Aku Juga Pernah Merasakan Ketiadaan Kita

 

Judul buku                  : Tidak Pernah Ada Kita

Pengarang                   : Dwitasari

Penerbit                       : Mizan

ISBN                           : 9786024302412

Tahun terbit                : 2018

Jumlah halaman          : 172

Bahasa                         : Indonesia

 

            Mencintai dalam luka adalah hal yang paling menyakitkan. Siapa pun pasti pernah mengalaminya, termasuk saya sendiri. Jatuh hati dengan laki-laki yang sudah menjadi kekasih perempuan lain; cinta yang bertepuk sebelah tangan; sampai terjebak dalam friendzone, semua pernah saya rasakan. Pengalaman percintaan yang buruk tersebut merupakan cerita dari novel fiksi karangan Dwitasari ini.

Novel yang baru dirilis tahun 2018 ini menceritakan kisah kasih antara dua orang sahabat bernama Bella dan Cyrus. Bella adalah seorang penulis novel sekaligus mahasiswi di sebuah universitas bergengsi, layaknya sosok Dwitasari. Sementara itu, Cyrus adalah seorang atlet sepak bola profesional. Kehidupan Cyrus dipenuhi dengan pertandingan sepak bola setiap harinya, sedangkan kehidupan Bella dipenuhi oleh Cyrus. Lelaki itu menjadi sumber inspirasi dari setiap novel yang Bella tulis. Cyrus adalah kegalauan terindah Bella.

Namun hubungan Bella dan Cyrus tidak selalu berjalan mulus. Setiap kali Bella meminta kejelasan atas status hubungan mereka. Cyrus selalu mengelak, bahkan melarikan diri selama beberapa waktu dari kehidupan Bella. Hubungan mereka ibarat saklar lampu,selalu on and off. Label “teman”,  tentu saja tidak cukup untuk  Bella. Jatuh hati memang membuat keadaan menjadi rumit. Apalagi saat perasaan untuk saling memiliki tidak mampu diwujudkan.

Novel ini memiliki alur cerita layaknya kisah cinta dalam kehidupan nyata. Seorang perempuan jatuh cinta dengan laki-laki, tetapi terjebak friendzone kemudian memutuskan untuk move on namun setelah itu kembali bersatu. Bagi saya, alurnya terlalu biasa untuk sebuah novel. Dari segi bahasa,novel ini juga mudah dipahami, atau mungkin saya harus mengatakan “terlalu” mudah dipahami. Percakapannya agak terkesan cheesy tetapi memang begitulah ciri khas novel remaja. Satu hal yang membuat saya bertahan membaca novel ini yaitu  banyak puisi tertulis di dalamnya.

Saya memang menyukai puisi. Harus saya akui puisi-puisi Dwitasari di novel terbarunya ini memiliki kata-kata yang indah dan mudah dipahami. Novel ini juga berisi kutipan-kutipan tentang cinta yang memiliki arti mendalam. Kekuatan Dwitasari dalam mengolah kata sangat terlihat dalam puisi-puisi buatannya.

Novel yang dicetak penuh warna dan ilustrasi ini juga instagramable. Desainnya sederhana tetapi manis, saya bahkan tergoda untuk mengambil foto salah satu halaman buku untuk dijadikan story di Instagram. Saya mengapresiasi illustrator yang mendesain bagian puisi dan kutipan di novel ini sehingga apabila difoto kemudian diunggah ke Instagram, feed saya menjadi semakin ciamik.

Sungguh novel ini cocok terutama bagi mereka yang sedang berada di masa-masa galau karena kisah cinta yang tidak berjalan mulus. Setidaknya, novel ini dapat menemani kegalauan para remaja sehingga mereka dapat berkata “Mbak Bella, sama aku juga di-frienzone sama dia”, walaupun pada akhirnya mereka hanya bisa berandai-andai bisa memiliki akhir kisah cinta seperti Bella dan Cyrus. Namun, maaf saja jika kalian adalah pecinta novel sastra dengan bahasa yang berat tetapi syahdu, sungguh kalian tidak cocok dengan novel ini. Apalagi untuk kalian sedang berjuang untuk SBMPTN, sungguh kuliah itu berat maka dari itu menikahlah saja. Eh maksud saya, belilah buku kumpulan soal SBMPTN yang paling tokcer menurut kalian.

Tidak pernah ada orang yang meminta untuk memiliki hubungan tanpa kejelasan. Laki-laki atau perempuan, siapapun kalian, jika kalian pernah merasakan ketiadaan “kita”, aku juga. Setidaknya kehadiran novel ini dapat menemani dan menguatkan perjuangan kalian untuk menghadirkan kata “kita” dengan cinta.

 

Penulis: Antari Kinanti
Editor: Timotia Innosensia/Bul