Alkisah Seorang Pengantar

Ilus: Rofi/Bul

Ijazah sarjana beberapa tahun lalu ia genggam erat, kepercayaan diri penuh tampak dari segala penjuru tubuhnya. Bejo hendak melamar sebagai kurir di perusahaan ekspedisi. Di depan meja HRD, ia bercerita dengan bangga tentang dedikasinya dalam urusan antar-mengantar. Dimulai ketika Bejo kecil sering diminta ibunya untuk mengantarkan rantang makanan ke tetangga, usai mengantarkan, ada rasa puas yang perlahan menjalar dalam dirinya. Senyum dan ucapan terima kasih dari tetangga turut menambah rasa puas itu. Semenjak itu, Bejo kerap menawarkan diri untuk mengantarkan rantang makanan. Ibunya pun turut senang melihat anak semata wayangnya begitu antusias membantunya. Tak hanya pada ibunya, usai mengantarkan pada tetangganya, ia juga sering menawarkan diri jika sewaktu-waktu tetangganya ingin mengantarkan sesuatu. Tak hanya di rumah, di sekolah pun ia mencalonkan diri sebagai ketua kelas hanya untuk mengantarkan tugas dan PR teman-temannya ke ruang guru. Hal itu terus berlanjut hingga ia lulus SMA.

Kepala HRD terpukau dengan cerita itu, ia sampai berdiri dan bertepuk tangan tiga kali. “Wah, wah! Sungguh berdedikasi. Perusahaan kami mendapatkan orang yang tepat. Sejujurnya kebanyakan kurir di sini bekerja karena tidak punya pilihan lain. Namun, Bapak sungguh berbeda. Tiada basa-basa lagi, selamat datang di perusahaan kami”

Menjalani pekerjaan yang ia sukai rupanya tak semudah kedengarannya, terlebih daerah yang ia jajaki bukan kota besar di mana rumahnya berdekatan satu sama lain. Kadang rumah yang ia datangi kosong, kadang pula penerima paket tidak ramah dan sesekali mengomel, ia menjadi rindu saat-saat ia mendapatkan ucapan terima kasih dan senyuman dari tetangganya, dari gurunya, dari teman-temannya, terlebih dari ibunya dulu. Dua bulan kemudian, hujan turun dengan lebat, diperparah dengan jalan berlubang. Tanpa sadar, delapan paket terjatuh setelah melewati lubang genangan yang cukup dalam. Begitu sadar, Bejo langsung berbalik arah, ia mendapati tiga paket rusak dilindas mobil, dan sisanya raib begitu saja. Akibatnya perusahaan harus mengganti rugi hingga jutaan rupiah, dan Bejo pun dipecat.

Jarum jam hampir menunjukkan jam 10 malam di kedai makan. Riuh rendah terdengar pembicaraan pengunjung di dalamnya. Di tengah kepulan asap rokok yang mengambang, Bejo meratapi nasibnya. Tubuhnya seakan tak ingin beranjak, ujung rokok dibiarkannya membara tanpa selera menghisapnya kembali. Udara dingin menyelimuti Bejo perlahan, ia kembali menghisap rokoknya. Ia takut dan kalut.  Ia tak tega membayangkan reaksi keluarga, khususnya istrinya, Siti. Nama istrinya terdisplai di layar panggilan handphone-nya. Tanpa mengangkat panggilan itu, Bejo beranjak membayar dan pulang ke rumah.

Siti semula sudah bersiap-siap dengan omelan panjang, tapi ketika melihat suaminya pulang dengan wajah lesu, keinginan itu menghilang. Sang istri langsung bergegas ke dapur, memanaskan air dan menyeduh teh. Tubuh lemas Bejo di ruang tamu makin lemas melihat gerak-gerik istrinya. Kombinasi kehangatan istri dan secangkir teh, Bejo akhirnya menceritakan kejadian pahit beberapa jam lalu.

“Ya sudah, kalau Mas masih ingin bekerja sesuai dengan yang Mas suka. Coba melamar jadi ojek online, yang sekarang lagi tren di Jakarta itu lho, Mas. Cabangnya juga sudah ada di Jogja,” kata Siti sembari mengelus kepala lelaki di pangkuannya.

Keduanya langsung merencanakan untuk mengontrak sementara di Jogja. Tinggal di daerah yang cukup jauh dari pusat kota bukan sesuatu yang menyenangkan untuk pekerjaan barunya. Menurut beberapa tetangga, ojek daring hanya terpusat di daerah kota saja.

**

Setelah mencari informasi di sana-sini, keduanya mendapatkan kontrakan kecil yang berlokasi tidak begitu jauh dari Jalan Kaliurang. Menurut informasi yang beredar, ojek daring sangat laku di kawasan mahasiswa. Tentunya sebagai pendatang, ia paling tidak harus menghafalkan jalan-jalan di sekitar. Kendati tahu ada aplikasi Maps yang akan membantu, ia merasa kurang sreg kalau belum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Akhirnya ia berencana untuk menghafalkan jalan dan gang di sekitar selama seminggu ke depan.

