Cepat Tanggap UGM untuk Lombok

Foto: Kagama Care

Gempa Bumi yang mengguncang masyarakat Lombok. UGM bersama berbagai pihak melakukan gerak cepat untuk membantu memulihkan kerusakan dan trauma masyarakat.

Lombok, Nusa Tenggara Barat diguncang gempa 7 SR hingga dua kali-dibarengi dengan gempa susulan berkali-kali. UGM bersama dengan berbagai pihak menurunkan berbagai macam bantuan untuk Lombok. Ada gerakan dari Kagama Care yang turut berpartisipasi, hingga pembangunan hunian-hunian.

(Seperti) KKN tagar dua

Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) Virtual (platform Facebook) bersama Kagama NTB menginisiasi respon tanggap bencana Lombok, pertengahan Agustus lalu. Selanjutnya kedua unit tersebut membentuk Kagama Care sebagai program tanggap bencana. Musfira Muslihat, salah satu relawan yang dikirim Kagama Care ke Lombak berbagi kisahnya kepada Bul. “Pertama, yang membuat aku ikut itu niat. Ini dari individu ya. Kan habis KKN. Nah, itu selo dan tidak ada (kegiatan) apa-apa. Ternyata ada tawaran kegiatan itu. Dan (kegiatan) itu bersama teman-teman KKN sebelumnya. Ada dua orang,” ujar Fira saat ditemui di Perpustakaan Pusat UGM.

Fira, anggota tim kloter pertama diterjunkan pada Senin, 13 Agustus 2018. Ia menceritakan kondisi awal kedatangan tim di Lombok. “Sampai di Lombok Rabu malam. Kami memakai transportasi laut. Pertama ke sana. Gelap, wah itu benar-benar luar biasa gelap. Kedua, rumah rata dengan tanah. Ketiga, warga sudah tidak tahu mau melakukan apa-dan kemarin (pas di sana) penanggulangannya, warga dikasih catur dan karambol,” imbuh Fira. Program-program kloter pertama disesuaikan kondisi awal di sana. Mereka (tim pertama) dibagi menjadi beberapa tim, ada tim destroyer yang membantu membersihkan puing rumah warga, ada tim pipa yang mengalirkan air dari Rinjani, ada tim masjid yang membangun masjid, lalu ada satu tambahan tim healing.

Fira yang merupakan mahasiswa Jurusan Psikologi menyoroti program perihal healing. Fira dan tim melakukan kegiatan-kegiatan bersama anak dan remaja di Desa Belq dan Gumantar. “Pada saat aku ke sana. Kan itu awal. Yang baru datang (untuk penanganan healing) cuma dari Jakarta setahuku. Selain itu belum datang. Namun sekarang sudah ada Psikolog,” ujarnya.

Partisipasi dari Kagama Care

Senin (10/9) tim tahap 2 dari Kagama telah menyelesaikan kegiatan Kagama Care di Lombok. Kagama Care menerjunkan 15 relawan untuk Lombok pada tahap kedua. Melalui kegiatan Kagama Care, para relawan mengerjakan beberapa project seperti bersih-bersih bangunan dan reruntuhan, bersih-bersih masjid, dan membantu warga menyediakan air dengan membersihkan saluran air.

“Tahap dua sebenarnya sih melanjutkan pekerjaan yang sudah dibuat oleh para relawan tahap satu. Kemarin sempat bikin kamar mandi darurat, sementara. Sehabis gempa, orang di masyarakat daerah Gumantar (lokasi posko Kagama Care) rata-rata mandi di sungai atau Kebun, jadi kita mencoba bikin kamar mandi sementara di sebelah masjid,” ungkap Wahdan (relawan Kagama Care untuk Lombok)

Selama 10 hari berada di posko yang berada di Gumantar, Kagama Care mendistribusikan bantuan hingga ke daerah-daerah pelosok yang lain yang masih dapat terjangkau. Fokus dan tujuan dari kegiatan relawan Kagama Care ini adalah pembangunan tempat ibadah seperti masjid untuk warga agar pulih kembali. Selanjutnya, pemasangan pipa air untuk air bersih warga. Kedepannya, akan dilanjutkan oleh program KKN dengan meningkatkan pariwisata Lombok karena budaya yang dimiliki masih terbilang kuat. Salah satu program yang telah berjalan, juga dibuktikan dengan dibukanya jalur pendakian Gunung Rinjani untuk wisatawan agar dapat membantu menaikkan kembali ekonomi masyarakat sekitar. Posisi posko Kagama Care yang berada di Gumantar dan berada di kaki Gunung Rinjani memudahkan akses para relawan untuk membantu melakukan pembukaan jalur pendakian ini.

