Ketika Bintang Jatuh

Cheryl masih asyik dengan teleskopnya dan Mike hanya berbaring di atas rumput sambil memandangi langit malam dengan mata telanjang. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang mengagumi langit. Seperti itulah yang diharapkan Mike. Tetapi kenyataannya bukan. Mereka bukan sepasang kekasih. Cheryl hanyalah teman masa kecil Mike saat mereka tinggal di Jakarta hingga mereka dipertemukan lagi di sebuah sekolah swasta di Jogja.

“Setiap detik di bumi selalu ada satu bintang yang mengalami supernova. Tapi sulit untuk menemukan bintang yang megalami supernova, karena berbagai keterbatasan.” celetuk Cheryl saat mengangkat kepalanya dari teleskop.

Mike hanya tersenyum saat melihat Cheryl menggumamkan teori yang sudah sering ia baca dari Wikipedia. “Supernova yang pernah teramati adalah supernova tipe Ia yang terjadi di luar galaksi NGC 4526,” tambahnya. Lalu mereka berdua terbahak bersama.

Malam ini rasanya tak tertahankan lagi. Sudah lama Mike memendam perasaan kepada Cheryl. Mungkin mereka tidak akan sedekat ini jika bukan karena Olimpiade Kimia dan kegemaran mereka terhadap Astronomi.

Mereka berdua benar-benar seperti Pierre dan Marie Curie. Belajar dan mengamati bersama. Hanya saja, mereka baru sebatas teman. Entah apakah cinta akan turut hadir atau tidak.

Jika Paradoks Fermi merupakan kontradiksi antara kemungkinan keberadaan peradaban ekstraterial yang tinggi dengan kurangnya bukti atau hubungan semacam itu, maka Paradoks Mike adalah kontradiksi antara kemungkinan perasaan ekstra dari Cheryl dengan kurangnya bukti semacam itu (karena Cheryl terbukti menyayanginya sebatas teman atau kakak dan adik).

“Kamu udah terima video yang aku kirim?” Tanya Cheryl sambil menyerahkan teleskop ke tangan Mike. Sekarang gilirannya mengamati gliter-gliter itu.

“Iya, aku udah lihat. Keren ya, gara-gara ada elektron yang terperangkap di dalam molekul rumit, maka elektron itu cuma bisa muter-muter aja dan menghasilkan energi.” Kata Mike takjub.

Cheryl tersenyum mendengar penjelasan Mike tentang peristiwa fluorescence. “Ah, tapi masih kalah keren sama astronomi,” jawab Cheryl sambil membaca salah satu buku Mike, tentang Kosmologi.

“Dan banyaknya teka-teki jagat raya yang belum terpecahkan,” tambah Mike yang mulai meringkas teleskop Cheryl.

“Udahan yuk, aku ngantuk nih.” Katanya sambil menyerahkan teleskop dan mengambil buku yang dibawa Cheryl.

***

Hari yang sibuk dan melelahkan. Anak-anak masih berisik meski istirahat telah usai. Begitu juga dengan Cheryl yang masih enggan melepas hands free-nya.

“Guys… attention!” teriak ketua kelas, meminta perhatian dari anak-anak. “Gini, ada lomba menulis esai dari tim mading sekolah. Masing-masing kelas wajib ngumpulin satu esai. Ada yang mau jadi sukarelawan?” Tanya ketua kelas sambil menunjukkan poster lomba itu.

“Gimana kalo Cheryl aja yang nulis. Dia kan selalu banyak ide,” cetus seorang anak.

“Cheryl? Gimana, mau?” Tanya sang ketua kelas.

“Eh? Umm. Boleh lah,” Cheryl menyanggupi.

Di lain kelas juga terjadi situasi yang sama. Mike sedang mengumumkan tentang lomba menulis esai. “Jadi, siapa yang mau ikut? Lebih dari satu boleh kok.” Katanya kepada seluruh warga XII IPA 1.

“Haha… satu aja belum tentu, apa lagi lebih, Mike.” Kelekar teman sebangkunya sambil melempar tutup spidol dan Mike balas melemparnya kembali.

“Yakin nih pada nggak ada yang mau?” Mike menawarkan sekali lagi.

Ada satu anak yang mengangkat tangannya. “Gue mau,” kata Aryo. “Gue mau ikut nulis esai.”

“Oke,” jawab Mike sambil mencatat nama Aryo. “Ada lagi?” tanyanya sekali lagi. Namun ruangan itu kembali bising yang menandakan tak ada lagi yang berminat dengan kompetisi itu.

***

“Malam Hypatia,” sapa Mike saat Cheryl membuka pintu belakang rumahnya. Merupakan hal biasa jika Mike menemuinya di teras belakang, karena pada akhirnya mereka akan menghabiskan malam di pekarangan belakang.

“Malam Galileo,” sapanya Cheryl. Lalu mereka berdua tertawa bersama.

“Papamu udah tidur?” Tanya Mike sambil menarik tangan Cheryl untuk keluar.

“Belum sih, masih ngerjain kerjaan kantornya tuh. Kata papa, khusus malam ini boleh sampai setengah sepuluh.” Cheryl membantu Mike memasang kaki teleskop.

“Yang bener?” Mike menjadi antusias. “Padahal besok hari sekolah lho?”

“Nggak tau tuh. Mungkin papa butuh temen melek. Setidaknya ada yang masih bangun meski lagi nonton bintang.” Jawabnya.

“Oh…” Mike mulai mengamati langit malam. Musim kemarau seperti ini merupakan kesenangan tersendiri bagi mereka berdua. Karena langit malam akan terbebas dari awan.

“Kamu ikut lomba esai?” Cheryl memulai pembicaraan.

“Lomba?” Mike berpikir sejenak. “Oh, lomba esai? Aku nggak ikut. Emang kenapa?”

“Umm… kelasmu siapa aja yang ikut?” Tanya Cheryl gugup. Jantungnya berdebar cepat. Berharap seseorang yang ia kagumi mengikuti lomba itu.

“Cuma satu.” Jawab Mike singkat.

“Siapa?” Penasaran Cheryl semakin tak tertahankan.

“Aryo.” Lalu Mike mengangkat kepalanya dari teleskop dan menatap ke arah Cheryl. Rupanya Cheryl sedang tersenyum. “Kenapa? Kok sumringah gitu?” Mike menjadi penasaran.

“Bukan apa-apa,” kata Cheryl yang mengambil alih teleskop itu.

“Kamu suka ya?” tanya Mike to the point. Tetapi pertanyaan itu membuatnya menjadi ketakutan. Ia takut jika Cheryl menyukainya.

“Nggak sih biasa aja,” Cheryl tetap menutupi perasaannya.

“Syukurlah,” gumam Mike.

“Eh?” Rupanya Cheryl mendengar perkataan Mike. “Kamu bilang apa?”

“Syukurlah nggak mendung.” Kata Mike. Beruntung saat itu Mike menemukan sesuatu yang bergerak di langit. “Eh, lihat deh. Ada bintang jatuh.” Tunjuk Mike ke langit.

Cepat-cepat Cheryl mengarahkan teleskopnya ke arah yang ditunjuk Mike. Rupanya benar. Ada bintang yang jatuh. “Ayo make a wish” Kata Cheryl antusias. Lalu ia menutup mata dan melipat tangan layaknya orang berdoa.

Begitu juga dengan Mike. Hanya saja ia tidak menutup mata dan melipat tangan seperti Cheryl. Ia hanya memandangi Cheryl, sambil membisikkan harapan-harapannya, di hatinya sendiri. Ada harapan yang hampir semuanya berwujud wajah Cheryl.

Begitu Cheryl membuka mata, Mike mengalihkan pandangan darinya. “Semoga lain waktu ada bintang jatuh lagi,” kata Mike sambil menatap langit malam yang sendu.

