Ayam-ayam Kakek

Kakek masih saja membiarkan ayam-ayam peliharaannya bertengger di kursi teras. Tahi ayam tampak menumpuk di pojokan. Keramik teras yang awalnya berwarna putih mulus sudah penuh bercak-bercak. Kursi teras pun tak luput dari tahi ayam yang mulai melekat. Kakek tetap dengan santainya ngorpeng jegung1. Dia biarkan biji-biji jagung mentah itu bergeletakan di keramik. Ayam-ayam itu berebut mematuk-matuk.

Padahal, ibu sangat sering berbicara keras pada kakek tentang ayam-ayam itu. Dia menyuruh kakek untuk tidak terus-terusan memberi makan ayam di teras. Ibu bilang kalau sudah ada kandang ayam di belakang rumah.

Dua hari lalu memang ibu membayar tukang untuk membuat kandang ayam dari bilah-bilah bambu. Kira-kira tingginya lima kali badanku. Aku tidak tahu alasan ibu menyuruh tukang untuk membuat kandang ayam setinggi itu. Ayam hanya bisa terbang setinggi orang dewasa, kan?
Dari nada bicaranya, ibu percaya, yang membuat ayam betah di teras depan, karena kakek rutin menabur biji-biji jagung di teras saat pagi dan sore. Bahkan, ayam-ayam itu juga tidur di atap teras. Atap rumah kami memang tidak dipasang plafon. Ayam-ayam dapat bertelur di situ, menetas di situ. Tapi, kakek punya pikiran lain tentang hal ini.

“Ayam-ayam itu yang lebih dulu ingin tinggal di sini. Itu terjadi sebelum aku mulai menabur biji-biji jagung di atas keramik,” jawab kakek sambil kedua tangannya masih ngorpeng jegung.

Kedua alis ibu menyempit. Dia sama sekali tak berucap lagi. Matanya tertuju pada kakek, tapi kakek tak memperhatikannya. Ibu kemudian pergi, sepertinya menuju dapur. Aku menyangka ibu tidak akan lagi menegur kakek. Tapi, ternyata di hari-hari berikutnya tetap terjadi lagi. Dan terus berlanjut sampai saat ini.
Kakek lebih sering ngorpeng jegung dengan salah satu tangannya saja, biasanya kanan. Sedang dua jari di tangan kirinya asyik menjepit sebatang rokok. Dihisapnya lamat-lamat rokok kretek itu, dihembuskan, lalu bersenandung dengan suara yang agak berat. Samar-samar aku dengar senandungnya seperti ini:

“Bilis mira… bilis pote…
Dhalmamara dhalmamate
Aeng anyo’ ka delemma ate
…..”

Padahal, kakek sudah pernah dirawat di rumah sakit selama seminggu karena sesak nafas. Batuknya juga semakin keras saat itu. Tapi, sepulang dari rumah sakit kakek langsung memesan lagi satu slop rokok. Aku tak berani berbicara padanya tentang rokok-rokok itu. Bagaimana mungkin mengingatkannya untuk tak lagi merokok? Bahkan dengan jargon sampah ‘rokok haram’, bila di siang hari saat bulan puasa dia masih klepas-klepus dengan rokoknya?

Badanku bergerak mendekati kakek. Tentu saja aku membawa kursi karet yang masih bersih karena kursi-kursi di sekeliling kakek terkotori tahi ayam. Kakek sering bercerita tentang nenek. Bahkan, bisa aku bilang, selalu. Dan ceritanya hampir selalu sama.

Nenek senang memakan anak ayam yang baru saja menetas. Itu sebagai sebuah syarat agar ilmu sihirnya tetap ampuh. Nenek punya dendam dengan tetangga yang rumahnya hanya berjarak lima petak sawah dari rumah kami. Nenek menyihir tetangga itu, sampai meninggal. Begitulah kalau aku rangkum suara-suara dari para tetangga yang membicarakan nenek.

Tentang kesukaan nenek memakan anak ayam yang masih gundul, aku tak menyangsikan. Pagi-pagi sehabis salat subuh, nenek biasanya langsung melesat ke belakang rumah. Waktu itu masih ada kandang kecil dari beberapa papan kayu jati. Mata nenek langsung menjalar ke seluruh sudut kandang. Wajahnya akan sedikit terlipat bila tak ada satupun telur yang menetas. Tapi kelopak matanya akan langsung terbuka lebar ketika terdengar cericitan dari ayam yang masih imut itu.

Tapi, nenek tidak suka memasaknya sendiri. Dia selalu menyuruh ibu untuk menggodoknya dengan santan.
Kalau matahari sudah agak naik, kakek membersihkan kandang kecil itu. Dia mengeruk kotoran ayam yang telah mulai mengering dengan sebilah kayu. Memang tidak setiap hari dia melakukannya. Sepertinya tiga hari sekali. Aku sering mengikutinya. Dia tidak pernah terlihat memegang telur yang belum menetas.

