Muhammad Nur Sahid Fatqulloh : Merangkul dan Mendengar

capresma-ugm-(01)-2019

Jika kita punya keresahan yang sama, ayo kita perjuangkan bersama

Muhammad Nur Sahid Fatqulloh, yang akrab dipanggil Sahid, adalah mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2016. Sahid merupakan sosok yang aktif berkecimpung dalam dunia organisasi. Pada tahun 2016 hingga 2018, Sahid menjabat sebagai Kastrad Staff dari BEM Peternakan, Kepala Divisi HMI Agrokompleks, dan internal vice of Gadjah Lampung. Tahun ini, ia berkesempatan menjabat sebagai Ketua BEM Peternakan UGM. Bukan hanya organisasi, lelaki kelahiran Bandar Lampung ini juga aktif dalam bidang akademik dengan menjadi asisten laboratorium. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, simak liputan eksklusif Bul dengan Sahid berikut ini!

Mengapa Sahid mencalonkan diri menjadi Presiden Mahasiswa BEM KM UGM?

Ada keinginan untuk memberikan sebuah perubahan. Dan saya tidak bisa jalan sendiri dan tentu memerlukan dorongan dan support dari teman-teman. Akhirnya saya mencoba memberikan sebuah penggalangan bahwa ketika saya ada sebuah perubahan, teman teman juga harus ada perubahan dan ketika perubahan itu sama sama ada, ayo kita bawa perubahan itu bersama.

Saya sendiri punya prinsip bahwa setiap hal yang saya lakukan akan menjadi metode pembelajaran bagi diri sendiri. Banyak orang bilang BEM KM bukan untuk belajar. Benar bahwa BEM KM bukan buat belajar. Tapi bagaimana pembelajaran-pembelajaran saya yang dulu itu bisa menjadi aktualisasi saya di BEM KM. Selain itu, bagaimana BEM KM, ketika saya kemari dan aktualisasi diri saya belum sempurna, maka itu akan disempurnakan.

Menurut saya belajar itu tidak ada yang salah. Ketika kita belajar, itu untuk membenarkan yang salah. Dan ketika kita salah, kita mencoba untuk mempelajari lagi supaya tidak salah.

Apa visi dan misi Sahid sebagai capresma?

Visi kami ialah menghadirkan ruang dialektika yang merangkul seluruh elemen KM UGM, yang memiliki semangat perubahan. Kalau untuk misi dari kami menghadirkan 3 hal, yaitu:

1. Membangun internal BEM KM UGM yang berintegritas, profesional dengan dilandasi semangat kekeluargaan.

2. Menerapkan konsep good student governance dalam tubuh BEM KM UGM.

3. Menghadirkan KM UGM yang punya semangat literasi, dan responsif terhadap isu internal dan eksternal.

Pandangan Sahid tentang BEM KM saat ini?

Saya tidak menampikkan BEM KM sekarang telah melakukan upaya-upaya yang baik. Upaya-upaya yang baik tersebut pasti akan dipertahankan. Kami mencoba untuk BEM KM itu sendiri turun langsung, bukan melalui perantara ke forum antar lembaga. Dari kami sangat ingin BEM KM itu ikut terjun ke himpunan, terjun ke departemen, terjun ke komunitas-komunitas, makanya tajuk yang kita bawa itu ‘Dekat Mendengar’.

Mungkin ada keresahan-keresahan yang tidak tersampaikan dan komunitas komunitas itu kan tidak terlibat dalam lembaga. Maka dari itu, kita mencoba benar-benar dekat dan mendengar. Oleh karena itu kita tahu keresahan-keresahan mereka dan bagaimana mengupayakan, mengadvokasikan, atau melakukan beberapa riset-riset partisipatif dan itu yang coba kita bawa.

Bagaimana cara Sahid membuat harmoni dari banyaknya perbedaan yang ada di UGM?

Adanya teman-teman yang suka penelitian, adanya teman-teman yang aktivis, belajar organisasi, kami akan mencoba memberikan wadah bagi mereka. Kami punya suatu wadah yaitu ‘Satu Suara Satu Asa’, di sini kami mencoba brainstorming semua, apa yang sebenernya diperlukan teman-teman pada segmentasi ini? Itu ingin coba kita hadirkan dalam lingkup KM UGM. Kita coba untuk memberikan inovator Incubation Hood Platform sebagai penghubung antara si pemilik ide dengan segmentasi ide tersebut.

Bagaimana tanggapan Sahid mengenai kebebasan akademik di UGM?

Menurut kami universitas ataupun institusi itu laboratorium akademik, laboratorium untuk kita agar dapat belajar. Maka, ketika kebebasan akademik itu dilanggar, lantas bagaimana kita bisa mempelajari hal hal tersebut? Kalo kemarin ada kasus dari temen-temen Fisipol, yang membuat beberapa diskusi yang sedikit kekirian, atau kasus Ustad Abdul Somad yang malah menjadi sebuah hal yang seperti ditahan. Berarti ada sebuah ketakutan, ada ketakutan pada sesuatu hal yang akan terjadi apabila itu dilakukan. Padahal dalam lingkup universitas, seharusnya kita punya kebebasan akademik agar perspektif itu tetap dijaga.

Pemimpin yang berhasil menurut Sahid seperti apa?

Pemimpin yang berhasil adalah dia punya suksesor di pemimpin selanjutnya. Jadi ketika pemimpin selanjutnya dapat melakukan perubahan baru, atau melakukan modifikasi yang lama menjadi lebih update, itu menurut saya adalah pemimpin yang berhasil karena pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin adalah pemimpin yang mencetak pemimpin lainnya.

Mengapa mahasiswa UGM harus memilih Sahid?

Tidak ada paksaan untuk memilih saya. Kalau semisal mau memilih saya ya lihatlah Sahid sesuai apa yang dia bawa, lihatlah Sahid ini sama seperti kalian, sama-sama kuliah, sama-sama praktikum, sama-sama kita tidak ingin ada uang pangkal, sama-sama ingin kaderisasi yang baik di fakultas. Jadi, sebenernya kita itu sama, dan bagaimana kita menyatukan sebuah persamaaan, perubahan, ataupun keinginan dalam satu rasa yang sama, untuk satu Gadjah Mada. Kalau adanya unsur paksaan itu tidak boleh, namun kalau kita punya keresahan yang sama, ayo kita perjuangkan bersama.

Penulis: Naufal S, Rizka Azzahra N/Bul
Penyunting: Desi Yunikaputri/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here