Refleksi Pencarian Jati Diri ala Tsukuru Tazaki

Foto: http://picbear.online/tag/tsukurutazaki

Krisis identitas sering dialami oleh mereka yang sedang dalam masa transisi dari remaja ke dewasa. Pertanyaan-pertanyaan seperti siapa dirinya, akan menjadi apa nantinya, dan ke mana arah hidup yang harus dipilih seolah melekat bagai bayangan. Dari kumpulan pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian berubah menjadi sebuah ketakutan yang menghantui hidup para dewasa muda. Pencarian jati diri tentu tidaklah semudah yang dibayangkan, perlu pengorbanan berdarah-darah untuk mencapai jawaban bahkan tak sedikit yang kemudian tidak selamat dan hidup dalam keterombang-ambingan.

Seperti yang dialami oleh Tsukuru Tazaki dalam novel Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Novel ke tiga belas dari Haruki Murakami ini menceritakan seorang remaja bernama Tsukuru Tazaki yang memiliki empat orang sahabat. Empat sahabatnya ini semuanya memiliki unsur warna di dalam namanya, Yuzuki Shirane (Putih), Eri Kurono (Hitam), Kei Akamatsu (Merah), dan Yoshio Oumi (Biru Laut), kecuali Tsukuru Tazaki. Hal ini membuatnya sedih dan merasa tidak diterima di antara teman-temannya. Meski sebenarnya hal itu tidak menjadi soal bagi anak-anak lain.

Masa kelulusan SMA tiba, selayaknya anak-anak pada umumnya, mereka dihadapkan pada pilihan akan melanjutkan ke universitas mana dan mengambil jurusan apa. Tsukuru yang bercita-cita ingin menjadi seorang insinyur kereta api, akhirnya memilih Tokyo sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Namun di balik pilihannya itu, Tsukuru Tazaki dihadapkan pada kegundahan, bila ia jauh dari sahabat-sahabatnya maka ia akan semakin merasa diasingkan. Meski begitu, keputusan telah dibuat, Tsuku Tazaki tetap pergi ke Tokyo.

Suatu ketika, saat ia sedang berada di Tokyo untuk pendaftaran kuliah, sebuah tragedi terjadi. Tiba-tiba semua temannya menjauh, tak lagi menelepon atau bertukar kabar, bahkan terang-terangan menolak kehadiran Tsukuru Tazaki. Akibatnya ia merasa sangat tertekan, penolakan membuatnya mencoba bunuh diri.

Kejadian itu tetap tidak terpecahkan hingga dewasa, dan membuat Tsukuru Tazaki tidak berani lagi memiliki kawan selain dengan buku-buku sastra dan musik kesayangannya. Tragedi itu terus membayang Tsukuru Tazaki hingga mempengaruhi keputusannya saat dewasa. Tragedi yang tidak terpecahkan itu terus menghantuinya dan menuntut jawaban hingga membuat si tokoh jatuh dalam kegilaan batin.

Meski terkesan masalah sepele tentang nama, tetapi Haruki dengan apik membuatnya menjadi rumit hingga mengancam nyawa si tokoh. Murakami membangkitkan pertanyaan di dalam diri pembaca tentang siapakah kita sebenarnya? Benarkah A merupakan A, bukan B, C, D?

Selain itu, Murakami juga berusaha mengingatkan para pembaca tentang kenyataan bahwa kita sangatlah rapuh. Siapa yang tidak pernah merasakan minder dan tidak diterima lingkungan pergaulan? Saya rasa hampir semua orang pernah merasakannya. Sebagai makhluk sosial, perasaan ditinggalkan dan tidak diterima merupakan sebuah keadaan yang mengerikan terutama bagi mereka yang masih dalam pencarian jati diri seperti Tsukuru Tazaki. Belum lagi, kejadian-kejadian masa remaja merupakan kejadian yang mudah terpatri di dalam ingatan dan akan memengaruhi kehidupan selanjutnya. Maka tak jarang bila kejadian di kala remaja, akan meninggalkan bekas luka yang mendalam serupa trauma.

Lebih lanjut, dalam sebuah artikel menyebutkan bila buku ini didedikasikan untuk mereka para remaja, khususnya di Jepang yang sedang menghadapi masalah Hikikomori. Buku ini dimaksudkan untuk menyalakan api semangat untuk menjalani kehidupan sebagai remaja.

Nah, apakah buku ini berhasil memuaskan kegundahan remaja? Tentu saja! Karena dalam beberapa jam, buku ini sudah ludes terjual saat terbit pertama kali di Jepang.

Semakin penasaran bukan? Temukan kisahnya hanya di Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage (ed: bisa ditemukan dalam versi terjemahan Indonesia terbitan Kepustakaan Gramedia dengan judul Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya).

Foto: http://picbear.online/tag/tsukurutazaki

Penulis: Viviekananda G
Editor: Ifan Afiansa