Komersialisasi YouTube: Pedang Bermata Dua

Sejak diakuisisi oleh Google, YouTube telah menjadi situs web berbagi video terpopuler. Padahal, umur YouTube bisa dibilang masih muda, yaitu sekitar 15 tahun. Pada tahun 2006, kurang lebih setahun setelah YouTube mengudara di web, Google membeli YouTube untuk mengamankan lahirnya zaman baru. Google memprediksi bahwa di masa mendatang akan terjadi perubahan konsumsi media masyarakat, dari yang kala itu hanya berupa teks dan gambar menjadi video. Oleh sebab itu, akuisisi ini dilakukan untuk mengamankan bisnis iklan Google. Menurut Sasa Zorovic, analis bisnis internet, YouTube diibaratkan sebagai tempat yang strategis untuk berjualan. Benar saja, akuisisi YouTube menghasilkan simbiosis mutualisme antarplatform. YouTube secara tidak langsung menjadi situs berbagi video utama bagi warganet karena Google mempunyai reputasi sebagai mesin pencari di internet, sedangkan Google mendapatkan platform pencari video sendiri dan memiliki tempat untuk mengiklankan bisnis mereka.

Pada tahun 2007, YouTube dikomersialisasikan sehingga para content creator bisa mengambil keuntungan finansial dari mengunggah video ke YouTube. Untuk meraih keuntungan, content creator dapat memasang iklan berupa AdSense, sama seperti iklan di blog atau situs web. Setelah komersialisasi ini, YouTube semakin meningkat popularitasnya. Di Indonesia, terdapat beberapa YouTuber yang sukses memanfaatkan komersialisasi YouTube, contohnya Raditya Dika, Bayu Skak, dan Arief Muhammad. Jumlah pendapatan YouTuber terkenal pun bisa dibilang relatif banyak, contohnya Bayu Skak yang mengaku mendapat penghasilan rata-rata dari AdSense dan proyek-proyek sebagai YouTuber sebesar 26 juta rupiah per bulan. Kesuksesan YouTuber ternama menarik minat warganet untuk melakukan hal serupa, bahkan menjadi salah satu tren cita-cita bagi anak-anak zaman sekarang.

Selain aspek ekonomi, YouTube tentunya dapat menjadi sarana untuk mendapatkan popularitas. Sebagian dari kita mungkin masih ingat bagaimana video lipsync Sinta dan Jojo melambungkan nama mereka pada tahun 2010. Selain itu, ada juga Briptu Norman Kamaru yang menyanyikan lagu “Chaiyya Chaiyya” dan membuat dirinya terkenal. Video-video tersebut menjadi viral, padahal mereka hanya iseng mengunggah video ke YouTube. Bayu Skak juga menjadi terkenal melalui kanal YouTubenya. Serial komedi dari Raditya Dika, “Malam Minggu Miko”, diadaptasi oleh Kompas TV dan menjadi terkenal juga melalui YouTube. Dalam tahap ini, YouTube berhasil menjadi self-artist media. Setelah adanya YouTube, seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kelebihan bisa mengunggah dokumentasi tentang bakat mereka ke YouTube. Jika warganet menyukai bakat atau konten mereka, seseorang atau sekelompok orang ini akan menjadi terkenal. Penilaian karya mereka pun menjadi lebih objektif karena setiap orang baik dari dalam maupun luar negeri dapat melihatnya. Saat ini, ada banyak karya anak bangsa yang diterima dengan baik oleh warganet Indonesia, seperti kartun “Nusa” dan infografis “Kok Bisa”.

Sayangnya, keuntungan YouTube ini sering dieksploitasi secara kurang bijak oleh content creator. Setiap content creator tentu menginginkan popularitas yang diikuti dengan penghasilan dari AdSense. Akan tetapi, popularitas dan penghasilan di YouTube tidak didapatkan dengan waktu yang singkat. Memang benar, YouTube memudahkan content creator untuk mendapatkan popularitas, tetapi tetap saja butuh usaha dan waktu untuk mendapatkannya. Akhirnya, banyak content creator menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan spotlight warganet, salah satu caranya adalah membuat sensasi berupa konten prank atau social experiment. Bukan rahasia umum lagi bahwa sebagian masyarakat Indonesia menyenangi konten tersebut. Buktinya, video social experiment oleh Nino Kuya yang berjudul “Nyamar Jadi Gembel Beli iPhone 11, 60 Juta Cash!” mendapat jumlah tayangan sebanyak 25 juta kali hanya satu bulan setelah dirilis. Penghasilan AdSense dari video ini tentu banyak.

Menjamurnya video prank atau social experiment di masyarakat membuat pasar audiens di Indonesia cenderung menjumpai video serupa karena algoritma YouTube yang merekomendasikan video-video dengan konten yang mirip. Akhirnya, content creator lain juga terinspirasi untuk membuat konten prank atau social experiment karena dirasa populer. Akan tetapi, proses pembuatan prank dan social experiment mulai meresahkan masyarakat. Salah satu contoh kasusnya ditayangkan di program televisi “86” Net TV, ketika tim polisi memergoki warga yang menyamar menjadi hantu. Ia mengaku bahwa alasannya menyamar menjadi hantu adalah untuk konten prank.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa komersialisasi YouTube memang menguntungkan bagi warganet, bahkan sampai menyebabkan pergeseran tren pekerjaan impian generasi muda. Akan tetapi, para content creator seharusnya memiliki kesadaran untuk mengedukasi atau menghibur penontonnya dengan cara yang positif. Sebagai penonton konten-konten di YouTube, kita juga seharusnya lebih memilih dan memilah konten yang akan dikonsumsi, sehingga lama-kelamaan tren pasar YouTube di Indonesia berganti dari konten-konten sensasional yang tidak berbobot menjadi konten yang bemanfaat.

Penulis : Dimas Satriawan/Bul
Penyunting : Rafie Mohammad/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here