Menuju Kampus Inklusi

Kelas bahasa isyarat disambut baik.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel UGM yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) kini tengah menyelenggarakan serangkaian kelas bahasa isyarat yang diselenggarakan dalam lima kali pertemuan yang dimulai pada 28  Maret hingga 13 Mei 2018 mendatang.

Kelas tahun ini, UKM Peduli Difabel menghadirkan pemateri beserta interpreter  yang merupakan perwakilan dari Pusbisindo.  Dalam setiap pertemuannya, peserta akan mendapatkan materi bersambung. Pada pertemuan pertama, dibahas teman Tuli lebih suka disebut demikian ketimbang tuna rungu. Hal ini karena frasa tuna rungu dilihat dari perspektif medis sebagai orang yang memiliki kerusakan pendengaran, sedangkan tuli mengacu pada sebuah kelompok budaya yang memiliki keunikan komunikasi menggunakan bahasa isyarat.  Selanjutnya, peserta diberikan pengetahuan mengenai abjad dan cara perkenalan menggunakan bahasa isyarat. Pertemuan kedua, dilaksanakan pada hari berikutnya dengan membahas materi mengenai angka, hari, dan tanggal. Kelas selanjutnya akan memaparkan warna, rasa, dan berbagai buah-buahan.

Ketua pelaksana program, Siti Chikal Azizah (Sekolah Vokasi’17)  mengungkapkan kelas bahasa isyarat merupakan salah satu cara untuk mewujudkan pendidikan yang bersifat inklusif di perguruan tinggi. “Di kampus itu kan punya tuntutan untuk menjadikan kampus yang inklusi, jadi dengan adanya kelas bahasa isyarat salah satu cara mewujudkan hal tersebut,” ujarnya. Selain itu, Humas UKM Peduli Difabel, Satriya Umbu G. A. (Geografi’16) juga menyampaikan melalui program ini dapat memperlihatkan sikap kampus UGM terhadap teman-teman difabel. Sekaligus untuk mewadahi kalangan mahasiswa dan masyarakat umum belajar bahasa isyarat.

Pembukaan kelas bahasa isyarat itu sendiri mendapatkan respon yang positif dari banyak pihak. “Waktu itu dibuka pendaftaran jam 5, jam setengah 6 sudah full kuotanya. Animo peserta sangat tinggi sebenarnya. Banyak juga yang minta ada tambahan kelas,” tutur Satriya. Hal tersebut juga dibuktikan dengan dedikasi yang peserta berikan. “Sampai ada peserta yang lari ngos-ngosan untuk ke kelas, padahal saat itu belum terlambat lama,” ungkap Chikal. Meskipun tidak semua peserta yang mendaftar dapat hadir di setiap pertemuan, namun hal itu tidak mengurangi antusiasme peserta kelas lainnya dalam mengikuti jalannya kelas. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam berpartisipasi seperti mengajukan pertanyaan pada sesi bertanya ataupun melakukan praktek bahasa isyarat dengan sesama peserta yang lain. Salah satu peserta kelas bahasa isyarat, Berty Larasati, mengungkapkan program ini sangat bermanfaat, “Soalnya buat edukasi orang dengar biar bisa bahasa isyarat jadi gak takut kalo harus komunikasi sama teman tuli,” ungkap Berty.

Melihat animo masyarakat yang cukup tinggi, Satriya menuturkan telah ada rencana untuk kembali membuka kelas bahasa isyarat tahun depan. Ia juga berharap UGM bisa menjadi salah satu perguruan tinggi yang inklusi. “Semoga UGM bisa lebih inklusi ya dengan salah satunya ada kelas bahasa isyarat. Mungkin ke depannya bisa jadi perguruan tinggi inklusi,” harapnya.

Penulis: Lestari K, Septiana H, Maya Ristining T/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul