Cerita Mahasiswa Sebelum KKN

Kisah Dela dan Rewina sebelum KKN (Kuliah Kerja Nyata).

 Mahasiswa berkewajiban menuntut ilmu dan mengembangkan softskill. Dalam mengembangkan softskill mahasiswa dapat mengikuti organisasi di dalam atau luar kampus. Hasil dari kegiatan-kegiatan tersebut beragam. Ada yang mendapatkan keterampilan baru, menyempurnakannya, mendapatkan relasi pertemanan, dan banyak lainnya. Tetapi, kadang beban akademik menjadi penghalang mahasiswa untuk berpartisipasi. Akhirnya banyak mahasiswa tidak ingin mengikuti kegiatan nonakademik. Namun, UGM mewajibkan mahasiswanya mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari tridharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa yang mengikuti KKN akan mendapatkan keterampilan dan pengalaman berharga. Tidak hanya selama KKN, tapi juga saat sebelum KKN dilaksanakan. Seperti Dela Khoril Aini (Filsafat’15) yang akan KKN di Teluk Beringin Kuantan Singgigi Riau.

Dela memulai persiapan pada bulan November 2017. Timnya mencari anggota yang memiliki visi dengan kelompoknya kemudian membuka pendaftaran di bulan Februari. Setelah rekruitmen anggota mereka mulai memikirkan program dan proposal kepada LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Mayarakat). Hal yang mengecewakan adalah ditolaknya Lombok sebagai tujuan KKN karena sudah banyak tim yang mau ke sana. Awalnya mereka boleh di Lombok tapi semua biaya harus ditanggung tim yang pada akhirnya menjadi alasan mereka mengurungkan niat ke Lombok.

Perjuangan tidak hanya sampai di situ, kesulitan tim KKN untuk mencari pendanaan sambil bersaing dengan tim lain juga menjadi hambatan. Terlebih untuk memudahkan KKN di Riau tim butuh orang asli Riau yang mengenal daerah tersebut untuk berkomunikasi dengan Pemda setempat.

Pengalaman KKN lainnya dialami oleh Rewina Ika Pratiwi (Antropologi’15). Rewina dan timnya akan menjalani KKN di Desa Kerta, Bali. Persiapan Rewina hampir sama dengan Dela, ia dan timnya membuat proposal agar lolos seleksi LPPM. Setelah itu, mereka mengadakan pendaftaran anggota melalui media sosial dan mendapat anggota baru dari fakultas lain. Hal yang sangat berkesan bagi Rewina adalah mengurus pengusulan tempat KKN yang cukup rumit.

“Aku dan tim kemudian mengumpulkan dana yang cukup besar. Kami berjualan baju. Selain itu, kami juga menjaga parkir di Gereja Kotabaru,” ujar Rewina saat dijumpai Bul.

Beberapa hal yang kurang menyenangkan terjadi, ada tim pengusul yang menyediakan kuota menerima anggota dari sistem ploting LPPM. Situasi ini kadang kurang menyenangkan karena akan ada jarak antara anggota yang sudah lebih dulu masuk tim dan anggota baru hasil ploting. Selain itu masalah dana transportasi hanya sebatas bantuan dana saja melalui pinjaman ke LPPM yang dirasa lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya tiket jika dipesan secara daring.

Banyak sekali kendala saat KKN, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa diatasi. Banyak cara untuk mencapai tujuan dan akan lebih baik jika tim lebih kreatif dalam mencari solusi agar kegiatan KKN tidak menjadi beban.

Penulis: Tio Ardiansah, Saraswati, Deva T/ Isnaini Fadlilatul/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul