Dinamika Mahasiswa Baru

maba
Ilus : Devina Candra/Bul

Mahasiswa Baru (maba) cenderung memiliki semangat yang lebih jika dibandingkan dengan kakak tingkatnya, baik dari segi akademik, potensi, dan waktu untuk belajar. Awal tahun perkuliahan merupakan waktu yang sangat penting bagi maba untuk mulai mengeksplorasi potensi potensi diri yang dimiliki, beradaptasi dengan kehidupan kampus dan juga kesempatan untuk menyusun langkah awal kehidupan kampus dan kegiatan produktif lainnya. Keuntungan lainnya sebagai maba adalah maba memiliki waktu luang yang lebih banyak (belum bergabung dengan organisasi atau kegiatan mahasiswa lainnya), sehingga kehidupan perkuliahannya masih didominasi oleh beban akademik. Berbeda dengan kakak tingkatnya (kating), yang sudah dibebani dengan tanggung jawab organisasi atau kegiatan mahasiswa, beban kuliah dan hal-lainnya. Maba cenderung masih memiliki ide-ide kreatif yang masih murni dan belum terkontaminasi dengan beban akademik maupun nonakademik.

Setelah dilakukan wawancara terhadap 15 orang mahasiswa baru UGM 2018 dari 6 klaster berbeda, hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa beberapa maba memanfaatkan tahun pertama kuliahnya dengan mencoba mengikuti lomba, organisasi dan/atau mengikuti kegiatan mahasiswa. Namun, tidak sedikit juga yang lebih memprioritaskan kegiatan akademik dan tidak mengikuti kegiatan pengembangan diri di luar kelas.

Ade dari klaster agro berpendapat bahwa tahun pertama perkuliahan merupakan masa penyesuaian, proses menuju kehidupan sesungguhnya sehingga harus berani menjelajahi dan bersaing. Sependapat dengan Ade, Zafira dari klaster soshum, maba harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Namun, Theo dari klaster teknik merasakan kebanyakan maba masih sibuk dengan kegiatan akademik. Narasumber yang tidak berkenan disebutkan namanya, berpendapat bahwa maba tidak seindah yang dilihat, “mungkin buat sebagian orang jadi maba asik banget aku juga ngalamin itu, tapi kaget gitu setelah kenal dunia perkuliahan, jujur aku aja sempat out of control ditambah dengan beratnya ospek jurusan.”

Tahun pertama kuliah, penuh dengan tantangan dan dinamika-dinamika kehidupan yang baru belum ditemui sebelumnya. Kesempatan ini sangat baik jika digunakan untuk belajar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, hardskill, maupun softskill. “Semenjak menjadi maba, jadi kepikiran hal-hal yang dulu sewaktu SMA gak kepikiran kayak misalnya nambah softskills (belajar TOEFL), mengajar les, dan nambah ilmu agama,” kata Fasya dari klaster Medika.

Banyak hal baru mengenai kehidupan kampus yang belum diketahui para maba, dan diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk mempelajari dan memahaminya. “Mana saya tahu, saya kan maba,” guyonan yang sering digunakan untuk menggambarkan karakter umum para maba yang seolah menegaskan bahwa sesorang yang masih menyandang gelar maba berarti belum saatnya untuk mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya. Gambaran kurangnya pengetahuan yang dimiliki maba tersebut dapat diminimalisir dengan menambah lingkaran pertemanan serta mempertahankan semangat, dan berusaha dalam mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri.

Penulis: Ulfa Munawwaroh /Muhammad Ario Bagus Prakusa/Fatimatuz Zahra /Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here