The Catcher in the Rye: Alam Pikir Remaja dan Perlawanan pada Kedewasaan

Catcher in the Rye, novel karangan J. D Salinger yang diterbitkan pada tahun 1951 merupakan novel klasik tentang coming-of-age (usia menuju kedewasaan). Diterbitkan tidak lama setelah perang dunia kedua, novel ini berhasil membuka mata banyak orang mengenai jalan pikir seorang remaja pada masa itu. Meskipun menuai kontroversi karena banyaknya penggunaan kata kasar, novel ini tetap menuai kesuksesan hingga menjadi novel terlaris pada masa itu. Bercerita tentang tiga hari dalam kehidupan Holden Caulfield, seorang remaja berusia 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolah Pencey Prep, pembaca diajak menelusuri jalan pikiran Holden. Pembaca diajak berpetualang bersama Holden yang mencari jawaban dari ketakutan dan kekhawatirannya menuju kedewasaan.

Pada dasarnya, novel ini bercerita mengenai ketakutan Holden ketika diharuskan tumbuh menjadi orang dewasa, sebuah tahapan yang dianggapnya “phony”.  Pencarian jawaban terhadap ketakutan dan kekhawatiran tersebut dimulai saat ia memulai perjalanan pulang ke New York. Di sana, Holden bertemu dengan supir taksi, pelacur, guru lamanya, dan seorang biarawati. Karena menginginkan jawaban, Holden selalu mencoba menceritakan kegelisahannya itu pada beberapa orang. Akan tetapi, pada akhirnya, dia selalu gagal karena tidak ada yang mendengarkan. Perlu dicatat bahwa novel ini diterbitkan tidak lama setelah perang dunia kedua berakhir. Pada masa itu, para remaja mulai mengecap kebebasan, setelah sebelumnya terpaksa menjalani kehidupan orang dewasa. Mereka dituntut untuk mencari uang, mengurus keluarga, dan mengikuti wajib militer. Pada novel ini, tokoh Holden Caulfield merefleksikan sosok remaja yang melawan norma sosial ketika mencari jati diri mereka.

Ketakutan Holden pada pendewasaan diri menimbulkan sebuah keinginan untuk memberhentikan waktu. Melalui keinginan tersebut, Holden berharap dapat melindungi kepolosannya dan orang-orang yang disayanginya dari dunia orang dewasa. Dia ingin menjadi “a catcher in the rye”, seseorang yang menangkap anak-anak agar tidak terjatuh dalam jurang kedewasaan. Dia mengatakan pula bahwa “The best thing, though, in that museum, was that everything always stayed right where it was.” (hal terbaik mengenai museum adalah semua hal selalu berada tetap ditempatnya).

Pertemuan Holden dengan orang-orang dewasa yang biasa disebutnya sebagai “phonies” membuat pandangannya terhadap dunia orang dewasa (a phony world) semakin negatif. Satu-satunya orang yang dianggap baik oleh Holden adalah orang-orang yang tidak bersalah (innocent), seperti adik laki-lakinya Allie, adik perempuannya Phoebe, dan para biarawati.

Pada bagian akhir novel, Holden menyadari bahwa menjadi dewasa adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Hal ini dapat dilihat ketika Holden melihat graffiti berisi tulisan tidak etis di museum favoritnya, National History Museum. Di sana, Holden mendapat pemahaman bahwa tidak ada tempat yang aman. Pada akhirnya, perubahan tidak dapat dihindari. Holden mulai menerima kenyataan itu ketika melihat Phoebe yang berusaha meraih cincin emas di komedi putar. Saat itu, Holden mengatakan “The thing with kids is, if they want to grab the gold ring, you have to let them do it, and not say anything. If they fall off, they fall off, but it’s bad if you say anything to them.” Dari kalimat tersebut, dapat dipahami bahwa Holden mulai menerima kenyataan untuk melangkah maju menuju kedewasaan.

Catcher in the rye mungkin bukan tipe novel yang dapat dinikmati semua orang. Buku  ini hanya menceritakan tentang kisah tiga hari dalam kehidupan seorang remaja berusia 16 tahun yang egois dan kasar. Namun, bagi mereka yang pernah  merasa berada di posisi Holden, buku ini akan menyuguhkan nostalgia. Karena patut diakui, banyak remaja mengalami krisis emosional ketika melalui proses pendewasaan diri.

Penulis: Anisah Nur Shafiyah
Editor: Tri Meilani Ameliya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here