat menjalaninya dengan lebih baik.

Referensi:

Distance Learning. (2020). Dalam Oxford Learning Dictionaries. Diakses pada 5 Juni 2020

melalui https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/

distance-learning?q=distance+learning

UNESCO. (2020). Education Response to COVID-19 in the Caribbean. Diakses pada 6 Juni

2020 melalui https://en.unesco.org/covid19/educationresponse/solutions

Penulis: Nur Auliya/Bul
Editor: Insania Wahyu Nirwana/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here