Cheryl kembali memerhatikan bintang-bintangnya lagi. Saat itu juga, Mike menyelipkan lipatan kertas pada buku yang akan dipinjam Cheryl. Berharap, Cheryl segera menemukannya dan membacanya.

***

Dada Cheryl berdegup kencang saat ia duduk di bangkunya. Ia begitu senang dengan kenyataan bahwa esainya dan esai Aryo yang masuk lima besar. Itu berarti, mereka akan bertemu di final siang ini. Mereka harus mempresentasikan karya mereka.

Sudah lama Cheryl menanti agar bisa mengenal Aryo lebih dekat. Maka, siang ini Cheryl langsung menuju ruang audio visual, tempat presentasi dilangsungkan.

Ia memilih kursi paling belakang agar ia dapat mencuri kesempatan untuk membaca buku pinjaman Mike. Namun baru sempat membaca bagian epilog, ia menemukan sepucuk surat. Ia tahu betul bahwa itu tulisan tangan Mike.

Sing to me the song of the stars
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again

Itu adalah penggalan lagu dari salah satu soundtrack film barat.

Cheryl termenung, memikirkan maksud dari pesan itu. Ia merasa, ada sesuatu yang ingin Mike sampaikan. Mungkin salah satu harapan terbesar dalam hidupnya. Seperti dalam film soundtrack ini.

“Hai, lama nggak ngobrol sama kamu,” suara Aryo mengejutkannya. Ia tersenyum pada Cheryl dan duduk di sampingnya.

“Iya nih. Kamunya sih, sibuk melulu,” jawab Cheryl sambil menyelipkan kertas itu ke bukunya lagi.

“Iya, aku harus belajar. Aku harus masuk astronomi ITB.” Jawab Aryo. Sambil sesekali melihat ke depan. Agar ia tidak terlihat sibuk sendiri.

“Astronomi ITB?” Cheryl heran sekaligus penasaran. “Kamu tertarik sama astronomi?” Tanya Cheryl.

“Ih… kepo deh!” Timpal Aryo sambil melemparkan pandangan jijiknya dengan bercanda. Lalu ia menjawab pertanyaan Cheryl. “Iya. Aku suka Astrometri sama mekanika benda langit,” jawabnya.
Cheryl merasa senang. Rupanya orang yang selama ini ia kagumi juga menyukai Astronomi. Sama seperti dirinya.

“Kok nggak bilang dari dulu?” kata Cheryl yang juga curi-curi pandang ke arah Aryo. “Kalo bilang dari dulu, kan kita bisa lihat bintang bareng-bareng.”

“Lihat bintang bareng-bareng? Maksud kamu sama Mike?” Tanya Aryo balik.

“Iya.” Cheryl menghentikan perkataannya sejenak dan berpikir. “Kamu tahu dari mana kalo Mike sering merhatiin langit sama aku?”

Aryo menghadap ke arah Cheryl. “Satu kelas tuh udah tahu kegiatan kalian berdua tiap malam,” jawab Aryo sambil tersenyum menahan tawa.

Cheryl penasaran campur bingung. “Dia cerita?”

Kali ini Aryo tidak melihat ke arah Cheryl. “Enggak secara langsung sih. Soalnya dia sering tidur tiap istirahat pertama dan dia ngelindur nama kamu dan bintang-bintang gitu. Apalagi dia sering nulis-nulis nama kamu di buku catatannya. Dihias pake bintang-bintang segala.” Cerita Aryo. “Aku juga tahu dari adiknya. Dia sering main ke rumahku. Katanya habis makan malam, Mike selalu ke rumah kamu sambil bawa buku astronomi. Begitu.”
Cheryl termangu mendengar cerita Aryo. Cheryl masih mencerna setiap kata-kata Aryo. Menghubungkan setiap maksud kedatangan Mike dan tulisan yang diselipkan Mike barusan. Mungkinkah itu artinya Mike menyukai dirinya? Setiap kunjungan Mike bersama buku-bukunya adalah karena Mike menyukainya? “Aryo, dia cerita apa aja ke kamu?” Cheryl bertanya sekali lagi.