Hari demi hari ia berkeliling di sekitar Jalan Kaliurang, Jalan Gejayan, dan Jalan Colombo. Menyusuri tiap-tiap gang kecil di setiap jalan yang ia lalui, sesekali ia melihat beberapa tukang ojek daring berlalu lalang di sekitarnya. Tiba-tiba kepercayaan dirinya kembali meningkat. Ia membayangkan diri pulang membawa banyak uang. Siti menyambutnya dengan lingerie dan bau  parfum yang mengundang nafsu. Bejo merengkuh  tubuh Siti, dan menggendongnya memasuki kamar.

TIIIINNN! Ia segera tersadar dari lamunannya, motornya berada pada jarak kurang dari tiga meter dari mobil yang berlawanan arah. Bejo membanting kemudi ke arah kiri, dan mencengkram remnya kuat-kuat. Celakanya, aspal kembali tidak berpihak padanya. Rem motornya tak mampu menahan kecepatan, bruakkk! Bejo dan motornya terseret dua meter. Dua motor di belakangnya berhasil menghindarinya, sehingga kecelakaan beruntun terhindarkan. Bejo merasa perih menjalar di tangan dan kakinya. Warga di sekitar segera menolongnya, dua orang memapahnya dan lainnya meminggirkan motornya. Seorang warga lain membawakannya sebotol air.

Setelah bersusah payah mengucapkan terima kasih sambil menahan perih di telapak tangannya, Bejo menggenggam botol dan perlahan meminumnya..

Kepiye tho, Mas? Masa’ ada mobil mau nyebrang, malah  mau ditabrak,” omel seorang warga di sebelahnya.

Rasa malu dan perih berkecamuk di benaknya. Bejo memilih bungkam saja dan menahan rasa sakit yang makin hebat. Celana robek di bagian lututnya, lubang sebesar telapak tangan menganga di celana jeans bagian kanan. Ia meringis ketika mencoba menggerakkan kakinya.

Kerumunan mulai berkurang, Bejo bersandar di tiang listrik di dekatnya. Ia kini hanya ditemani tukang parkir.

“Mas, itu motornya nggak apa-apa. Tadi sudah saya coba starter, masih nyala. Cuma setirnya agak bengkok sedikit,” kata tukang parkir. “Sampeyan tinggal di mana?”

“Di Sinduadi, Pak,” jawabnya masih tersengal-sengal.

“Wah, ora adoh ya, Mas. Tapi ngapuro lho, Mas, saya ndak bisa nganterin sampeyan. Saya harus jaga sini sampai nanti malam.”

“I-iya, Pak. Ndak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri.”

Tenan lho, Mas. Ngapuro ya. Saya tinggal dulu. Lain kali hati-hati, Mas.”

Untung aja kecelakaan tunggal, pikir Bejo. Setidaknya ia mengeluarkan uang hanya untuk beli kapas dan betadine. Setelah bisa beradaptasi dengan rasa sakitnya, perlahan Bejo mulai berdiri dan meraih motornya.

Siti tak mengerti mengapa dirinya harus melihat suaminya pulang dengan keadaan tak menyenangkan. Sepanjang mengobati Bejo, Siti mengomel tiada henti. Sepertinya omelan tersebut diakumulasi dengan omelan yang tertunda ketika Bejo telat pulang. Seraya menahan perih, Bejo mengingat-ingat beberapa detik sebelum insiden terjadi, ia hampir membayangkan dirinya bercinta dengan Siti. Namun, kini ia harus terbujur pasrah di sudut kamar dan mendengarkan omelan Siti.

Selama seminggu penuh, Siti merawat Bejo di kamar yang hanya ada kasur dan tumpukan pakaian. Luka-luka di kaki dan tangannya telah mengering, walau beberapa bagian masih terasa perih, setidaknya Bejo sudah bisa bergerak.

“Mas, masih mau melamar?”

“Iya.” Bejo menatap Siti dengan yakin. Siti menyendokkan nasi dan sepotong tempe, lalu menyuapkan ke mulut Bejo.

Dua hari kemudian, di depan kantor cabang ojek daring, Bejo menggenggam erat map berisi berkas-berkas yang dibutuhkan. Walaupun sedikit pincang, wajahnya tetap memancarkan semangat untuk menjalankan sesuatu yang ia suka. Setelah berkas-berkas dinyatakan lolos, Bejo kembali berhadapan dengan HRD. Seperti sebelumnya, ia kembali menceritakan segala tentang dirinya dan minatnya yang besar terhadap dunia antar-mengantar.

“Hebat! Jarang sekali ada yang begitu besarnya mempunyai passion seperti bapak. Nanti bapak silakan langsung membayar biaya administrasi untuk seragam jaket dan helm. Kalau tidak salah, bapak  itu pendatang ya? Kebetulan, kami punya panduan bagi pendatang untuk menghafal jalan-jalan di sini.”

Yogyakarta, 5 Mei 2017

Penulis: Ifan Afiansa/Bul
Editor: Sesty Arum P./Bul
Ilus: Rofi/bul