Raden Mas Bhismo: Catur Gatra

Foto: Musa/Bul

Semua itu berawal dari komunikasi. Bhismo menerapkan sistem pemerintahan srawung untuk BEM KM ke depan.

Raden Mas Bhismo Srenggono Purnomo Nugroho atau yang akrab disapa Bhismo resmi mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) KM UGM 2019. Pria yang menjalani studinya di Fakultas Pertanian jurusan Mikrobiologi angkatan 2015 ini telah lama berdinamika di berbagai organisasi. Ia aktif sebagai staf direktur jenderal jaringan eksternal Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian. Setahun kemudian ia terpilih menjadi direktur jenderal kesejahteraan mahasiswa Dema.

Selain itu, ia juga menjadi direktur komunikasi tingkat Indonesia pada organisasi Asosiasi Pertanian Internasional atau IAAF. Rupanya, di saat yang bersamaan, ia juga berhasil meraih beberapa prestasi. Salah satunya karya ilmiah yang berhasil diterima sebagai salah satu jurnal di simposium pertanian internasional Bosnia 2017 silam.

Kenapa tertarik mencalonkan diri sebagai presma? Apa yang dicari?

Banyak sekali. Pengalaman public speaking, mengatur organisasi dan sebagainya. Saya pribadi pergerakannya dari dulu jaringan eksternal. Saya mencoba gebrakan baru bagaimana jika menjadi presiden, menjadi ketua. Itu juga dorongan dari teman-teman, sahabat yang merasa resah akan BEM KM sekarang. Sistem pemerintahan yang akan diterapkan sistem pemerintahan yang srawung. Yang penting komunikasi. Mengayomi teman-teman sesederhana menanyakan kabar hari ini.

Makna pemimpin menurut Bhismo?

Pemimpin yang baik adalah yang bisa mendengarkan sekecil apapun itu, baik tiap insan, individu, dan gadjah mada. Saya akan menjadi pemimpin yang terbuka dan insyaallah akan membumi.

Apa visi misi untuk maju melangkah?

Visi: Catur Gatra (empat pandangan), menjadikan keluarga mahasiswa UGM menjadi rumah pengabdian untuk Indonesia yang berbudaya..

Misi:

  1. Pergerakan UGM itu harus menghasilkan hasil yang nyata. Dalam pandangan saya, BEM KM itu sebagai pohon yang mengakar kuat menjulang tinggi dan berbuah manis. Berbuah manis itu adalah hasil yang nyata.
  2. Menjadikan BEM KM UGM sebagai rumah bersama. Jadi semua lembaga bahkan satu individu di UGM ini berhak datang ke BEM KM untuk memberikan rasa dan keluh kesah.
  3. Menjadikan keluarga UGM sebagai muara pengabdian. Seperti muara pertemuan sungai dan laut. Itulah pengabdian dan KM sebagai
  4. Menjadikan KM UGM sebagai mozaik dari Indonesia berbudaya yang berwawasan nusantara yang mendunia. Pramoedya Ananta Toer dalam filmnya, Bumi Manusia mengatakan, “apalah rasa tanpa budaya, karena rasa adalah anak dari budaya”. Jadi semua itu berawal dari rasa. Rasa-rasa dari semua elemen KM UGM dari tiap Insan dari tiap lembaga, dihimpun menjadi satu pikiran dan gagasan itu kita manifestasikan untuk menjadi satu, kita tempa menjadi sebuah maharasa.

Jadi Maharasa adalah gabungan semuanya ide gagasan pikiran dari semua pihak untuk membuat Indonesia dan Universitas Gadjah Mada yang lebih berbudaya.

Mengapa memilih koalisi partai Kampus Biru dan Gotong Royong?

Sejak menjadi mahasiswa baru, saya sudah menjadi kader dari partai Kampus Biru. Budayanya yang asik. Nilai pribadi saya ada di Partai Gotong Royong, partai tersebut pun menaruh ketertarikan. Kedua partai itu cocok, lalu kemudian terjadilah koalisi.

Apa yang dirasakan terkait BEM KM saat ini?