“Kata nenekmu, bila telur-telur itu tersentuh tangan, akan butuh waktu lebih lama untuk menetas.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Aku percaya nenekmu.”

Aku tak melanjutkan pertanyaanku. Asap rokok terus saja berterbangan dari mulut kakek. Dua ayam berada di sampingnya, bertengger di gagang kursi. Sambil berkokok ringan, salah satu ayam mulai mengeluarkan kotorannya.

“Ada di mana kamu saat nenek diseret?” sebelumnya, kakek tak pernah menanyakan ini.

“Sangat dekat dengannya, mengikutinya.”

“Bagaimana dia diseret?”

“Menyedihkan.”

Malam itu tak ada angin berhembus. Padahal, bunyi ombak malam terasa sangat mencekam. Jarak rumahku yang hanya sekitar 200 meter dari pantai memang selalu membuatku mendengar bunyi ombak tiap malam. Tapi, terasa sekali ombak malam itu lebih terkandung kemarahan, gairah, dan kebencian.

Malam belum terlalu larut, namun ibu telah tampak lelah dan mengantuk. Gemuruh ombak tiba-tiba hilang tertelan rongrongan sejumlah manusia di depan rumahku. Aku, yang sedari tadi hanya berkirim pesan singkat dengan kenalan baru, keluar rumah terlebih dahulu. Langsung saja terlihat puluhan orang bercelurit dan membawa obor.

Mereka berteriak, mengancam akan membakar rumah ini bila kami tak menyerahkan nenek. Aku tahu nenek sedang berada di kamarnya.

Mataku hanya memandang ke arah mereka. Tak kuucap sekata pun. Ketika orang-orang itu menangkapku, tubuhku spontan meronta. Tanganku memukul, kaki menendang, sekenanya. Ibu hanya sanggup berteriak saat orang-orang memegang kaki dan tangannya. Mereka menggeledah rumah, meringkus nenek yang mengenakan daster. Mereka menyeret nenek. Hanya rambut dan kedua tangannya yang dipegang. Sementara kaki nenek dibiarkan menggores tanah.

Waktu itu aku sudah remaja, dan hanya dapat menunjukkan wajah penuh derita.

Kakek sedang tidak ada di rumah waktu itu. Seingatku dia sedang berada di Banjar. Tapi mungkin saja dia masih terombang-ambing di atas perahu karena buruknya cuaca. Laut menuju Kalimantan memang sering tak dapat diduga. Meskipun perairan di sekitar pulau yang ku tinggali sangat kalem, tiba-tiba saja ketika sudah mendekati Kalimantan lautnya akan berubah menyerupai hamparan gunung-bukit.

Setidaknya, begitulah yang kakek ceritakan padaku saat dia ada di rumah.

Setiba di rumah, kakek tak langsung mendapat kabar tentang nenek. Aku masih ingat betapa sulitnya berkomunikasi dengan kakek waktu itu. Kakek memang agak kaget ketika dia mengetahui tentang hal-hal yang terjadi pada nenek. Tapi, dia sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih. Raut mukanya hanya datar-datar saja. Saat pertama mendengar kabar itu, dia malah menenggelamkan tangan kanannya di jaket kusut yang selalu dia pakai, tentu saja merogoh bungkus rokok. Kakek lalu merokok di teras rumah sepanjang malam.

Pada suatu kesempatan, aku memberanikan diri bertanya kepada kakek. Kala itu, kakek sedang memakai celana pendek dan kaus kutang yang sudah berlubang, sepertinya dimakan tikus. Dia memang lebih sering diam sekarang. Aku mengira dia sedang banyak pikiran. Tapi mungkin saja dia mulai kehilangan banyak ingatan.

“Apa nenek memang penyihir?”
“Hanya karena dia sering makan ayam gundul? Karena dia sering duduk di teras menghadap ke barat setelah salat maghrib, masih lengkap dengan mukenahnya, lalu bibirnya bergerak-gerak cukup lama?” kakek malah balik bertanya. Mulutku agak terbuka mendengarnya.

“Setidaknya begitu menurut omongan tetangga.”
“Jangan percaya tetangga!”

Di pulau ini, musim badai bisa berkunjung sampai satu bulan. Selama itu, tak ada satu pun perahu bahkan kapal yang berani berlayar. Ikan yang menjadi lauk utama tak terhidang lagi di meja makan. Lauk-pauk macam tahu pun raib, sebab tahu juga dikirim dari pulau sebelah. Setiap hari, ibu hanya memasak telur ayam yang dibelinya dari toko pinggir jalan. Membosankan. Melihat diriku semakin ogah-ogahan saat disuruh makan, ibu berkata begini padaku.

“Minta ayam sana sama kakekmu. Dia kan punya banyak ayam. Bilang kalau kamu ingin makan ayam. Sepertinya sudah satu tahun dia tidak pernah memotong ayam-ayamnya. Menjualnya pun tidak.”

