Penyakit di Balik Kuliah Online

Ilus: Devina/Bul

Dampak wabah penyebaran virus corona (Covid-19) telah meluas sampai ke berbagai sektor, salah satunya sektor pendidikan. Guna mengurangi penyebaran sekaligus dampak wabah virus corona, berbagai kebijakan dari perguruan tinggi dirumuskan, diputuskan, dan dilaksanakan. Hal ini pun terjadi pada salah satu perguruan tinggi di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada.

Sebagai tindak lanjut sekaligus untuk mencegah penyebaran wabah virus corona, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, telah mengeluarkan Surat Keputusan terkait pandemik ini. Dikutip dari detikNews (03/20), UGM telah memberlakukan status siaga Covid-19 sebagai tindakan lanjutan Surat Edaran Nomor 1285/UN1.P/SET- SR/TR/2020 tentang Kewaspadaan terkait COVID-19. Tindakan ini juga dilakukan untuk menanggapi perkembangan penyebaran wabah COVID-19 yang terjadi di berbagai negara, status pandemik oleh WHO, dan kondisi penyebaran di wilayah DIY. Setelah dikeluarkannya surat keputusan tersebut, hampir seluruh civitas akademik termasuk mahasiswa mulai melakukan aktivitas terkait akademik, pekerjaan, atau perkuliahan secara online. Bentuk perkuliahan ini juga menjadi kontribusi UGM kepada perilaku work from home (WFH) yang sangat menganjurkan masyarakat beraktivitas di rumah untuk mencegah penularan virus.

Perkuliahan secara online termasuk salah satu perubahan terbesar yang dilakukan oleh UGM dalam menangani wabah Covid-19. Dalam laman resmi Universitas Gadjah Mada, tercatat hingga Rabu, 17 Maret silam, kegiatan kuliah online sudah diikuti 23 ribu mahasiswa dengan 3.180 sesi perkuliahan. Namun demikian, kegiatan kuliah online di tengah wabah wabah virus corona ini dinilai sebagai momentum sekaligus tantangan, salah satunya oleh Kepala Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM, Dr. Hatma Suryatmojo. Beliau mengatakan bahwa UGM telah menyediakan layanan belajar online sejak 2017 dan telah melakukan sosialisasi kepada para pengajar mengenai perkuliahan online. Beliau juga berpendapat bahwa secara umum, mahasiswa tidak mengalami kendala dalam belajar online karena telah akrab dengan teknologi. Namun, masalah yang berpotensi muncul adalah perihal kuota internet yang dibutuhkan untuk mengakses kuliah secara online.

Sejatinya, kuliah online adalah solusi untuk menghindari penyebaran wabah virus corona di lingkungan perguruan tinggi. Namun, coba kita lihat realitanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata banyak kendala baru yang datang setelah diberlakukannya kuliah online. Berbagai masalah mulai muncul di kalangan mahasiswa: layanan perkuliahan yang asing, koneksi internet tak stabil, dan mahalnya biaya kuota. Masalah yang muncul tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga psikis. Sebagian mahasiswa merasa kurang nyaman dengan metode kuliah online, sehingga perhatian yang diberikan pun berkurang. Selain itu, situasi wabah yang mengurung mahasiswa di rumah juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dalam mengikuti kuliah. Kekurangan interaksi sosial dengan teman, kekhawatiran akan wabah yang panjang, dan kondisi keluarga masing-masing dapat berpengaruh besar pada mahasiswa, sehingga berdampak pada perkuliahan.

Masalah tidak hanya bersumber dari mahasiswa, melainkan juga dari bentuk perkuliahan itu sendiri. Sebagian mata kuliah tidak berlangsung dengan semestinya. Banyak mahasiswa mengeluh bahwa perkuliahan yang seharusnya tetap mengandung interaksi dosen dan mahasiswa berubah menjadi penugasan. Hal ini dinilai memberatkan mahasiswa, terlebih dengan jumlah yang banyak dan deadline penugasan yang dianggap terlalu cepat dan berhimpitan. Mahasiswa yang seharusnya dapat menjaga imunitas dan kesehatan tubuh, malah bisa rentan terhadap penyakit karena menyelesaikan tugas yang bisa memakan waktu sampai larut malam.

Rasanya ironis bahwa kebijakan kuliah online yang dilakukan untuk mencegah penyebaran sebuah penyakit, lama kelamaan mulai menimbulkan penyakit tersendiri. Bila berbicara soal efektivitas kuliah online, mungkin dapat dikatakan efektif untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam menjalankan program WFH dan physical distancing sebagai penanganan wabah virus corona. Namun, dengan kendala-kendala yang ada, perlu adanya pembenahan. Pembenahan baik dari perguruan tinggi maupun dari pihak pendukung seperti penyedia jasa internet, perusahaan komunikasi, dan yang terkait lainnya.

Penulis: Anugrah Maulana Fadhli/Bul
Editor: Nabila Rana Syifa/Bul

Referensi:

Gusti. (2020). “Kuliah Online UGM Sudah Diikuti 23 Ribu Mahasiswa” Diakses melalui https://sahabat.ugm.ac.id/fo/berita/detail_berita/umlOu-Ox3H0QiaA53PAbw-MLsLSujtbo5Ti2vNwOBlyJPu4FDkhhXrsL2tZAJfHdiX_cZXBZRUsVe-IEfXtKL_HCpCUpYsiF_NS9PzPqiB_JPW0OVRxkdV6x4brCSEiUWXsb03seAogsACXou-8fDi18aQqrrB2j6z6lrtTUZ5s=

Pertana, Pradito Rida. (2020). “Tetapkan Status Siaga Corona, UGM Berlakukan Kuliah Online” Diakses melalui https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4938986/tetapkan-status-siaga-corona-ugm-berlakukan-kuliah-online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here