Aryo melihat ke arahnya. “Nggak banyak. Tapi intinya dia suka kamu.” Itu saja jawaban Aryo. Karena tiba gilirannya untuk mepresentasikan esainya.

***

Malam ini terasa berbeda bagi Mike. Mike merasa tak perlu datang kerumah Cheryl karena memang sudah seharusnya begitu.

Mike mengingat apa yang dikatakan Aryo saat istirahat. Ia berkata bahawa ia akan menyatakan cintanya pada seseorang saat final nanti. Hal itu membuat Mike semakin gusar. Apa lagi saat ia menyebutkan kelas gadis itu. XI IPA 2. Itu adalah kelas Cheryl!

Mike gelisah bukan main saat mendengar ucapan Aryo. Tetapi ia berusaha terlihat tenang di hadapan sahabatnya itu.

Maka sepulang sekolah, saat presentasi para finalis dimulai ia melihat Cheryl duduk di belakang sendiri. Lalu Aryo duduk tepat disamping Cheryl. Mereka saling melempar senyum dan memulai suatu percakapan.

Sesekali ia mendengar kata astronomi diucapkan Aryo. “Dasar Licik!” Kata Mike dalam hati. Enak saja menggunaka astronomi untuk mengikat hati Cheryl! Mike yang benar-benar menyukai astronomi tidak pernah menggunakan hal itu untuk mendekati Cheryl. Tetapi astronomi yang mendekatkan mereka.

Lalu samar-samar ia juga mendengar kata “suka sama kamu” dilontarkan oleh Aryo. Rasanya seperti meteor yang jatuh ke bumi, menghasilkan tekanan ram pada sisi depan meteoroid. Tekanan ini memanaskan udara yang akhirnya memanaskan meteor itu sendiri. Begitu juga hati Mike yang terbakar. Perkataan Aryo yang ia dengar memanaskan pikirannya hingga membakar hatinya.

Mike memilih meninggalkan jendela ruang audiovisual dan pulang. Ia hangus. Ia terbakar habis seperti meteor. Ia tak mau lagi mengamati bintang dengan Cheryl lagi. Karena bintang jatuh tak mau mengabulkan permohonannya.

***

Kok belum dateng? Sekarang malem minggu lho?!

Tulis Cheryl di ponselnya dan mengirimnya ke Mike. Lalu berharap agar ponselnya segera berdering.
Harapannya terkabul. Ia mendapat balasan dari Mike. Untuk apa? aku lagi belajar. Balas Mike singkat. Ada yang aneh. Pikir Cheryl.

Ia masih berusaha menghubungi Mike. Lho, bukannya kamu belajarnya tiap sore sama subuh ya?
Aku udah kelas XII, jadi harus belajar ekstra. Ya, Mike memang harus belajar ekstra untuk melupakan Hypatianya itu. Melepaskan begitu banyak energi. Singkatnya, Mike melakukan supernova seperti bintang yang riwatnya telah berakhir.

Selamat ya… sudah juara I. Mike menambahkan. Di dalam hati ia mengkoreksi tulisannya menjadi: Selamat ya, sudah jadian sama Aryo.

***

Ketegangan pun berlanjut di sekolah. Mike tidak mau membalas sapaan Cheryl dan itu membuat Cheryl murung.
Meski sedang sebel-sebelnya dengan Cheryl, Mike masih sempat-sempatnya melihat lini masa Cheryl di media sosial. Ia terkejut, karena tak satupun nama Aryo tercantum di lini masanya. Apalagi tweet terakhirnya adalah saat Ia dan Mike mengamati langit dan menemukan bintang jatuh.

Berarti, Cheryl nggak jadian sama Aryo? Belum tentu juga. Mungkin ia memang tak ingin mempublikasikannya. Mike bergumul dengan pikirannya sendiri.

Lalu muncul tweet terbaru di lini masa Cheryl.

