Apa Kata Mereka Tentang Praktikum Jarak Jauh?

Sejak dikeluarkannya Surat Edaran Rektor No. 1604/UN1.P/HKL/TR/2020 mengenai kesiapsiagaan dan pencegahan penyebaran COVID-19 yang membatasi kegiatan perkuliahan di lingkungan UGM, beberapa fakultas mengeluarkan kebijakan untuk menyelenggarakan praktikum jarak jauh secara online atau daring sebagai pengganti praktikum tatap muka yang biasa dilakukan.

Hal ini pada awalnya mengundang banyak pertanyaan besar di benak mahasiswa karena tentu ini merupakan kali pertamanya mereka menjalani praktikum jarak jauh selama menjalani perkuliahan. Praktikum yang identik dengan laboratorium dan alat-alatnya, pengamatan dan pengambilan data langsung ke lapangan, laporan praktikum berlembar-lembar yang ditulis tangan, kini harus dilaksanakan di rumah masing-masing dengan segala keterbatasan. Kira-kira, bagaimana kesan dari teman-teman mahasiswa yang telah melaksanakan praktikum ­online terkait hal ini? Berikut kami kumpulkan apa kata mereka tentang praktikum jarak jauh.

“Menurut aku, kalau dibandingin sama praktikum biasanya yaa … kurang efektif, soalnya lebih membingungkan gitu. Apalagi kalau ada praktikum yang harus liat preparat, walaupun udah ditunjukkan lewat video tetapi masih belum jelas. Selain itu, koneksi pada hal ini juga sangat menentukan. Kasihan beberapa temenku nilainya jelek dikarenakan koneksi yang nggak stabil dan hal semacam itu nggak ditoleransi oleh dosen. Sarannya, prodi hendaknya memberikan lebih banyak sumber belajar supaya mahasiswanya lebih mengerti.” – Kayla Prihatka, Kedokteran ’19 UGM

“Kalau menurutku, tentu lebih asik praktikum offline. Praktiknya lebih jelas dan tidak terhambat oleh masalah jaringan yang lemot. Tetapi, praktikum online yang dijalani sekarang udah baik, porsi lapraknya bisa dimaklumi, dan udah bagus sih menurutku.” – Adithya Thafari Nugraha, Pembangunan Wilayah ’19 UGM

“Kalau menurutku nggak efektif sih karena seperti meraba-raba. Apalagi posisi sekarang masih semester dua, kita baru satu semester menjalani perkuliahan, jadi segala sesuatunya masih terasa ngambang. Mau masteran pun nggak berguna karena beberapa praktikum itu berubah dan angkatanku itu pake kurikulum baru, sehingga segala sesuatunya baru. Belum lagi dosen yang menuntut tugas ini itu padahal keadaan lagi seperti ini. Ya memang sih, sedikit banyak ada yang didapat tetapi semuanya serba ngambang. Komunikasi juga susah, asisten nggak tau gimana raut wajah kita, jadi susah untuk mengetahui udah paham apa belum.” – Pipin Mayrani L M, Sosial Ekonomi Agribisnis ’19 UGM

“Menurutku nggak efektif sama sekali karena kita nggak bisa dapet skill-nya, nggak bisa  melakukan praktikum secara langsung, dan cuma bisa lihat video. Apalagi praktikum yang harus ke lapangan ambil data, itu nggak ada gambaran sama sekali kalau cuma lewat video. Padahal, tujuan praktikum itu untuk menambah kepemahaman di kelas dan praktikum di semester empat ini sangat berguna. Sehingga, praktikum online ini malah membingungkan mahasiswa, terlebih ketika diminta membuat laporan, pasti cuma bisa ngawang. Saranku, aku ingin ada praktikum pengganti, nggak full juga nggak papa. Paling nggak kita pernah ngelakuin, meskipun waktunya juga singkat dan dipadatin.” – Saifa Usni, Biologi ’18 UGM

“Menurut aku nggak efektif karena nggak dilakukan secara langsung, cuma gambarannya aja, dan mengurangi euforia praktikumnya. Jadi kurang antusias dan nggak totalitas buat ngerjain lapraknya. Tetapi sisi positifnya, dari segi mental health mungkin membaik karena biasanya sebelum praktikum itu pasti cemas, keringatan, panik gitu. Kalau sekarang jadi lumayan santai dan perasaan negatif kayak tadi udah hilang. Sarannya, mungkin bisa dijelaskan teknis praktikumnya secara visual oleh aslab, nggak cuma tulisan, dan dikasih format penulisan laprak biar nggak menduga-duga apa aja yang harus dimasukkan karena memang benar-benar bingung.” – Carinna Tiara Rahmadittya, Teknologi Industri Pertanian ’19 UGM

“Menurutku pribadi, praktikum online itu nggak seefektif praktikum biasanya karena biasanya sebelum praktikum yang bersangkutan akan ada kuliah tentang topik praktikumnya, jadi saat praktikum itu kita minimal udah ada bekal materi sedikit. Tetapi kalau praktikum online, materi cuma dikasih lewat power point, jadi nggak begitu masuk ke otak. Dalam pembuatan laporannya juga kita jadi nggak terlalu menguasai materinya. Apalagi, kalau di FKG kebanyakan praktikumnya memang harus dilakukan secara langsung, misalnya praktikum radiologi yang butuh alat-alat rontgen di lab, jadi kita nggak bisa lakuin di rumah. Tetapi untuk situasi seperti ini, ya memang praktikum online yang paling memungkinkan untuk dilakukan.” – Shabrina Hafira, Pendidikan Dokter Gigi ’19 UGM

Jika dilihat secara sekilas, beberapa mahasiswa berpendapat bahwa praktikum jarak jauhseperti ini kurang efektif karena beberapa hal. Ada yang merasa dibingungankan karena pemberian materi secara online tidak memberikan pemahaman materi yang baik, dan mengurangi skill praktikum yang hanya bisa didapatkan dalam praktikum tatap muka. Ada juga yang merasa kesusahan karena ketidakstabilan koneksi internet yang turut menggangu jalannya praktikum. Walaupun begitu, disisi lain praktikum jarak jauh ini juga membawa dampak positif bagi sebagian mahasiswa yang memiliki masalah kesehatan mental. Ada yang merasa bahwa praktikum tatap muka lebih menguras kesehatan mental dibandingkan praktikum jarak jauh. Kecemasan yang dirasakan sebelum melakukan praktikum tatap muka tidak dirasakan saat praktikum jarak jauh. Mereka merasa lebih tenang dan santai saat menjalani praktikum jarak jauh dalam keadaan seperti ini.

Terlepas dari semua itu, praktikum jarakjauh faktanya sudah dan juga masih terlaksana hingga  penghujung semester ini. Sebagai kebijakan praktikum berbasis media daring dalam rangka penanggulangan kedaruratan se-UGM pertama akan sangat wajar apabila ditemukan beberapa kekurangan. Beberapa mahasiswa menyarankan prodi supaya menambah bahan materi praktikum untuk menambah kepemahaman, memperjelas teknis pelaksanaan dan format pengerjaan laporan, serta ada yang menyarankan untuk pengadaan praktikum pengganti. Pada akhirnya, praktikum jarak jauhini merupakan hal unik dan pengalaman baru bagi sebagian besar mahasiswa yang merasakannya dan masih diperlukan perbaikan untuk meningkatkan keefektifannya, apabila suatu saat akan diselenggarakan kembali.

Penulis: Fania Dini Aulia/Bul
Editor: Muhammad Ridho Affandi/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here