Melatih Imajinasi Anak-Anak Indonesia, Erasmus Huis Merilis Pertunjukan “Flying Cow”

Erasmus Huis
Foto: Ashar Khoirurrozi/Bul

Yogyakarta- Erasmus Huis menggelar konferensi pers dengan berbagai awak media di Hotel Phoenix Yogyakarta pada Selasa (15/1).  Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengenalkan program kerja lembaga Erasmus Huis di Indonesia.

Dalam konferensi pers yang digelar, Erasmus Huis memaparkan tentang profil lembaga Erasmus Huis dan latar belakang terbentuknya lembaga tersebut. Erasmus Huis adalah pusat kebudayaan Belanda yang bertempat di Jakarta, Indonesia. Pusat kebudaayaan ini dinaungi oleh Kedutaan Besar Belanda. Erasmus Huis didirikan pada tahun 1970 yang dilatar belakangi oleh keinginan Belanda menjalin hubungan baik dengan Indonesia setelah adanya ikatan historis selama kurang lebih empat abad lamanya.

Erasmus Huis mempunyai fasilitas yang cukup lengkap. Perpustakaan dengan ribuan judul buku dan tempat yang nyaman, auditorium, museum, dan ruang pertunjukan adalah fasilitas yang ada di Gedung Erasmus Huis, Jakarta. Gedung Erasmus Huis dapat dimasuki oleh siapa saja atau umum dan tidak dipungut biaya. Erasmus Huis juga mempunyai beberapa kegiatan seperti pemutaran film, konser musik, teater, pertunjukan tari dan ceramah. Salah satu pertunjukan tersebut yaitu teater dan tari yang akan melakukan pentas di Kota Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Erasmus Huis akan menggelar de Stilte “Flying Cow” yaitu seni teater dan tari tanpa percakapan dengan mengutamakan suasana yang hening. De Stilte tampil di concert hall Taman Budaya Yogyakarta pada 16 Januari 2019 pukul 19.00 WIB. Target dari pertunjukan ini adalah kalangan anak-anak, tetapi juga dapat dinikmati oleh orang dewasa. Pertunjukan de Stilte di Yogyakarta akan dihadiri ratusan anak-anak dari beberapa panti asuhan. Saat diwawancarai pada konferensi pers, penari de Stilte menjelaskan makna dibalik pertunjukan itu. “De Stilte ingin memberikan kontribusi pada perkembangan imajinasi anak-anak,” tegas Tessa Wouters. De Stilte berusaha untuk merangsang rasa ingin tahu anak-anak dan mendukung keterampilan artistik mereka. Pertunjukan ini sengaja ditampilkan dalam bentuk tarian tanpa percakapan untuk melatih interpretasi dan imajinasi anak. Mereka akan mencoba mengartikan makna dengan perspektif mereka masing-masing.

Wakil Kedutaan Besar Belanda bidang Erasmus Huis, Joyce Nijssen saat diwawancarai mengungkapkan rasa bangganya terhadap seniman Indonesia. Hal ini disebabkan selama ini banyak seniman Belanda yang terinspirasi dari para seniman Indonesia. Harapannya de Stilte dapat menjadi ajang anak-anak Indonesia untuk menemukan jiwa artistik dan meneruskan generasi seniman Indonesia.

Penulis: Ashar Khoirurrozi/Bul
Jabrik: Desi Yunikaputri /Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here