Memanfaatkan atau Dimanfaatkan Promo Makanan?

Memasuki dekade baru ini, perbedaan-perbedaan dari dekade sebelumnya mulai terlihat mencolok. Salah satunya adalah perbedaan gaya hidup dan pola konsumsi. Pada dekade ini, kita sudah terbiasa dihujani berbagai tawaran voucer promo, cashback, dan diskon untuk makanan. Contohnya dapat kita lihat pada aplikasi pelayanan transportasi seperti Gojek atau Grab. Contoh promosi yang ditawarkan mereka adalah gratis ongkos kirim untuk penjual-penjual makanan tertentu dan voucer potongan harga makanan. Potongan harga ini sangat bervariasi, contohnya potongan dalam bentuk persen, misalnya 30%, 70%, atau bahkan 100%, dan potongan nominal, misalnya Rp15,000 per pembelian Rp25,000. Penawaran ini terkadang diberikan secara cuma-cuma sebagai reward untuk customer, tetapi juga bisa dibeli dengan harga tertentu. Strategi pemasaran seperti ini masih jarang ditemukan pada dekade sebelumnya.

Kelompok dalam masyarakat yang paling sering terpapar promosi makanan adalah anak-anak muda, terutama di kota-kota besar. Mereka adalah sasaran yang empuk karena mudah tertarik pada tren-tren baru, baik berupa makanan maupun barang. Walaupun begitu, hal ini dapat pula mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat. Ditambah dengan maraknya penggunaan dompet digital, kita juga cenderung lebih menganggap enteng nilai uang yang dikeluarkan. Menyinggung sedikit soal Gresham’s Law: bad money drives out good money. Uang kartal yang masih berbentuk fisik cenderung kita jaga dengan baik, tetapi kehadiran uang yang tidak kasat mata dalam dompet digital bisa mempengaruhi kita untuk membeli tanpa merasa kehilangan. Terlebih lagi ketika terdapat lebih banyak promosi yang kita dapatkan apabila menggunakan dompet digital dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan promosi-promosi, harga makanan atau barang yang diinginkan jadi jauh lebih miring. Bagaimana kita bisa menolak promosi seperti ini? Kita mungkin merasa aman karena dilindungi oleh promo. Namun lama kelamaan, alasan kita membeli barang bukanlah atas kebutuhan, tetapi karena promosi. Dengan menuruti impuls secara berkelanjutan, otak kita akan menganggap remeh pengeluaran yang menggerogoti isi dompet. Hal ini sering berujung pada keluhan uang habis. Tidak heran bahwa anak muda sekarang susah untuk menabung. Uang sebanyak apapun tidak akan cukup untuk memenuhi hasrat konsumsi.

Tentu saja, bukan berarti promosi-promosi tersebut adalah hal yang sepenuhnya buruk. Ada banyak keuntungan finansial yang dapat kita manfaatkan apabila kita menyesuaikan penggunaan promo dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masing-masing. Tetapkan batas pengeluaran yang wajar dan hentikan pemikiran “mumpung diskon”. Kita harus menyadari bahwa di balik promosi, terdapat tujuan untuk menguntungkan penjual, bukan untuk menguntungkan pembeli. Dengan pemikiran seperti itu, kita akan berhenti dimanfaatkan oleh promo dan alih-alih memanfaatkannya untuk keuntungan diri sendiri.

Penulis: Nazra Hanif Lutfiana

Editor: Nabila Rana Syifa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here