I give You my destiny
I’m giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I’m giving it back

Itu merupakan bagian lain dari lagu yang pernah ia berikan pada Cheryl melalui suratnya. Hal ini memberi setitik harapan baru untuk Mike.

***

Maka setelah satu minggu tanpa senyum, sapa dan salam, Mike memutuskan untuk menemui Cheryl lagi pada malam minggu ini. Namun baru sampai gerbang ia mendapati Cheryl di gerbang belakang rumahnya.

Cheryl hanya tersenyum begitu juga dengan Mike. Lalu mereka saling membisu seperti patung. Diam dan hanya saling memandang.

Maka Mike membuka pembicaraan dengan berkata, “Hai.”

“Halo,” sapa Cheryl. “Siapa ke rumah siapa, nih?” Tanya Cheryl pada Mike. Masing-masing bingung, karena mereka berniat mengunjungi satu sama lain.

“Aku aja.” Jawab Mike dengan sikap gentleman saat membuka gerbang rumahnya dan menyeberangi jalan yang membentang. Membatasi rumahnya dan rumah Cheryl.

Cheryl membukakan gerbang untuk Mike. Cheryl tak menyangka bahwa ia benar-benar merindukan Galileo-nya. “Mmm… aku ambil teleskop dulu.” Kata Cheryl setelah Mike masuk ke halaman belakang rumahnya itu.
Seketika itu juga, saat Cheryl berbalik arah, Mike meraih lengan Cheryl. “Nggak usah. Aku lagi nggak mau ngamati ketombe.” Kata Mike.

Jantung Cheryl berdegup kencang saat Mike meraih lengannya. Begitu juga dengan Mike yang lantas melepaskan lengan Cheryl. “Aku cuma mau balikin buku kamu.” Lalu Mike menyerahkan buku Cheryl.
Cheryl yang terpaku pada tatapan Mike menjadi gugup. “A-aku juga mau balikin bukumu.” Kata Cheryl terbata. Lalu mereka bertukar buku.

Lalu mereka terdiam cukup lama. Memandang satu sama lain dan bergumul dengan pikiran masing-masing. Maka lagi-lagi Mike harus membuka pembicaraan untuk memecah keheningan ini.

“Gimana kabarmu?” Mike mencoba membukanya dengan hal remeh. Sekalian mencari tahu tentang hubungannya dengan Aryo.

“Baik. Kamu sendiri?” Tanya Cheryl.

Sebenarnya kabar Mike biasa saja, bahkan cenderung ke arah negatif. “Fine too.” Lalu Mike memberanikan diri untuk bertanya tentang yang satu ini. “Mmm… gimana kamu sama Aryo?” Mike menggaruk belakang kepalanya.
Cheryl tersenyum, menyembunyikan tawanya. Sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan ini. “Baik-baik aja. Malah dia mau bikin rencana kencan,” jawab Cheryl asal. Ia berharap, Mike kepanasan.

“Oh…” hanya itu yang dapat Mike katakan. “Ya udah, aku pulang dulu.” Mike menyudahi pertemuan ini.
Tetapi tidak dengan Cheryl, yang tak ingin pertemuan ini berakhir. “Tunggu.” Ia menahan kepergian Mike. “Aku suka pesan kamu.” Jawab Cheryl.

Hati Mike meleleh seketika. Ia berbalik arah dan menatap Cheryl dengan tatapan bahagia.

“Aku juga udah nonton filmnya,” tambah Cheryl.

“A Walk to Remember.” Kata mereka berbarengan.

Setitik cahaya turun dari langit, melesat begitu cepat di angkasa dan itu tertangkap oleh mata mereka berdua.

“Bintang jatuh,” ucap Cheryl sambil menatap ke arah benda itu.

“Let’s make a wish,” timpal Mike.

Mereka menutup mata mereka masing-masing. Aku ingin momen ini tak pernah berakhir, sekalipun Cheryl tidak memiliki rasa yang sama padaku. Pinta Mike dalam hatinya.

