Menilik Monumen Sanapati Sang Saksi Persandian Indonesia

monumen-sanapati
Ilus: Anam/Bul

Yogyakarta menyimpan banyak monumen bersejarah yang terletak di sudut-sudut kota, salah satunya adalah Monumen Sanapati, hasil catatan sejarah persandian Indonesia.

Sejarah persandian Indonesia

Persandian di Indonesia dimulai dari Jawatan Teknik Kementerian Pertahanan Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan, baik di Jakarta maupun di Yogyakarta. Menteri Pertahanan kala itu, Amir Syariffudin, mengungkapkan pentingnya organisasi pelaksana fungsi persandian. Amir Syariffudin bersama dr Rubiono Kertapati, yang kini dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia, membentuk lembaga sandi negara pertama yang disebut Dinas Kode pada 4 April 1946. Perndirian Dinas Kode tersebut diperingati sebagai Hari Persandian Indonesia.

Lembaga persandian Indonesia telah mengalami 4 kali perubahan. Pada tahun 1950-1960, Dinas Sandi diubah menjadi Jawatan Sandi. Kemudian pada masa Orde Baru Jawatan Sandi diubah menjadi Lembaga Sandi Negara dan berada di bawah koordinasi Presiden. Pada masa kepemmpinan Presiden Joko Widodo, Lembaga Sandi Negara ini dilebur dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Monumen Sanapati dibangun untuk memeringati 50 tahun persandian Indonesia di Yogyakarta. Persandian di Yogyakarta memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Tercatat pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, sandi buatan Roebiono masih digunakan untuk menyebarkan pesan pada dunia bahwa Indonesia masih ada dan masih bisa melawan. Selanjutnya, peristiwa tersebut dikenal dengan Peristiwa 6 jam di Yogyakarta.

Bentuk fisik monumen

Monumen Sanapati terletak di kawasan Kotabaru, tepatnya di tengah persimpangan Jalan Abu Bakar Ali, di taman depan Gereja Santo Antonius. Bangunan Monumen Sanapati berbentuk segitiga berujung lancip menyerupai piramida dengan tinggi 3 meter dan lebar 2,5 meter. Monumen tersebut didesain oleh Drs Kasman dan diresmikan oleh Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia saat itu, Moerdiono, pada 4 April 1996, tepat pada Hari Persandian Indonesia. Pembangunan monument membutuhkan waktu satu bulan dan memakan biaya sebesar 25 juta rupiah.

Referensi:

https://bssn.go.id/sejarah-persandian/

Agung. (2018). Sejarah BSSN yang Kini Dipimpin Djoko Setiadi. https://tirto.id/sejarah-bssn-yang-kini-dipimpin-djoko-setiadi-cCFo

Transportasi Umum Monumen Sanapati Yogyakarta. https://moovitapp.com/index/in/Tranportasi_Umum-Monumen_Sanapati-Yogyakarta-efsite_4bc94133511f9521cd8aadc7-4384

Wahyu, Veronica. (2017). Monumen Nasibmu Kini. https://veronicawahyu.wordpress.com/2017/10/09/monumen-nasibmu-kini/

Penulis: Ella Ghani P, Meidiana Putri S/Agatha Vidya N/Bul
Editor: Aulia Hafisa/ Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here