Jalu Tathit Pancapurna: Mengekspresikan Keresahan Mahasiswa melalui Jalur Independen

capresma-ugm-(03)-2019

Jalu Tathit Pancapurna Satya, atau yang kerap disapa Jalu ini merupakan satu-satunya capresma yang mencalonkan diri melalui jalur independen. Jalu kini sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di jurusan Sosiologi angkatan 2016. Pemuda asal Yogyakarta ini sempat mengikuti beberapa organisasi dan kepanitiaan.

Pada tahun 2018, Jalu terpilih menjadi Ketua Pelaksana Gelanggang Expo dan Project Manager pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Pada tahun 2019 ini, Jalu diberi kesempatan untuk menjadi Ketua UKM Perisai Diri. Selain kegiatan di universitas, Jalu juga aktif dalam organisasi di jurusannya, salah satunya dengan menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa Sosiologi pada tahun 2017. Ia pun ingin menyeimbangkan kegiatannya, baik di lingkup universitas, maupun fakultas.

Mengapa Jalu mencalonkan diri menjadi Presiden Mahasiswa BEM KM UGM?

Awalnya, berangkat dari keresahan saya dan teman-teman—terutama teman-teman dari gelanggang yang merasa bahwa teman-teman BEM kurang melakukan komunikasi dan koordinasi yang baik dengan komunitas maupun unit kegiatan mahasiswa. Teman-teman pun berinisiatif untuk menyuarakan keresahannya karena keresahan yang tidak dikemukakan, tidak akan membuahkan hasil. Kemudian, kami mengekspresikannya melalui cara ini salah satunya.

Apa visi dan misi Jalu sebagai capresma?

Visinya ada satu, namun mencakup tiga poin, yaitu memperjuangkan aspirasi mahasiswa, menjaga aktivisme mahasiswa, dan menciptakan sinergitas di dalam organisasi mahasiswa. Lalu, dari visi tersebut muncul empat misi, yaitu:

1. Membangun komunikasi yang baik antar lembaga mahasiswa

2. Membangun iklim organisasi yang baik antara organisasi mahasiswa

3. Men-support berbagai bentuk aktivisme mahasiswa

4. Menginisiasi program kolaboratif yang terbuka bagi seluruh mahasiswa

Pandangan Jalu tentang BEM KM saat ini?

Menurut saya, BEM KM merupakan lembaga yang dipilih mahasiswa secara umum, namun saya melihat kurangnya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan mahasiswa yang ada di fakultas dan juga unit kegiatan mahasiswa. Jadi, sebenarnya BEM KM merupakan lembaga yang mempunyai program-program kerja yang bagus, tetapi dalam menjalankan programnya hanya terfokus pada anggotanya sendiri (anggota BEM –red). Meskipun ada beberapa yang tidak seperti itu, namun kurang efektif.

Bagaimana tanggapan Jalu terhadap hasil kerja BEM yang tidak sampai ke akar rumput mahasiswa?

Saya memiliki pemikiran yang selalu saya utarakan di TDF, yaitu menurut saya, idealnya BEM itu menjadi lembaga yang dapat men-support, istilahnya dapat membuat program kerja yang bukan hanya untuk anggotanya, namun lebih fokus untuk teman-teman yang ada di fakultas. Jadi, tidak melulu pada dirinya dan coba kembali ke teman-teman fakultas, jalin komunikasi, koordinasi, lalu berkolaborasi dengan teman-teman yang lain, kira-kira apa yang bisa dibantu, lalu apa yang bisa dikerjakan bersama, dan apa yang bisa dikoordinaskan. Dengan begitu, dapat membangun komunikasi itu lagi dengan teman-teman komunitas tersebut.

Bagaimana cara Jalu membuat harmoni dari banyaknya perbedan yang ada di UGM?

Mengapa BEM KM penting menjadi lembaga yang men-support? Karena BEM KM dapat membuat segala bentuk kegiatan-kegiatan aktivisme menjadi lebih cair. Jadi, semisal teman-teman yang memang fokus dengan kegiatan akademik, lalu melakukan bentuk aktivismenya melalui lomba dan lain-lain, BEM KM dapat men-support teman-teman melalui apa yang bisa di-support, misalnya dengan bentuk apresiasi.

Sebenarnya, Ditmawa memiliki sistem insentif, tetapi tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, BEM KM dapat mencoba untuk mengakomodasikan itu dengan menyuarakannya kepada Ditmawa untuk membenahi sistem insentif itu agar dapat mengapresiasi teman-teman yang berprestasi, baik di bidang olahraga dan seni, maupun akademik. Lalu, untuk berbagai bidang yang lain seperti isu-isu pergerakan, teman-teman yang tertarik di situ juga bisa kita sentuh, misalnya BEM KM dapat men-support dalam menyuarakan isu-isu tersebut.

Bagaimana tanggapan Jalu mengenai kebebasan akademik di UGM?

Isu itu sebenarnya sudah lama menjadi pembahasan di UGM. Harapannya, BEM ini bisa menyaring aspirasi, terutama dari teman-teman yang sudah lama membuat kajian, misalnya teman-teman forum advokasi atau mungkin di fakultas-fakultas yang memang fokus membuat kajian dan mempunyai data-data tentang keresahan mahasiswa itu sendiri. Lalu, fungsi BEM juga menjadi perantara kepada MWA (majelis wali amanat) di UGM yang mempunyai peran penting untuk membuat kebijakan-kebijakan yang ada di rektorat. Jadi, dengan adanya keresahan itu, MWA nantinya dapat menyampaikan dan mempengaruhi kebijakan sehingga dapat membuat sistem yang lebih terbuka di UGM, baik di fakultas, maupun di universitas.

Menurut Jalu, pemimpin yang berhasil itu seperti apa?

Menurut saya, pemimpin yang berhasil adalah yang dapat merangkul dan men-support anggota-anggotanya. Jadi, tujuannya itu tujuan bersama, bukan hanya tujuan si pemimpin. Jika semisal di satu kabinet hanya pemimpinnya yang berhasil menurut saya itu gagal. Pemimpin juga harus mempunyai manfaat bagi anggota-anggotanya sehingga ada nilai lebih bagi mereka.

Mengapa mahasiswa UGM harus memilih Jalu?

Sebenarnya itu adalah sebuah preferensi, saya bahkan tidak memaksa ataupun menuntut untuk memilih. Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi keresahan saya kepada teman-teman. Jika teman-teman melihat itu sebagai hal yang sama dan merasa perlu untuk diperjuangkan, mari kita perjuangkan bersama. Ini juga sebagai salah satu bentuk pembelajaran politik bahwa berbagai keresahan teman-teman itu patut untuk disuarakan agar itu mempunyai pengaruh dan impact kepada sistem yang ada, jangan cuma duduk saja. Saya berangkat dari keresahan dan memang berat dari jalur independen itu tetapi saya berusaha mencoba untuk mengutarakan keresahan tersebut, membuat aksi, dan berusaha merubahnya.

Penulis: Fania Dini A, Ridho S/Bul
Penyunting: Salsabila Hasna Dwi P/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here