BEM KM tahun ini campur aduk rasanya. Trend pergerakan BEM KM sangat positif dan bisa beradaptasi dengan zaman. Acara yang hits dan merangkul semua golongan dengan isu-isu yang nyeleneh serta hot. Tapi, rasa itu juga ada keresahan. BEM KM itu kurang srawung, kurang berbagi rasa.

Langkah-langkah untuk merajut rasa Bhismo?

Kuat dari dalam, kita harus menjaga komunikasi dua arah. Harus srawung, aktif, terus berharap, dan meminta tolong. Kita harus mendatangi secara personal dengan maksud yang baik. Kita juga bisa sowan ke rektorat. Tanpa ada stigma bahwa BEM KM ini anti rektorat dan anti pemerintah. Salah satu petinggi Muhammadiyah, Syafi Maarif, pernah berkata bahwa yang paling berhak mengkritik diri sendiri itu sahabatmu yang paling dekat. Jadi, aku menganalogikan bahwa besok BEM KM itu sahabat pemerintah kepada rektorat. Ketika pemerintah dan rektorat membuat kesalahan, di situlah kita mengkritik. Ketika kita semakin dekat kita akan bisa berkomunikasi dengan baik. Entah, nanti akhirnya kontra atau pro, yang jelas kita udah memberi itikad baik.

Bagaimana seharusnya pergerakan BEM KM saat ini?

Aksi tergantung kebutuhan. Keresahan alumni-alumni aktivis mengapa sekarang tidak pernah aksi, demo. Kita harus berkembang sesuai zaman. Kita sowan dengan pihak rektorat. Kita juga harus mengeluarkan pandangan kalau kami punya pandangan sendiri. Apakah kita ada titik temu yang bisa kita kolaborasikan di situ.

Bagaimana pandangan Bhismo mengenai BEM SI?

Sebenarnya BEM SI kurang srawung, terutama ke universitas. Arahnya kurang jelas. Saat ada kajian, sitasi yang digunakan kurang. BEM SI kurang mengikuti zaman. Bisa dibilang terlalu terindikasi dengan politik. Misalnya demo tentang pohon, seharusnya kita meluncurkan aksi bagi-bagi bibit pohon yang lebih bermanfaat bagi sesama. Akan memperbaiki dan mereparasi lingkungan. Tidak hanya sekedar teriak-teriak di jalan mengatakan stop tebang pohon, stop bakar pohon. Harapannya bisa lebih terbuka.

Bagaimana cara Bhismo merangkul BEM fakultas di UGM?

Kita harus srawung. Kita harus inisiatif ke sana, datangi. Nantinya frekuensi itu akan muncul secara ilmiah, seperti gelombang. Ada ombak, puncak, dan titik bawah yang sama. Jika kita tidak pernah main, tidak pernah berbicara, ombak itu tidak akan pernah sama.

Bagaimana tanggapan Bhismo terhadap hasil kerja BEM yang tidak sampai ke akar rumput mahasiswa?

Komunikasi dan mengakar kuat. Harus saling berkomunikasi, tahu apa kebutuhannya. Memang harus ada arahan dari BEM KM, namun tidak bisa selalu intervensi yang nantinya bisa menimbulkan kesan menggurui. Kita hanya sebagai fasilitator. BEM KM setara dengan yang lain.

Jika nanti terpilih, apa yang akan diberikan?

Kesediaan baik tenaga, pikiran, fisik, hati, dan kehadiran untuk menerima kalian semua. Saya akan memberikan janji seperti kesrawungan. Saya akan aktif, berinisiatif, dan berkomunikasi dengan semua pihak agar menjadi sinergi yang baik. Ujung tombak saya di BEM KM adalah jiwa pengabdian untuk masyarakat. Kumpulan ide, gagasan, pikiran, serta pengabdian yang dilakukan setiap dan seluruh masyarakat akan dihimpun kemudian akan diberikan lagi ke masyarakat. Karyanya harus nyata.

Penulis: Desi Yunikaputri, Rani Istiqomah, Saraswati LCG/ Andira Putra/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here