Aku sependapat dengan ibu. Sayangnya, usahaku merayu kakek agar merelakan beberapa ekor ayam untuk digorok lehernya sia-sia saja. Dia beralasan bahwa ayam-ayam itu belum cukup umur untuk dipotong, selalu begitu. Padahal,  beberapa ayam jenggernya sudah banyak yang keriput. Jengger itu sudah tak berdiri tegak lagi, telah lunglai. Kulit kakinya juga telah sangat keras. Bahkan, ada beberapa ayam yang sorot matanya begitu layu, redup.  Aku sempat khawatir tentang hal itu.

Suatu sore sehabis salat maghrib, tak seperti biasanya, kakek tiba-tiba terlihat duduk di kursi yang berada di halaman rumah, menghadap ke Barat. Tepat di atas kursi kayu itu tumbuh pohon mangga yang sepertinya telah ada sejak dulu. Matanya terpejam. Jari-jari tangan kanannya memilin tasbih. Di tangan kirinya terselip batang rokok yang masih menyala. Aku sempat menggelengkan kepala melihat rokok itu. Namun pandanganku cepat beralih ke mulut kakek yang sedang mengucap beberapa kata. Sependengaranku, gema yang diucap kakek sama seperti yang sudah aku dengar sebelumnya.

Tapi yang sekarang lebih terdengar merdu beralun-alun.

“Are la gegger ka bibirre,
Bile se ekaludu’e?
Asanding robe, sampek tak anyabe
…..”

Hanya kalimat itu yang terus diulangnya. Sepertinya dia lupa kelanjutannya. Dan, setelah beberapa saat, aku pun sadar bahwa kalimat itulah yang sering diucapkan nenek saat hendak menemaniku tidur.

Hari ini aku terpaksa menggeledah kamar kakek. Hal yang selama ini tak pernah berani kulakukan, walau membuncah rasa penasaran. Rumah kita sangat luas, dan kamar kakek berada jauh dari kamarku dan ibu. Aku menjadi berani, karena kakek sudah tiga minggu berada di rumah sakit.
Di depan kamarnya terdapat banyak bulu ayam dan beberapa tahi ayam yang sudah kering dan yang masih basah. Pintu kamarnya tertutup rapat. Bau tak sedap mulai aku rasakan. Ternyata pintu kamar hanya tertutup, tak dikunci. Bau tak sedap itu makin menyengat setelah pintu kamar telah aku buka selebar-lebarnya.

Aku berusaha tidak kaget dengan keadaan yang aku lihat. Walau, bagian-bagian luar diriku akhirnya tak tahan untuk menunjukkannya. Di setiap jengkal lantai kamar terdapat bangkai ayam. Ada yang bulunya masih utuh, ada yang sudah berserakan. Bangkai-bangkai itu juga tergeletak di dalam serta di atas lemari. Ada pula yang terikat erat di jeruji jendela. Hanya saja, tak ada sama sekali bangkai ayam di atas kasur. Beberapa bangkai ayam itu mulut dan matanya terbuka. Gigiku terasa keras berbenturan. Rahangku semakin tegang. Kelopak mataku tak segera memutuskan mau menyempit atau melebar. Puncaknya, aku mengayunkan tangan kiriku, membanting daun pintu.

Di rumah sakit, dokter dengan yakin berkata bahwa sakit kakek kali ini disebabkan oleh ayam yang terjangkit penyakit. Dia menyebut suatu penyakit, tapi aku tidak mengingatnya. Aku sempat bertanya tentang kemungkinan pengaruh rokok pada kondisi kakek. Aku jelaskan padanya bahwa kakek masih merokok tiap hari tanpa putus. Dan dokter itu menyangkalnya. Tentu saja aku kaget. Baru kali ini aku lihat ada dokter tak sinis pada rokok.

Kakek telah membuka matanya ketika aku memasuki ruang tempat dia berbaring. Pipinya semakin keriput saja. Garis-garis di ujung kedua matanya semakin tebal. Bibirnya juga semakin lebam menghitam. Dia menoleh ke arahku, dan berisyarat agar aku mendekat padanya. Aku tiba-tiba saja tahu bahwa dia akan membisikkan sesuatu.

“Kamu telah melihatnya,” suara kakek sangat rendah.

“Iya. Mengapa menyimpan bangkai-bangkai itu?”

“Mereka membuatku selalu teringat pada nenekmu. Dan kamu tahu? Nenekmu datang tiap malam. Dia senang aku memelihara ayam-ayam itu.”

Ucapan kakek meyakinkan diriku, memelihara kenangan hanya akan membuatmu menjadi manusia yang berantakan.

1 ngorpeng jegung: memilin biji-biji jagung dengan jempol tangan agar terlepas dari batang buahnya.

[Dandy IM / Bernadeta Diana]