Najmi Mumtaza Rabbany: Perubahan ala Millenial

Foto: Wahyu/Bul

Berangkat dari ketertarikannya di dunia politik, Najmi yakin dapat membawa BEM KM UGM ke arah yg lebih baik.

Najmi Mumtaza Rabbany atau yang kerap disapa Najmi mencalonkan diri menjadi presiden mahasiswa BEM KM UGM 2019. Mahasiswa asal Jakarta ini tengah menempuh studi di prodi IUP Manajemen Kebijakan Publik semenjak tahun 2015. Najmi merupakan mahasiswa IUP pertama dalam sejarah Pemilwa UGM yang mencalonkan diri sebagai presma.

Selain itu, ia juga menjalani studi di Fakultas Hukum UII. Selain kesibukannya sebagai mahasiswa double degree, ia juga aktif mengikuti organisasi di kampus seperti Dewan Mahasiswa (Dema) dan Himpunan Mahasiswa Fisipol. Selain itu, Najmi beserta kawan-kawannya mendirikan berbagai komunitas seperti Melawan Dunia untuk anak-anak penderita kanker dan Jajan Pahala untuk kegiatan bakti sosial.

Kenapa tertarik terjun di dunia politik?

Jawabannya berasal dari dua aspek, diri sendiri dan ilmu. Pertama adalah nilai-nilai yang ditanamkan dari orang tua yang kebetulan adalah salah satu tokoh politik dan organisatoris. Setelah saya melihat bahwa politik itu bisa menciptakan perubahan, saya  ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar aku dengan membawa perubahan itu.

Kedua dari segi ilmu, di MKP (Manajemen dan Kebijakan Publik) saya mempelajari tentang fungsi-fungsi manajemen seperti organizing, controlling, dan lain-lain yang hubungannya apa? MKP terasa dekat dengan keinginan saya, di mana aku ingin bisa mengambil kebijakan-kebijakan yang bermanfaat untuk mahasiswa dan bisa tepat sasaran, tidak harus cepat, asalkan tepat sasaran.

Apa visi dan misi yang dibawa oleh Najmi, calon presiden BEM KM UGM?

Pertama saya ingin menyadarkan teman-teman bahwa UGM sedang membutuhkan ide untuk aspirasi. Ternyata masih banyak yang masih perlu digali. Saya ingin menunjukkan atmosfer bahwa UGM membutuhkan ide. Dan dari kata “ide” tersebut saya ingin mengerucutkan lagi dengan semangat inovatif, dekat, dan elaboratif.

Inovatif, yaitu cara-cara kita sudah tidak boleh kuno. Kita harus memaksimalkan ranah teknologi yang sifatnya lebih strategis untuk menyampaikan sebuah isu. Model seperti ini yang ingin saya kembangkan, nilai pergerakan dan karya-karya yang inovatif. Teman-teman kita punya banyak karya. Anak teknik dengan inovasi teknologi yang bermacam-macam, anak-anak ekonomi dengan pegiat entrepreneur, saya ingin memunculkan narasi-narasi seperti itu. Kampus kita identik dengan pengabdian, kampus kita identik dengan kerakyatan. Pegabdian kita modelnya bukan cuman KKN saja, harus ada hal baru yang digali. Kita mengembangkan entrepreneur dari teman-teman, orang-orang yang suka berbisnis kita maksimalkan. Saya melihat hal itu sebagai sesuatu yang sangat seksi dan inovatif.

Dekat dan elaboratif. Dengan kedekatan, kita tahu masalahnya, dan ketika kita tahu masalah apa yang terjadi, kita bisa mengawal itu. Dalam menumbuhkan semangat elaboratif, kami butuh kesungguhan dan keseriusan dalam bekerja, dalam menanggapi program-program yang sudah dirancang.

Misi yang saya bawa adalah mendengar suara dari berbagai elemen mahasiswa, merajut sinergi dalam membangun pondasi kerja organisasi, dan menyajikan karya sebagai bentuk kontribusi nyata.

