Jogja Fossil Free: Siapkah Jogja Menggunakan Energi Terbarukan?

Kampanye tentang penghematan energi fosil sudah lama digencarkan. Hal ini disebabkan karena semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil di dunia. Padahal, konsumsi energi fosil semakin banyak. Bayangkan saja, lamanya pembentukan bahan bakar fosil ini harus didapat dari timbunan biota selama ratusan tahun. Menurut penelitian dari Laboratory of Electric Machinery, Department of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, energi fosil akan habis sekitar tahun 2050. Jika kita terus menghandalkan energi fosil, maka sudah tidak ada cukup waktu lagi untuk menunggu terbentuknya energi fosil baru. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Dalam kampanyenya (25/7) lalu, 350.org mengajak mahasiswa di Yogyakarta untuk turut melakukan gerakan bebas energi fosil. Acara Ngobrol Bareng #Bebas Energi Fosil ini mengedukasi mahasiswa dari berbagai universitas di Jogja tentang kampanye bebas energi fosil. Kampanye bebas energi fosil sendiri merupakan gerakan global yang terdesentralisasi untuk menghentikan pertumbuhan energi kotor menuju 100% energi terbarukan. Organisasi ini juga memberikan panduan kampanye mulai dari definisi, pengenalan tuntutan kampanye, cara menjalankannya, hingga tempat untuk mendapatkan informasinya.

Dengan nuansa Antologi Collaborative Space yang menarik, pelaksanaan diskusi pun berjalan dengan kondusif. Berbagai mahasiswa dari gerakan dan disiplin ilmu yang berbeda memaparkan pendapatnya tentang kampanye ini. Bahkan sempat terjadi tukar pikiran dari beberapa peserta.

Di Yogyakarta sendiri, sebenarnya sudah mulai terjadi transisi menuju energi terbarukan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Pantai Samas adalah salah satunya. Sayangnya, beberapa waktu setelah proyek ini diresmikan, kincir angin yang dipasang di area tersebut belum sesuai dengan potensi tekanan angin yang dihasilkan. Sehingga energi yang dihasilkan oleh kincir angin itu sulit dikonversikan menjadi energi listrik. Menanggapi hal tersebut, 350.org menawarkan solusi untuk membentuk kincir angin yang sesuai dengan potensi angin yang ada. Hal ini juga dipaparkan oleh salah satu peserta yang pernah berkunjung di tempat itu. “Kemarin aku habis main ke situ, baling-balingnya udah fleksibel dan bisa mengikuti arah mata angin juga,” jelas Alfin, perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI).

Sumber : https://tirto.id/bahan-bakar-tinja-b3Lw

Penulis: Desi Yunikaputri/Bul
Penyunting: Agnes Vidita A/Bul