Menilik Kabar Keberlangsungan Kantin Bonbin

Foto. Wujud warung bersama Pak Surono (Jus dan Salad), Yu Par (Soto), dan Pak Wiwi (Minuman). //Zaky B, Redaksi

Sudah lebih dari lima bulan kegiatan perkuliahan tatap muka ditiadakan. Pandemi telah memaksa seluruh aspek di dalam kampus untuk melakukan adaptasi, tidak terkecuali kantin kampus. Sejak perkuliahan daring diberlakukan, para pemilik kantin yang biasanya memiliki pelanggan tetap dari kalangan mahasiswa, karyawan, maupun dosen terpaksa meninggalkan kampus untuk sementara waktu.

Survival Pedagang Kantin Bonbin

Sebagian penjual ada yang mencoba berjualan secara online dengan bekerja sama dengan jasa ojek online. Sebagian yang lain memilih untuk menyewa tempat yang tidak jauh dari kampus untuk berjualan, seperti yang dilakukan oleh Surono beserta beberapa rekan sesama penjual di Kantin Bonbin dalam dua bulan terakhir ini.

Surono menyewa sebuah tempat yang berlokasi di luar wilayah kampus bersama dua pedagang lainnya yang dulu juga berjualan di Kantin Bonbin. Hal tersebut dilakukan agar biaya sewa yang dikeluarkan lebih ringan, ia berbagi lapak dengan Yu Par yang berjualan soto dan Pak Wiwi yang menjual minuman. Surono mengakui bahwa hal itu ia lakukan karena belum ada kepastian dari pihak kampus. “Karena belum ada kepastian dari UGM boleh jualannya kapan, kalau kita terusin sudah terlalu lama,” jelas Surono. Dirinya dan para pemilik kantin lainnya masih menunggu adanya edaran terkait tanggal resmi tentang perizinan untuk kembali berjualan di kantin. Diakui oleh Surono bahwa saat ini warungnya belum ramai pengunjung karena banyaknya mahasiswa yang pulang kampung.

Menunggu Kepastian

Selama masa penantian ini, para penjual di kantin juga dibekali dengan pelatihan yang diselenggarakan melalui webinar. Selain itu, untuk menghadapi kondisi baru pasca pandemi ini, para penjual di kantin kampus juga sedang menunggu informasi lebih lanjut terkait kebijakan dan protokol kesehatan yang dibuat oleh pihak kampus melalui pelatihan yang dibuat. “Nunggu protokol dari pihak kampus dan juga ada pelatihan-pelatihan dulu melalui webinar dari PPSTG, selama ini ada pelatihan dulu, ketika masuk tidak seperti dulu, kan ada protokol buat baru dari pelatihan tersebut dan bakal mendapat sertifikat juga,” ungkap Surono.

Sebagai pemilik kantin yang menjual salad dan sop buah, Surono sebenarnya berharap agar ia dan penjual lainnya bisa segera berjualan di kampus seperti sedia kala. Menurutnya, adanya kantin di kampus justru bisa lebih aman dan lebih tidak berisiko daripada karyawan dan mahasiswa membelinya di luar lingkungan kampus. Hal itu dikarenakan pengadaan kantin di kampus dapat diawasi secara langsung oleh pihak kampus dan dilengkapi dengan protokol kesehatan yang memadai.

Saat ini mereka sedang menunggu adanya keputusan resmi dari pihak kampus melalui rapat antardekan di tiap fakultas. “Kami menunggu rapat dekan fakultas. Kalau kantin di Fisipol, Hukum, FEB sudah buka, mungkin kita juga akan mulai buka,” ungkap Surono.

Penulis : Zaky B/Bul
Penyunting : Hafis Ardhana/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here