Seperti apa bentuk kampanye yang akan dilakukan?

Saya melihat sekarang zaman sudah berubah, model-model kampanye juga harus kreatif. Saya ingin memvisualisasikan dengan video-video kampanye yang lucu, misal  video “seberapa gregetnya lo?”. Jadi ingin yang asyik untuk kampanye ini. Menampilkan video-video yang asyik dan jelas isu-isu apa yang akan dikawal. Kampanye tidak boleh tanpa substansi, artinya mengedepankan lucunya saja atau keatifitasnya saja, tapi isinya gak ada. Jadi kampanye nanti, saya akan menampilkan isu-isu apa yang dikawal, program-program apa yang mesti dikonkretkan, dalam bentuk video atau tulisan.

Pemimpin yang berhasil menurut Najmi seperti apa?

Menurutku pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang sholeh. Misalkan petani, dia bisa dikatakan sholeh apabila dia bisa bangun pagi kerja sampai sore tanpa meninggalkan sholatnya. Pemimpin yang sholeh itu dia sibuk, punya program, punya massa, dia punya orang-orang yang mesti diangkat, dan dia bisa membawa manfaat. Presma yang sholeh itu yang bisa membawa manfaat untuk teman-teman sekitarnya. Jadi, pemimpin yang sholeh yaitu pemimpin yang bisa memantaskan diri. Ketika dia jadi presma dia tahu dia harus seperti apa. Seperti dia tidak menyakiti rakyatnya, tidak ingkar janji itu juga sholeh.

Seberapa yakin Najmi bisa terpilih?

Intinya harus optimis. Optimisme itu harus ada, tapi pada intinya saya ingin angkat juga semangat dari kolaboratif, semangat yang berkolaborasi. Saya melihat Salahuddin Al Ayubi sebagai pemimpin yang sangat disegani, pemimpin yang sangat dihormati karena dia bisa menghargai lawan-lawannya. Dia bisa mengangkat apa yang bisa diangkat oleh lawan-lawannya dan dia justru disegani sama lawan-lawannya. Dia dihargai, maka dari itu poinnya ketika saya melihat Fathur, melihat Bhismo dengan perbedaan-perbedaan gagasan adalah sebuah kekayaan. Saya akan mengangkat juga harapannya mas Fathur, rasanya mas Bhismo, ke dalam satu ide untuk menjadikan UGM lebih baik. Jadi, semisal aku terpilih pun tenang, timsesnya mas Fathur, timsesnya mas Bhismo, akan tetap saya tampung juga untuk kolaborasi.

Mengapa mahasiswa UGM harus memilih Najmi?

Saya dilihat sebagai orang yang millenial yang menggunakan approach atau pendekatan-pendekatan yang kekinian. Saya sampaikan bahwa musuh bersama kita itu kalau dulu jaman dulu itu penjajah,  selanjutnya pemerintahan orba, dan sekarang common enemy kita itu ekonomi global. Saya melihat kalau kita tidak bisa men-drive diri kita untuk mempersiapkan tantangan ekonomi global, itu kita tak berarti. Saya ingin membawa semangat dari teman-teman untuk melihat ke arah sana. Bahwa BEM itu tidak boleh menjadi instansi yang kolot, yang menggunakan old way dengan menempuh cara-cara yang kurang jelas. Salah satunya dengan menempuh dua hal, yang pertama menggunakan ekonomi digital, yang kedua ekonomi kreatif. Nah, saya ingin mengangkat itu karena pergerakan kita itu sudah mengalami pergeseran. Kita harus membaca situasi dan saya siap menggunakan cara-cara yang kekinian untuk membuat UGM bukan hanya harum di tanah air, tapi juga harum di mancanegara. Nah satu lagi, selain menyerap apa yang ada di luar, kita juga menggali apa yang kita punya dari dalam sehingga kita tidak lupa diri.

Penulis: Septiana Hidayatus, Brenna Azhra S, Nira Rahmadewi, Agatha Vidya/ Fatimatuz Zahra/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here