Upaya Merasionalisasi Logika Pikir Teroris

Ilus: Damar/Bul

Aksi terorisme seperti apapun rupanya, tetaplah dipandang sebagai momok yang paling mengerikan oleh sebagian besar masyarakat. Sebab dalam waktu yang singkat, seluruh tempat bisa saja menyandang status darurat karenanya.

Bom bunuh diri yang meledak pada tiga lokasi berbeda di Surabaya pada Minggu (13/5/18) lalu mengingatkan saya akan adegan-adegan dalam film favorit semasa sekolah,  Vantage Point. Untuk menumbangkan tokoh nomor satu di Amerika Serikat, kelompok teroris dalam film ini melancarkan serangkaian aksi yang benar-benar matang. Mulai dari penyamaran, penculikan, baku tembak, hingga bom bunuh diri yang terorganisasi dengan begitu rapi. Dari sana sesungguhnya kita bisa merumuskan sebuah pandangan dasar, yakni faktor-faktor serta kemapanan keputusan para pelaku untuk menyebarkan aksi teror jauh dari sekadar modal kenekatan dalam bertindak.

Orang-orang kini ramai menggunjingkan Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti sebagai pelaku teror bom gereja Surabaya. Sedangkan keempat putra-putri mereka, alih-alih dihujat sebagai pelaku teror, justru dibanjiri simpati dari masyarakat. Keprihatinan ini awalnya membludak lantaran beredar anggapan bahwa putra-putri pelaku teror hanyalah korban dari pencucian otak. Namun, mendengar latar belakang keluarga asal Surabaya itu pun malah semakin membuat hati menjadi sakit. Pasalnya, keluarga tersebut selama ini dikenal ramah di mata para tetangganya. Apalagi setelah diketahui kondisi ekonominya yang cukup sehat. Rasanya tak kurang suatu apapun yang membuat masyarakat sekitar berpikir keluarga ini akan melakukan hal sekeji meledakkan diri sendiri.

Pada sebuah adegan dalam Vantage Point, seorang lelaki berseragam pegawai hotel diminta oleh ketua kelompok untuk meledakkan dirinya. Setelah menerima pesan,  ketua kelompok meyakinkan betapa perbuatannya itu akan membanggakan semua orang, bom yang dililitkan di balik jas merahnya lantas meluluhlantakkan seisi lobi hotel. Saya tidak pernah bisa menebak, entah ia berkeringat karena paksaan atau memang begitulah ekspresi gugupnya saat hendak melakukan aksi yang hebat. Sama halnya dengan Dita dan sang istri, bahkan juga anak-anaknya. Di balik kenekatan mereka, ada alasan kuat yang menjadi pondasi.

Respons yang diberikan oleh mayoritas atas pengeboman tiga gereja Surabaya pun relatif seirama. Mereka para teroris, dilabeli sebagai orang yang tak beragama, melenceng dari ajaran kasih-mengasihi. Tak ada yang sudi mengakui para pelaku berafiliasi dengan golongan tertentu karena nama baik kadung tercoreng. Nyatanya, Dita dipercaya merupakan seorang pengibadah yang taat, setidaknya begitu kesaksian tetangga.

Secara ideologis, tentu ia punya sebuah keyakinan yang layak untuk dihormati, sekalipun pahamnya tak selunak lainnya. Fanatisme atas keyakinannya ini menjadi modal paling wahid untuk mereka melaksanakan aksi yang disebutnya “jihad”. Namun menilik dari kacamata lain, praktik terorisme ini kerap dicurigai sebagai salah satu taktik dari black campaign atau alat perebut kekuasaan. Bruce Hoffman menyampaikan hal serupa dalam bukunya yang bertajuk Inside Terrorism. Terorisme, dalam pengertian kontemporer yang diterima secara luas, bersifat politis secara fundamental dan esensial. Dapat juga diasosiasikan dengan kekuasaan: pengejaran, perolehan, dan penggunaan kekuasaan untuk mencapai perubahan politik.

Dita dan keluarganya adalah bagian dari kelompok afiliasi ISIS bernama  Jamaah Anshar Daulah (JAD) yang memiliki visi untuk mendirikan negara daulah islamiyah. Berdasarkan liputan tirto.id, Wawan Purwanto selaku juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) menegaskan bahwa kelompok tersebut memang sengaja menyerang kepolisian yang dianggap sebagai thagut. Maksud dari thagut ialah orang-orang yang tidak menjalankan syariat selain yang mereka yakini. Oleh karena itu, kemenangan para napi “jihadis” Mako Brimob dalam menewaskan 5 personil polisi pada kerusuhan sel beberapa hari sebelumnya menjadi pemantik aksi terorisme mereka di Surabaya. Setelah dirasa berhasil melumpuhkan bagian dari apa yang mereka sebut thagut, sel-sel lainnya bangun dan terprovaksi untuk melanjutkan perjuangan yang terdahulu.

