Monolog, Salah Satu Cabang Seni dalam Porsenigama

Foto: Dok. pribadi

Pekan Olahraga dan Seni Gadjah Mada (Porsenigama) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi (Forkom) Gelanggang. Porsenigama berlangsung sejak tanggal (21/10) hingga (1/12) dengan berbagai macam pertandingan di bidang olahraga maupun seni. Terdapat 21 cabang olahraga dan 7 cabang seni yang dilombakan.

Monolog

Salah satu perlombaan seni yang diselenggarakan pada Porsenigama 2018 adalah monolog. Monolog merupakan seni peran dengan satu pemain menjalankan beberapa karakter sekaligus. Tema kali ini diambil dari cerita pendek tahun 90-an. Lomba monolog dilangsungkan pada tanggal (25/10) hingga (28/10). Peserta berasal dari berbagai fakultas, sekolah vokasi, dan sekolah pascasarjana yang ada di Universitas Gadjah Mada. Terhitung sebanyak 16 dari 18 fakultas, 1 sekolah vokasi, dan 1 sekolah pascasarjana ikut meramaikan perlombaan ini.

Masing-masing fakultas mengirimkan satu tim perwakilan monolog yang terdiri dari aktor, penanggung jawab musik, properti, dan pencahayaan. Aktor inilah yang berperan sebagai garda terdepan tim untuk memainkan berbagai macam karakter dengan bantuan para penanggung jawab tiap bagian sebagai penunjang. Pada saat peserta memainkan karakternya, pencahayaan dipusatkan pada panggung dengan keadaan sekitarnya menjadi gelap. Musik dimainkan sebagai iringan agar pertunjukan terlihat lebih hidup. Sementara itu, penonton dibuat duduk ngemper untuk menikmati pertunjukan seni tersebut.

Penampilan para peserta monolog dengan konsep beragam menambah variasi. Salah satu penonton, Ferdi (MIPA’17) menganggap bahwa monolog adalah cabang seni yang menarik dan layak untuk ditonton. “Keren sih, kok bisa gitu ya satu orang nampilin banyak peran. Penjiwaannya keren, kalau marah-marah bisa merinding gitu, soalnya aku sendiri gak bisa,” ujarnya.

Antusiasme penonton

Dari tahun ke tahun, antusiasme warga Gadjah Mada terhadap Porsenigama selalu besar. Hampir semua ajang di masing-masing cabang ramai oleh mahasiswa yang ikut bertanding ataupun sekadar menonton. Bertempat di Gelanggang Mahasiswa, seni monolog dapat dikatakan cukup banyak memperoleh perhatian penonton. Ketua perlombaan monolog pada tahun ini, Mia Rosmayanti, menyatakan bahwa penonton sangat antusias untuk memeriahkan acara monolog. “Gak nyangka penontonnya yang dateng bakal sebanyak ini,” tuturnya.

Menurut Aric Surya Lesmana (FIB ’17), sebagai salah satu perserta, antusiasme penonton sangat penting dalam pertunjukan seni, di luar dari kuantitasnya bila dibandingkan dengan penonton pertandingan olahraga. Dia berpendapat bahwa ketertarikan orang terhadap seni berbeda-beda.

Harapan terhadap Monolog

Pada akhir acara diumumkan pemenang dari lomba monolog yaitu Fakultas Teknik sebagai juara satu, Fakultas Ilmu Budaya sebagai juara dua, lalu Fakultas Filsafat sebagai juara tiga. Terdapat juga pemenang dengan kategori peserta terfavorit yang berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Secara keseluruhan, Mia sangat senang dan bangga atas kesuksesan perlombaan monolog tahun ini. Ia pun berterimakasih kepada para peserta dan penonton yang telah memeriahkan acara. Mia berharap bahwa kedepannya perlombaan monolog tetap mendapat perhatian. “Semoga antusiasme penonton terhadap monolog dipertahankan atau kalau bisa ditambah lagi,” pungkasnya.

Penulis : Syifa Alifah, Tiyo Bagas S/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here