Antibiotik: Perlu Tahu Sebelum Konsumsi

Ilus: Devina Chandra/Bul

Antibiotik menjadi solusi pengobatan bagi pasien, akan tetapi penyalahgunaan dosis masih menjadi masalah yang sering dijumpai. Lalu bagaimanakah antibiotik bekerja dan pola konsumsinya?

Pernahkah dirimu mendengar istilah antibiotik? Sebutan antibiotik merujuk pada jenis obat-obatan yang memiliki efek dan aturan konsumsi secara khusus. Pada dasarnya konsumsi obat antibiotik harus menggunakan resep dokter serta harus dikonsumsi sampai habis. Dalam dunia medis, obat ini digolongkan dalam jenis obat keras namun mudah diperoleh di apotek. Terdapat beberapa alasan mengapa penggunaan antibiotik perlu diawasi dan diperhatikan secara khusus.  

Cara Kerja Antibiotik si Spesial

Terdapat perbedaan cara kerja obat yang biasa dikonsumsi dengan antibiotik. Antibiotik bekerja dengan menyerang mikroba khususnya bakteri yang terdapat di dalam organ tubuh manusia. Dalam praktiknya, senyawa aktif dalam antibiotik harus dapat bekerja dengan kadar yang relatif sedikit. Senyawa aktif dalam antibiotik akan berubah fungsi jika kadar yang digunakan relatif banyak menjadi antibakteri atau antimikroba. Kadar yang sedikit namun dapat menyerang bakteri menunjukkan kuatnya efek yang diberikan oleh antibiotik. Sebagai contoh, kadar yang dibutuhkan kloramfenikol (antibiotik penyakit demam thypoid, meningitis, dll) untuk menghambat bakteri gram positif adalah 1-10 μg/mL, sementara kebanyakan bakteri gram negatif dihambat pada konsentrasi 0,2 – 5 μL/mL. (Katzung, 2004).

Penggunaan antibiotik hanya dikhususkan untuk menyerang bakteri dalam tubuh. Senyawa dalam antibiotik berinteraksi langsung dengan satu atau beberapa bakteri tertentu. Munculnya spesifikasi kandungan dalam antibiotik mengharuskan adanya resep dari dokter secara resmi. Penggunaan resep dokter penting untuk dimiliki pasien sebagai acuan konsumsinya. Melalui resep dokter secara pasti telah diketahui penyebab penyakit yang dialami memang disebabkan oleh bakteri, bukan virus atau hanya respon imun tubuh terhadap suatu keadaan atau lingkungan yang kurang sesuai.

Disamping sifat khusus yang dimiliki antibiotik, hal lain yang harus diperhatikan adalah kekuatan dari obat tersebut. Walaupun semuanya ‘keras’ terdapat beberapa tingkatan kekuatan yang merujuk pada daya serang terhadap bakteri. Tingkat kekuatan yang paling rendah dimana hanya menghambat, hingga yang paling tinggi adalah dapat membunuh. Sewajarnya pemberian obat tersebut dimulai dari tingkat yang paling rendah sampai habis sesuai resep, jika memang belum sembuh, baru dilakukan peningkatan menuju kekuatan-kekuatan yang ada di atasnya.

Resistensi dan Akibatnya

Dengan titel obat keras membuat antibiotik memiliki perlakuan khusus terlebih untuk menghindari efek negatif dari penyalahgunaan obat. Penggunaan yang berlebih, tidak sesuai, ataupun tanpa resep merupakan kesalahan umum yang menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap suatu obat. Resisten atau kebalnya bakteri merupakan salah satu dampak dari penyalahgunaan antibiotik. Secara sederhana sifat resisten muncul sebagai respon bakteri yang terbiasa bertemu dengan suatu obat hingga menjadi kebal terhadap efek obat tersebut.

Lalu bagaimana jika bakteri dalam tubuh seseorang telah kebal terhadap antibiotik? Salah satu efek yang diperhatikan dari penyalahgunaan obat ini adalah hilangnya kemampuan tubuh untuk melawan gejala infeksi. Terjadinya infeksi dalam tubuh yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian. Ancaman dari penyalahgunaan antibiotik dapat mengancam hidup kita, meski begitu bukan berarti kita harus takut untuk mengonsumsinya. Sikap patuh dan disiplin terhadap penggunaan antibiotik yang sesuai anjuran atau resep dokter menjadi salah langkah kecil namun dapat menyelamatkan hidup pasien. Untuk itu kita harus lebih bijak dalam mengonsumsi obat khususnya antibiotik.

Penulis: Meidina P/Okky Chandra B/Fatimatuz Zahra/Bul

Referensi

Pratiwi, Sylvia T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.

Katzung, B. G., 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi XIII. Buku 3. Translation of Basic and Clinical Pharmacology Eight Edition Alih bahasa oleh Bagian Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/34509/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y

https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/resistensi-antibiotik-sebabkan-kematian/ diakses 18 Januari 2019, pukul 13.08

https://www.sahabatnestle.co.id/content/gaya-hidup-sehat/inspirasi-kesehatan/resistensi-antibiotik-berbahayakah.html diakses 18 Januari 2019, pukul 19.27

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here