POLUSI BAHASA DI INDONESIA YANG SANTUN

POLUSI BAHASA DI INDONESIA YANG SANTUN

Menjadi warga negara Indonesia merupakan suatu kebanggaan yang patut disyukuri.  Dengan segala kekayaan alam dan budaya, Indonesia memiliki daya tarik bagi ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri.  Seperti negara lain, Indonesia tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dan modernisasi.  Berbagai budaya, inovasi, dan teknologi masuk ke Indonesia secara bebas melalui keberadaan internet.  Namun, pengaruh tersebut tidak selalu disikapi dengan bijaksana oleh setiap individu di dalam negara.  Banyak budaya baru dari luar diterima tanpa diseleksi oleh masyarakat. 

Dalam arus globalisasi dan modernisasi tersebut, masyarakat mengalami berbagai  perubahan sikap dan perilaku.  Contohnya adalah dalam bidang teknologi, yaitu smartphone.  Perusahaan smartphone berkompetisi dalam menjadikan produknya sebagai produk yang paling canggih.  Hal tersebut didukung pula oleh para pengguna yang  berusaha memilki smartphone tercanggih.  Smartphone tidak lagi dianggap sebagai barang mewah, melainkan dianggap sebagai “jajanan” yang dikonsumsi dengan kebiasaan berganti-ganti. Kebiasaan itu dilakukan dalam upaya untuk mengikuti perkembangan zaman. Beberapa masyarakat mengganti smartphone sekadar untuk mengikuti trend.  Hal tersebut memicu sikap konsumtif dan boros. 

Selain itu, tidak semua individu dalam masyarakat memanfaatkan barang canggih ini dengan sepatutnya.  Smartphone sering menjadi sumber perpecahan.  Hal tersebut berhubungan erat dengan tata cara  berbahasa.  Kata-kata “kotor” sering digunakan untuk berkomentar negatif di media sosial.  Kemudian, komentar negatif tersebut  dibalas oleh komentar negatif yang lain sehingga menyebabkan suasana bermedia sosial menjadi tidak menyenangkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi, bahkan menghindari hal tersebut.  Tidak harus menggurui atau turut mengomentari karena hal tersebut hanya akan memicu keributan yang lebih panjang.  Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memilih mana yang patut dikomentari dan mana yang tidak.  Jika kalangan mahasiswa di Indonesia mau mengurangi kebiasaan berkomentar yang tidak perlu,  kemungkinan terhadap munculnya perpecahan pasti dapat menurun. 

Indonesia dikenal karena keramahan dan kesantunan masyarakatnya.  Citra ini tentu harus dibuktikan dengan menjaga kesantunan berbahasa.  Selain menjaga tutur bahasa yang benar, seluruh lapisan masyarakat juga harus menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang baik.   Budaya berbahasa adalah salah satu jalan menuju keharmonisan berinteraksi dan bersosialisasi.  Kedamaian akan tercipta bila setiap pihak dapat menjaga tutur kata yang santun dan saling menghormati. 

Penulis: Gracia Meidines/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here