Beratnya Membayar UKT bagi Mahasiswa Kelas Menengah

Ilus: Dimas Satriawan/Bul

Kesadaran akan pentingnya pendidikan telah dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Akan tetapi, sering kali kesadaran tersebut tidak disertai dengan kondisi yang memadai, terutama dari segi finansial. Perguruan tinggi menjadi salah satu jenjang pendidikan yang dirasa cukup penting karena pendidikan ini memberi skill dasar secara spesifik di bidang yang diminati siswa. Hal ini mengakibatkan pemuda Indonesia dari kalangan mana pun berusaha sebaik mungkin untuk mendapat pendidikan di PTN maupun PTS.

 Pendidikan di universitas tentu saja menuntut biaya yang mahal. Bahkan, Universitas Gadjah Mada yang sudah disebut-sebut sebagai universitas kerakyatan pun tetap memiliki kewajiban UKT yang dapat dibilang tinggi. Tidak dapat dielakkan, hanya mahasiswa dengan taraf ekonomi relatif tinggi yang bisa menyebut tarif UKT “merakyat”. Universitas memang menyediakan bantuan seperti Bidik Misi bagi mahasiswa kalangan bawah, tetapi bagaimana dengan nasib mahasiswa kelas menengah? Dibilang miskin tidak, tetapi masih sangat jauh untuk dibilang kaya.

Memiliki orang tua dan/atau wali dengan gaji stabil seperti PNS seakan-akan membuat mahasiswa kelas menengah terlihat sangat berkecukupan untuk membayar UKT. Kenyataannya, gaji mereka tidak semuanya tinggi, masih banyak pegawai yang memiliki gaji pas-pasan. Padahal dengan gaji orang tua yang seadanya, bukan hanya UKT yang perlu dibayar, tanggungan biaya hidup seperti makan, transportasi, bensin, juga kebutuhan pendidikan yang tidak ter-cover UKT (mencetak tugas, gawai, penelitian, dll.) tetap perlu dipenuhi. Belum lagi jika mahasiswa tersebut merantau, memiliki banyak saudara, atau terdapat utang keluarga. Selain itu, banyak beasiswa yang mengutamakan mahasiswa kelas bawah. Hal ini membuat kemungkinan mahasiswa kelas menengah mendapat beasiswa relatif kecil, padahal ada sebagian kalangan menengah yang juga membutuhkannya. Alhasil, banyak mahasiswa yang memenuhi waktunya dengan kerja sambilan. Waktu yang penuh untuk bekerja akhirnya menyita waktu belajar. Jangankan mengikuti banyak organisasi, waktu mereka lebih berharga untuk istirahat dari lelahnya bekerja sambil memenuhi tugas kuliah. Rasa iri sering kali mereka taruh pada mahasiswa kelas bawah yang menjalani perkuliahan dengan adanya bantuan Bidik Misi dan beasiswa lainnya.

Menyikapi hal tersebut, pihak universitas perlu lebih bijak dalam menentukan penggolongan UKT. Universitas wajib mengetahui betul kebutuhan pengeluaran keluarga mahasiswa, orang yang ditanggung, juga pengeluaran pokok lainnya sehingga mampu menggolongkan sesuai dengan kemampuan mereka. Transparansi dasar penggolongan dan alokasi UKT juga perlu dipaparkan agar tidak terus terjadi kesalahpahaman. Pemanfaatan UKT hasil jerih payah mahasiswa semestinya digunakan semaksimal mungkin dalam fasilitas yang dapat dirasakan secara signifikan. Pihak pemberi bantuan beasiswa juga perlu lebih mengobservasi mana yang benar-benar membutuhkan dan memenuhi kualifikasi yang dituntut, tidak hanya mengurutkan prioritas berdasarkan rendahnya nominal penghasilan dalam slip gaji.

Sebenarnya, tidak ada jalan keluar lain bagi mahasiswa kelas menengah selain menjadi orang cerdas. Cerdas bukan hanya dalam hal akademik, tetapi juga cerdas dalam mencari kesempatan. Banyak trik dalam mengejar beasiswa, salah satunya adalah mengincar beasiswa berbasis prestasi atau soft skill seperti Tanoto, Djarum, dan Bank Indonesia. Jika tidak berhasil mendapat beasiswa, kerja sambilan adalah opsi yang bagus untuk mendapatkan pengalaman sekaligus uang tambahan. Jika memungkinkan, perlu diupayakan untuk mencari pekerjaan sambilan yang sejalan dengan bidang konsentrasi seperti guru les privat, desainer, asdos, atau penjaga perpustakaan yang di sela waktunya dapat dijadikan waktu membaca dan belajar.

Ketidakadilan tentu saja akan terus ada, tidak dapat hilang seluruhnya. Oleh sebab itu, daripada mengeluhkan hal tersebut lebih baik berfokus memotivasi diri untuk mencari jalan dan meningkatkan kualitas diri sendiri. Kita perlu meyakinkan diri bahwa tiap orang memiliki jalannya masing-masing yang perlu diusahakan dengan sebaik mungkin.

Penulis: Sekar Budi Dewani/Bul
Penyunting: Rafie Mohammad/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here