Tuntutan Penurunan UKT Melalui Aksi Melayat Gadjah Mada

Rabu sore (15/7), puluhan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM dan Aliansi Pascasarjana UGM mendatangi Gedung Rektorat UGM untuk menuntut keringanan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT). Aksi yang dilakukan di tengah pandemi COVID-19 mengharuskan mahasiswa tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan mengatur jarak aman.

Longmars aksi berjudul “Melayat Gadjah Mada” di mulai dari Kantin Bonbin menuju Bundaran UGM pada pukul 14.00 WIB. Setelah beberapa waktu berorasi di Bundaran UGM, longmars kembali dilakukan menuju Gedung Rektorat UGM melalui Jalan Persatuan. Kedatangan massa aksi ke Gedung Rektorat UGM telah dijaga oleh petugas Satuan Keamanan dan Keselamatan Kampus (SKKK). Petugas SKKK mempersilakan seluruh mahasiswa aksi masuk ke halaman Gedung Rektorat UGM dengan tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19 melalui cek suhu tubuh dan mencuci tangan terlebih dahulu.

Atribut aksi berupa keranda hitam dan banner berisi tuntutan mahasiswa diletakkan di depan Gedung Rektorat UGM sebagai lambang matinya status kampus kerakyatan. Aksi dilanjutkan dengan orasi dari perwakilan masing-masing aliansi. Pada setiap orasi, mahasiswa terus berapi-api dalam menyampaikan tuntutan keringanan tarif UKT, transparansi keuangan, dan kepedulian UGM di masa pandemi COVID-19. Terdapat 6 pokok tuntutan dalam aksi Melayat Gadjah Mada antara lain:

1. Menurunkan tarif UKT pada seluruh mahasiswa berdasarkan persentase tertentu, sebagai akibat dari turunnya biaya operasional perkuliahan karena penerapan kuliah daring dan jatuhnya daya beli masyarakat secara umum karena pandemi COVID-19;

2. Menjamin keringanan UKT bagi mahasiswa yang terinfeksi maupun yang ekonominya terdampak COVID-19, dengan persentase keringanan yang sesuai dengan dampak yang diterima mahasiswa;

3. Melibatkan unsur mahasiswa dalam proses verifikasi keringanan dan penyesuaian UKT;

4. Membebaskan UKT bagi mahasiswa yang hanya menempuh tugas akhir;

5. Menjamin tidak ada pungutan lain di luar UKT;

6. Melakukan realokasi keuangan UGM untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar daring.

Sayangnya usaha mahasiswa untuk menemui Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng tidak membuahkan hasil. Pihak Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM yang menemui mahasiswa menjanjikan untuk mengatur pertemuan dengan rektor melalui daring. Hal tersebut ternyata berlainan dengan keinginan dari peserta aksi, sebab sebelumnya aliansi dari mahasiswa Pascasarjana telah berulang kali mengadakan audiensi daring kepada rektorat namun tuntutan yang diajukan belum dapat terpenuhi. Oleh karena itu, massa aksi masih mempertahankan tuntutannya untuk bertemu dengan pihak rektorat secara luring.

Penulis: Hafis Ardhana/ Bul
Penyunting: Rafie M/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here