“Mmm… Mike, sebenernya aku nggak pacaran sama Aryo.” Aku Cheryl.

Mike bingung. “Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“Iya, aku nggak pacaran sama Aryo dan Aryo nggak pernah nembak aku.”

Mike semakin bingung. “Tapi tadi kamu bilang kalo Aryo ngajakin kencan. Kupikir kamu baru ditembak besok itu.”

“Orang dia kencannya hari ini, sama Prima. Temen sekelasku,” jawab Cheryl.

“Astaga!!!” kata Mike sambil menutup mukanya dengan tangannya yang kosong. Mike merasa bodoh dengan ucapan Aryo saat itu. Ia tidak berpikir bahwa ada anak dari XI IPA 2 yang masuk final selain Cheryl. Tetapi ia menghubungkan dengan perkataan Aryo yang ia dengar saat menguping pembicaraan mereka. “Tapi, waktu presentasi Aryo bilang ’suka sama kamu’,” kata Mike dengan wajah murung.

Cheryl berpikir sejenak. Kembali memutar percakapannya dengan Aryo saat di ruang audiovisual hingga ia mendapatkan kata yang dimaksud Mike. “Oh, yang itu?” Cheryl mengulur waktu. Membuat Mike penasaran. “Waktu itu Aryo bilang kalo Michael Jaya Winata itu suka sama Ladya Cheryl. Emang bener?”

Saat itu juga Mike merasa deg-degan. Ia benar-benar seperti supernova saat energinya terpancar dan menyebabkan jantungnya berdegup kencang. Mungkin inilah saatnya ke-jomblo-an dirinya harus berakhir dengan indah. Seperti bintang yang mengalami supernova. Berpendar dengan indah.

Mike menggaruk kepalanya lagi. “Iya.” Akunya, malu-malu. “Tapi… Ladya Cheryl-nya mau nggak?” Tanya Mike malu-malu. Tetapi tetap dengan sikap sok gagah sambil menatap mata Cheryl.

Cheryl hanya tersenyum pada Mike. “Kamu udah kelas XII, jadi harus belajar ekstra.” Cheryl mengutip pesan Mike saat tak ingin bertemu dengan dirinya. “Dah, kamu pulang aja. Istirahat. Sudah malam.” Lalu Cheryl berbalik dan meninggalkan Mike di pekarangan belakang rumahnya.

***

Patah hati. Hancur. Lebur total! Begitulah perasaan Mike. Seharusnya supernova menciptakan kehidupan di alam semesta. Atau lebih tepatnya menimbulkan cinta bagi Mike. Tetapi ia malah digantung seperti ini. Malah bisa dibilang ditolak! Dihancurkan oleh panas dari tekanan ram meteornya. Sekali lagi bintang jatuh menghancurkan harapannya.

Tetapi berbeda dengan Cheryl yang tersenyum puas setelah mengerjai Mike. Sesampainya di kamar ia membuka bukunya. Berharap Mike meninggalkan pesan untuknya lagi. Ternyata ada dan itu merupakan lagu dari David Archuleta.

Like falling stars over your head
They’ve been bound to burn out, burn out
Crashing ’cause I’ll never get over you, never over you
‘Cause you are so beautiful, yeah

Cheryl tersenyum saat membaca pesan itu. Ternyata Mike memang menyukainya, sepenuh hati.

***

Ponsel Mike berbunyi. Ada satu pesan dari Cheryl: Alam semseta terbentuk karena ledakan besar, menurut kajian kosmologi. Aku mau kamu meledak lalu menjadi sesuatu yang baru… Entah menjadi lebih pandai atau lebih baik dari sekarang… Karena aku mau kamu menjadi yang terbaik untukku.

Mike merasakan ledakan besar itu baru saja membentuk harapannya yang baru. Paling tidak bintang jatuh itu menjawab salah satu permohonannya. Untuk permohonan yang lain, ia percaya ada saatnya nanti.

Penulis: Devina Prima Kesumaningtyas
Ilustrasi: Windah Nur