Laku Prihatin Ngrowot : Merefleksikan Kembali Falsafah Masyarakat Jawa

Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada atas nama Fatimatuz Zahra selaku ketua tim dari Fakultas Filsafat, serta Reza Ayu Safitri dan Fitrotul Izzah selaku anggota yang masing-masing berasal dari Fakultas Filsafat dan Fakultas Ilmu Budaya melakukan penelitian mengenai ritual puasa ngrowot di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ngrowot merupakan puasa yang dilakukan dengan memakan umbi-umbian sebagai pengganti nasi  Topik penelitian ini dipilih karena ngrowot merupakan tradisi yang sudah ada sejak belum dikenal sistem cocok tanam pada yang modern saat ini. Selain itu, ngrowot merupakan laku prihatin yang paling baik dilakukan menurut ilmu kesehatan dibanding laku prihatin yang lain yang dikenal di Pulau Jawa, seperti mutih dan ngebleng.

Puasa ngrowot merupakan salah satu jenis tirakat yang dilakukan oleh masyarakat jawa dengan meninggalkan makanan pokok dan menggantinya dengan umbi dan sayur-sayuran. Biasanya ngrowot dilakukan pada bulan Muharram/Suro selama 41 hari dengan maksud membuka awal tahun dengan hal yang baik.

Ngrowot itu berasal dari bahasa jawa, srowot, ketela yang diparut. Dulu dijadikan makanan pokok. Makanya sekarang puasa yang hanya memakan umbi-umbian itu disebut dengan ngrowot” Ungkap Mardiono Gudel, alumnus Fakultas Filsafat UGM yang saat ini berperan sebagai budayawan Blitar ketika ditanya mengenai asal usul kata ngrowot di Jawa.

Penelitian tersebut dilakukan pada tanggal 22-29 Mei 2018 di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi nilai budaya yang ingin disampaikan dibalik langgengnya puasa ngrowot. Untuk mengetahui sejauh apa pengaruh puasa ngrowot secara fisik dan spiritual, peneliti melakukan wawancara kepada para pelaku puasa ngrowot, pemilik otoritas dalam tradisi ngrowot serta pengamat budaya di daerah setempat.

Penulis: Fatimatuz Zahra/Bul