Relawan dari Kagama Care ini tidak dituntut dengan kualifikasi tertentu. Selama mau bergabung dan melakukan aksi sosial bersama, maka mereka dapat berangkat sebagai relawan. “Harapannya ke depan, Kagama Care ini tetap bisa berlanjut program-programnya. Agar bisa membawa kebermanfaatan untuk masyarakat Lombok dan membawa kemajuan untuk masyarakat Lombok nantinya,” ujar Wahdan.

RISHA dan Huntrap untuk Lombok

RISHA atau singkatan Rumah Instan Sederhana Sehat Tahan Gempa adalah hasil kerjasama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama Fakultas Teknik UGM. RISHA ini diharapkan dapat menjadi bangunan instan yang membantu memberikan tempat tinggal atau bangunan fungsional lainnya sementara untuk warga Lombok. Penerjunan mahasiswa volunteer pada program RISHA sebanyak 60 orang ini di bawah pengawasan dosen dari masing-masing departemen yang terlibat.

“Teknologi ini menggunakan sistem modular sehingga mudah dipasang dan lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan konstruksi rumah konvensional. Biayanya juga terjangkau, mudah dipindahkan karena knock down (moveable), dan tahan gempa .” ungkap Ahar Saputra (Dosen Teknik Sipil UGM)

Selama 14 hari berada di lapangan, para volunteer telah mengerjakan dan turut serta dalam pembuatan RISHA. Dari total 60 volunteer RISHA, dibagi menjadi 6 tim yaitu 1 tim desain RISHA, 3 Tim RISHA yang turun langsung dalam pembangunan RISHA, dan 2 tim MCK untuk mendistribusikan toilet portabel. “Ada distribusi toilet portabel juga. Ada sosialisasi RISHA yang kerjasama dari Rekompak (Rehabilitasi dan Rekonstruksi Permukiman Berbasis Komunitas). Dari KEMENPUPR juga,” ujar Paramitha Nur Laily (Arsitektur ’15) yang turut serta dalam volunteer.

Berbeda dengan RISHA, adapula Huntrap atau Hunian Transisi menuju Permanen yang akan dibangun di beberapa titik lokasi dan sekarang sudah terbangun 6 unit huntrap. Nantinya akan dibangun 50 huntrap yang merupakan produk resmi Kementerian Perhubungan yang bekerja sama dengan Fakultas Teknik dan desain oleh teman-teman Teknik sendiri. Konsep Huntrap ini dibangun dengan rangka baja yang lebih tahan gempa sedangkan dindingnya menggunakan material yang masih dimiliki oleh masyarakat, contohnya bambu atau papan. Untuk tahap awal, rumah ini akan dibangun dengan luas 18 meter persegi (3 x 6 m) yang kemudian nantinya akan bisa dijadikan rumah permanen yang lebih luas lagi 36, 72 meter persegi, dst.

“Kita ingin basisnya masyarakat sendiri yang bangkit dan berdaya kembali untuk membangun masa depannya. Huntrap juga sebagai alternatif kalau dalam pembangunan RISHA terkendala waktu karena kurang cepat. Harapannya yang pasti dengan adanya Huntrap/RISHA dapat membantu warga agar tidak tinggal di pengungsian karena apabila di tenda juga rentan terhadap penyakit apalagi musim hujan seperti ini,” tambah Ahar.

Cepat tanggap UGM dalam membantu Lombok melalui program-program seperti aksi Kagama Care, RISHA, Huntrap diharapkan dapat membantu mempercepat pemulihan Lombok. Pembangunan dari segi fisik bangunan dan fasilitas umum, ataupun trauma healing yang dirasakan oleh masyarakat Lombok dan sekitarnya.

 

Penulis: Akyunia Labiba
Editor: Hadafi Farisa