Alasan tersebut menjadi masuk akal ketika kita hanya memandangnya dari sisi kepentingan golongan. Akan tetapi, akan menjadi rancu ketika kita mempertanyakan subjektivitas dari motivasi para pelaku, tak hanya oleh Dita dan keluarganya. Pada dasarnya, mereka percaya akan prinsip ketuhanan serta beragama, sama seperti pemeluk lainnya yang menjalankan syariat masing-masing kepercayaan, pun membaca kitab suci. Bicara soal agama, ihwal tentang siapa pun memilih kepercayaan apa pun beserta corak-coraknya bukanlah sebuah masalah,  dan tidak pernah menjadi persoalan bagi orang lain. Berkeyakinan adalah hak setiap individu, sesuai dengan ketetapan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 29.

Sayang, kekeliruan Dita dan kelompoknya dalam menjalankan syariat agamanya ialah lantaran mereka terlalu fanatik pada urusan nonduniawi. Padahal kalau boleh dibandingkan, masyarakat lain yang sama-sama berkebutuhan sosial pun sering kali terjerumus pada hal-hal berbau fanatisme. Tapi apa yang membuat mereka berbeda?  Fanatisme mereka ini berubah menjadi gerakan yang lebih radikal, mengaburkan semangat silaturahmi dengan sesama manusia yang tak sepakat dalam tujuan. Dalam sejarah, kasus-kasus serupa narsistik kebangsaan seperti dialami oleh Jerman juga tidak membuahkan akhir yang sehat. Pada taraf yang paling tinggi, seperti yang terjadi pada Dita dan kawan-kawan, penganut paham garis keras ini menjadi buta akan kemanusiaan yang majemuk. Demi membangun sebuah kondisi negara yang hanya dikehendaki oleh kelompoknya sendiri, mereka menghalalkan pembunuhan atas nama agama. Sebab dunia yang homogen adalah cita-cita mulia mereka.

Menelusuri lebih sempit, ada beberapa versi yang melatarbelakangi munculnya sikap fanatik tersebut. Tendensi seseorang dalam menelan informasi dari sumber tertentu tanpa memedulikan sumber lain, misalnya. Dalam illmu berargumen, dikenal istilah confirmation bias, yang artinya tendensi untuk mengutip hal-hal yang dianggapnya benar saja. Kelompok teroris ini bisa jadi menerima orasi secara berulang-ulang dari tokoh atau pimpinan yang dianggapnya luar biasa bukan main, sehingga kemudian menjadikan apapun yang didengarnya sebagai haluan dalam berkehidupan. Belum lagi dalam metode penyampaiannya, para pelaku dipupuk dengan rasa kekecewaan serta amarah yang menggunung terhadap pihak lawan. Tentu semakin subur ideologi yang telah ditanam. Pada akhirnya, perilaku mereka cenderung tertutup terhadap masyarakat umum karena norma-norma kehidupan yang berbeda satu sama lain.

Biar bagaimana pun, cara pandang mereka juga keterlibatannya dalam meyakini sebuah kepercayaan—tentu terlepas dari eksekusinya, tidak berhak kita adili dengan semena-mena. Perbuatan para teroris dalam menyebar ketakutan terhadap masyarakat sekitar mengandung unsur kejahatan dalam berbagai bentuk, salah satunya ialah mengancam kestabilan negara. Oleh karenanya, setiap kali media memberitakan aksi teror di mana pun itu terjadi, dunia pun mengecamnya mati-matian. Strategi yang Dita gunakan memang tak secerdik para teroris dalam film Vantage point, di mana perencanaan yang tidak matang meninggalkan asumsi niat yang setengah-setengah. Meski begitu, eksekusi mereka dalam beragama dilakukan dengan menciptakan berbagai kerugian serta perasaan was-was, sehingga kegiatan lainnya yang serupa sudah sepatutnya ditindak dengan tegas. Sebab mereka berusaha memaksakan kehendak dengan cara yang tidak manusiawi.

Penulis: Nabila Rana Syifa
Editor: Ifan Afiansa/Bul
Ilus: Damar/Bul