Iqbal Nurrahim: Memaknai Gerakan dalam Berbagai Ruang Juang

capresma-ugm-(04)-2019

BEM KM saat ini sudah baik, tapi ada yang perlu diperbaiki agar lebih baik.

Iqbal Nurrahim atau yang lebih sering disapa dengan Iqbal merupakan mahasiswa Teknik Nuklir angkatan 2016. Ia adalah sosok yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam berorganisasi. Pada tahun 2018, ia terpilih menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT). Selain itu, Iqbal juga terlibat dalam kegiatan di luar kampus dengan aktif menjadi anggota Young Southeast Asia Leaders. Pengalaman ini juga ia buktikan dengan berbagai penghargaan yang diraihnya yaitu The Youngest Speaker Energy Talk yang berkolaborasi dengan Indonesia Youth Nuclear Community Indonesia tahun 2017.

Mengapa Iqbal mencalonkan diri menjadi presiden mahasiswa (presma) BEM KM UGM?

Ada beberapa alasan yang membuat saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai presiden BEM KM UGM. Pertama, karena ada dorongan dari teman-teman dan orang-orang baik di sekitar saya yang membuat saya akhirnya maju untuk mencalonkan diri. Kedua, saya punya iktikad pribadi ingin memperbaiki dan memperbagus apa saja yang kurang dari BEM KM. Terus yang ketiga adalah ini bukan soal posisi tetapi peran. Jadi, seberapa besar manfaat yang bisa saya berikan nantinya baik kepada konstituen, BEM, maupun masyarakat UGM secara umum dengan harapan UGM bisa terus maju.

Apa visi dan misi Iqbal sebagai capresma?

Visi

BEM KM UGM yang merangkul semua, merajut karya, dan membentang manfaat sebagai bakti kepada Gadjah Mada dan nusantara.

Misi

5 ruang

Ruang pemahaman: membangun internal organisasi yang solid, progresif, dan bersahabat dengan memiliki kepahaman terhadap realita sosial, keikhlasan dalam berjuang, dan keberpihakan pada yang lemah.

Ruang pelayanan: memberikan layanan kemahasiswaan dan kemasyarakatan yang advokatif, berbasis riset, dan transparan.

Ruang pengabdian: mewujudkan lembaga yang proaktif dalam membangun gerakan pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi dan kolaborasi.

Ruang karya: memastikan hadirnya wadah pengembangan diri dan gagasan mahasiswa kedalam pentas pengkaryaan civitas akademika UGM.

Ruang perjuangan: menjadi intelektual penggerak dalm memimpin pengawalan terhadap isu-isu strategis di level lokal, nasional, dan internasional

Pandangan Iqbal tentang BEM KM saat ini, dan bagaimana tanggapan terhadap hasil kerja BEM yang tidak sampai ke akar rumput mahasiswa?

BEM KM sebenarnya sudah bekerja dengan sangat bagus. Tapi menurut saya, setiap pemimpin ini memiliki standar bagus yang berbeda-beda. Ada yang secara kultural melalui pendekatan ke UKM, lembaga, pun hingga ke HIMA prodi. Waktu Mas Fathur memimpin pun juga berbeda, karena lebih fokus ke isu-isu nasional sehingga mungkin hal tersebut kurang diperhatikan.

Saya menganggap bahwa proses mendekatkan diri hingga ke entitas paling dasar, sebut saja HIMA prodi, merupakan hal yang penting dan perlu dilakukan. Srawung, datang tanpa mengatasanamakan BEM tetapi secara pribadi pun itu sudah menunjukkan iktikad baik kita untuk tetap dekat dengan HIMA prodi. Hal-hal seperti inilah yang perlu kita lakukan tanpa mengurangi produktivitas kita dalam mengawal isu-isu dan mewadahi teman-teman dalam menggagas ide, kreasi, dan sebagainya.

Bagaimana cara membuat harmoni dari banyaknya perbedaan yang ada di UGM?

Menurut saya pribadi, terkadang ada orang-orang yang cenderung menghindari pertemuan publik karena dirasa sudah ada segelintir orang yang menginisiasi lalu beranggapan, “oh yaudah berarti kita ga perlu ikut.” Itikad-itikad seperti itu yang perlu kita perbaiki. Kita berusaha bagaimana cara mengatur namun bukan memerintah, dalam artian bagaimana kita bisa mewujudkan sinergi atau keterkaitan antar mahasiswa. Jadi, permainan fungsi BEM KM nantinya secara kelembagaan tidak terlalu mengkomando atau tidak terlalu menjadi seorang instruktur, tapi dari bawah kita juga membantu.

Maka dalam proses pendekatan yang perlu kita cari antara kedua pihak adalah proses mencari titik temu itu sendiri. Kita sama-sama butuh, sama-sama resah, sama-sama ingin memecahkan suatu masalah. Proses pencarian titik temu inilah yang biasanya menjadi kesalahpahaman.

Jadi fungsi HIMA (Himpunan Mahasiswa) Prodi, BEM Fakultas, ya kita sama sama berusaha memercikkan api-api isu agar orang-orang sadar. Agar orang-orang aware, ini ada isu yang sebenarnya nyangkut sama kita, bermasalah, gitu. Kadang hal itu yang memang perlu usaha sangat keras sekali.

Bagaimana tanggapan mengenai kebebasan akademik di UGM?

Isu soal kebebasan akademik ini menjadi salah satu poin yang akan saya usung untuk bisa dimasukkan dan dibahas Rektorat karena selama ini kalau kita lihat, ada mahasiswa yang melakukan screening film atau diskusi lalu dianggap kekiri-kirian atau kekanan-kananan lantas dibubarkan. Mahasiswa itu sudah bisa berpikir dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak. UGM seharusnya bisa menjadi panggung atau mimbar baik itu bagi mahasiswa atau profesional-profesional di luar sana, sehingga harapannya kita itu memang benar-benar bisa tercerdaskan.

Pemimpin yang berhasil menurut iqbal?

Kalau menurut saya pribadi, saya juga tidak tahu validitasnya seperti apa. Tapi jika dikaitkan dengan BEM dan orang kemahasiswaan profesional, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat menyelesaikan seluruh indikator penilaian kerjanya dalam suatu organisasi dengan target yang sudah ditentukan sejak awal masa kepemimpinan, misal 90% program kerja terlaksana. Di sisi lain secara kultural, menurut saya pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat meninggalkan kesan tersendiri yang membuat staf, rekan, anggota, dan orang yang dipimpinnya merasa kehilangan saat masa jabatannya berakhir. Karena proses menimbulkan kesan baik ini yang tidak semua orang dapat melakukannya.

Mengapa mahasiswa UGM harus memilih Iqbal?

Alasan mengapa mahasiswa harus memilih saya sebagai presiden mahasiswa adalah yang pertama, visi dan misi serta rancangan kerja yang saya bawa adalah yang paling relevan yang dapat diimplementasikan di BEM KM UGM 2020. Kedua, dengan tipikal kepribadian yang saya miliki, sebisa mungkin hadir dalam setiap entitas yang ada meskipun itu pasti sulit untuk menghadirkan diri secara pribadi. Tapi insyaallah akan sangat saya usahakan.

Penulis: Izzah N, Seftyana Aulia K/Bul
Penyunting: Desi Yunikaputri/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here