Rapor untuk BEM KM

Ilustrasi: Rofi/Bul

Memasuki lebih setengah tahun kinerja, rapor BEM menuai pro dan kontra.

Hampir setengah tahun masa jabatan Obed dan kawan-kawan di BEM KM UGM berjalan. Selama itu juga banyak hal yang sudah dilakukan mereka untuk warga kampus, mulai dari kegiatan yang melibatkan mahasiswa sampai rektorat. Tentunya itu menimbulkan berbagai reaksi dan pendapat yang berbeda dari mahasiswa.

Apresiasi

Memasuki bulan ke tujuh masa jabatan Obed, Zuhdi Hidayat (Bahasa Inggris SV’16) membuka suara terhadap kinerja BEM. “Mereka tahun ini bisa dikatakan baik dan tidak. Untuk baiknya, BEM lebih dekat mahasiswa dengan pendekatan kultural yang dibawakan oleh Obed. Tetapi, buruknya adalah isu-isu yang dikawal tidak sesuai yang diharapkan. Saya berharap agar lebih jelas arahnya,” jelas Zuhdi. Lain halnya dengan Meidiani Rahmayanti (Bahasa Korea SV’16), ia lebih menekankan pandangan terhadap kegiatan yang diadakan oleh BEM. “Setelah mengikuti kegiatan yang diadakan BEM, pikiran saya menjadi terbuka. Saya menjadi pribadi yang lebih berbeda. Melihat sudut pandang dari manapun itu selalu baik,” tutur Meidiani.

Berbeda opini, M. Atiatul Muqtadir atau yang akrab disapa Fatur (Kedokteran Gigi’15) mengapresiasi adanya strategi diferensiasi yang dilakukan pada program kerja kepengurusan BEM tahun ini. “Obed mencoba melakukan hal-hal yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh Alfath di periode kepengurusan sebelumnya. Dalam hubungan organisasi misalnya, ketika tahun 2017 memperkuat hubungan dan sinkronisasi gerakan melalui lembaga-lembaga eksekutif fakultas, tahun ini mencoba merangkul elemen berbeda seperti UKM atau komunitas,” tuturnya.

Kinerja belum optimal

Hasil dari laporan publik, permasalahan internal, pergantian kabinet yang tidak transparan, serta kementrian-kementrian yang masih terkesan loyo membuat kinerja BEM kurang memuaskan. Fatur merasa kinerja BEM selama setengah tahun lebih ini dirasa belum optimal. Ia berpendapat bahwa BEM dalam melakukan pemilihan isu tidak melalui proses kesepakatan lembaga fakultas. “Banyak isu-isu dilakukan mendadak sehingga partisipasi mahasiswa kurang banyak. Kemudian dianggap selesai hanya ketika hasil audiensi atau diplomasi dengan pihak kampus telah dilaporkan baik melalui forum atau melaui media sosial,” ungkapnya.

Di sisi lain, menurut Dianrafi Alphatio Wijaya (Departemen Politik dan Pemerintahan’15), anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa yang berkewajiban mengawasi kementerian, berharap agar BEM mulai berbenah baik ke dalam maupun keluar. “Permasalahan-permasalahan internal sudah seharusnya segera diselesaikan. Staf yang mulai hilang sudah sepatutnya diajak kembali,” ucapnya. Dianrafi juga menyayangkan organisasi yang membutuhkan banyak orang justru ditinggalkan oleh anggotanya. Ia berharap untuk urusan eksternal, BEM harus bisa kembali menjadi garda terdepan dalam pergerakan mahasiswa seperti kegiatan diskusi, propaganda, maupun aksi turun ke jalan. “Mereka perlu mengambil peran yang sekarang mulai dianggap tidak menarik bagi banyak mahasiswa,” imbuhnya.

Dianrafi menjabarkan cara yang bisa dilakukan. Yaitu mulai melalui gerakan berbasis teknologi, campaign kreatif, dan mobilisasi melalui media. Belum cukup berhenti di situ saja, tugas dari BEM sebagai pengadvokasi masyarakat juga harus dimaksimalkan. Ia melihat masih sedikit peran dari BEM yang dapat membantu masyarakat melalui advokasinya.

 

Penulis: Rani Istiqomah, Brenna Azhra S, Nira Rahmadewi/Bul
Editor: Trishna Dewi W/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here