E-Sports Jadi Cabor Baru di Asian Games 2018

Sebagai salah satu event olahraga terbesar se-Asia, Asian Games berhasil membuat gebrakan. Salah satunya dengan memasukkan e-sport sebagai cabor ekshibisi.

Salah satu cabang olahraga baru yang diperlombakan di Asian Games 2018 adalah olahraga elektronik atau yang kerap disebut e-sports. E-sports perdana diperlombakan dalam kompetisi terbesar di Asia yaitu Asian Games 2018. Meskipun masih dikategorikan sebagai cabor ekshibisi, namun antusiasme peserta sangat besar dalam cabor ini. Hal ini terbukti dengan keikutsertaan 27 negara dalam cabor e-sports.

Setelah babak kualifikasi, setidaknya ada 18 negara yang layak melaju dalam kompetisi ini yakni China, Jepang, Korea Selatan, China Hongkong, China Taipei, Arab Saudi, India, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, Sri Langka, Iran, Pakistan, Kazahstan, Kyrgyztan, Uzbekistan. Tak ketinggalan tuan rumah Indonesia. Beberapa game yang diikutsertakan dalam perlombaan adalah League of Legends, Pro Evolution Soccer, Arena of Valor, Starcraft II, Hearthstone, dan Clash Royale.

Kabar gembira dipersembahkan oleh atlet cabor e-sport Indonesia yang berhasil menyabet sekeping emas dan perunggu dari game Clash Royale dan Heartstone. Mereka adalah Ridel Sumarandak sebagai peraih emas, serta perunggu yang dipersembahkan Hendry Handisurya. Terlepas dari e-sports yang masih berstatus cabor ekshibisi yakni peraihan medali tidak dimasukkan ke dalam klasmen, pemerintah tetap memberikan apresiasi pada kedua atlet dari cabor e-sports tersebut. Ridel dan Hendry masing-masing diberi bonus sebesar 20 juta rupiah. Tak tanggung-tanggung, Kemenpora juga memberikan bonus kepada pelatih mereka. Hal ini dilakukan untuk memberikan semangat dan motivasi bagi calon atlet olahraga elektronik di Indonesia. Semangat ini tentu diperlukan untuk menghadapi Sea Games 2019 yang digadang-gadang akan menjadikan e-sports sebagai cabang prestasi.

Hadirnya cabor e-sports memang cukup memberi efek kejut bagi sebagian masyarakat. Mengingat stigma game yang terlanjur miring di mata masyarakat, tentu saja ada kontra yang hadir. Namun, Inasgoc selaku Komite Penyelenggara Asian Games mempertimbangkan e-sports sebagai cabor yang membutuhkan strategi untuk menyelesaikan misi serta memerlukan latihan fisik dan manajeman waktu yang baik agar tetap prima dan konsentrasi selama pertandingan. Hal inipun diakui oleh Handioza Hartono (Komunikasi’17) yang merupakan penggiat game,gak pernah sakit karena nge-game, sih” ungkapnya. Pemuda yang kerap disapa Hanno ini juga mengangap positif adanya cabor e-sports di Asian Games. “Ya, baguslah. Setuju banget masukin e-sports ke Asian Games,” ungkapnya.

Hanno yang sempat mengikutsertakan diri dalam kompetisi game lokal dan berhasil meraih peringkat 3 ini berharap semoga ke depannya e-sports lebih diperhatikan lagi. “Ya, gamers Indonesia jadi mulai dipandang kayak di luar negeri. Jadi, makin sering ada lomba-lomba resmi,” tutupnya.

<iframe width=”853″ height=”480″ src=”https://www.youtube.com/embed/7APeVDTWNUY?ecver=1″ frameborder=”0″ allow=”autoplay; encrypted-media” allowfullscreen></iframe>

Kemajuan olahraga Indonesia di samping ditunjukkan pada perolehan medali Asian Games, juga diperkenalkan jenis olahraga baru. E-sport menjadi wadah gamers untuk ikut membanggakan Indonesia. Mungkin tidak saja Hanno yang setuju, banyak gamers lain yang mendukung. Namun, tak bisa lepas juga dengan adanya pendapat kontra. Lantas, setujukah jika e-sport perlu diboomingkan lagi?

 

Referensi:

http://gadget.bisnis.com/read/20180625/279/809264/18-peserta-kompetisi-e-sports-di-asian-games-2018 diakses pada 11 September 2018

https://www.liputan6.com/asian-games/read/3638934/kontingen-e-sport-dapat-sertifikat-dan-bonus-tambahan-dari-kemenpora diakses pada 11 September 2018

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-44933705 diakses pada 11 September 2018.

 

Penulis: Maya Ristining Tyas/ Anisa Sawu/Bul
Editor: Hadafi Farisa R/Bul