Penutupan Krakatau II, Persembahan Mahasiswa Minang

P

Ketua panitia Kreasi Anak Rantau (Krakatau) II, Rhaka Gurand resmi menutup acara Krakatau tahun ini.  Acara berlangsung di Gelanggang Mahasiswa, Universitas Gadjah Mada, Minggu, 29/4. Acara tersebut bertujuan untuk membangun semangat anak-anak rantau dengan menjadikan pemuda yang bersinergi, demi terwujudnya generasi penerus yang sportif dan kreatif.

Krakatau II diadakan sejak tanggal 14-29 April 2018. Acara ini dibagi atas dua kelas perlombaan yaitu lomba internal (diikuti oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Minang/Forkommi) dan lomba untuk umum (diikuti paguyuban-paguyuban mahasiswa di UGM serta paguyuban minang se-Yogyakarta).

Banyak perlombaan yang diadakan. pada pertandiangan internal, ada lomba domino, badminton, PES, karaoke antarangkatan, dan volly antarangkatan. Sementara pada pertandingan umum, ada lomba fotografi, esai, dan cipta puisi, serta futsal antarpaguyuban.

Krakatau II dilaksanakan tak beda jauh dengan tahun sebelumnya, yakni sebagai wadah minat dan bakat anak muda terutama di bidang olahraga dan seni. “Saya mengharapkan kegiatan ini dapat memunculkan nilai-nilai sportivitas dan kreativitas yang tampaknya semakin tenggelam. Sebab, kita tahu bahwa generasi muda ini adalah generasi harapan bangsa yang memegang estafet kepemimpinan negeri,” terang Gurand.

Rakha juga senang dengan suksesnya acara tersebut, Semua panitia telah mempersiapkan jauh-jauh hari. Ia berharap di tahun depan acara Krakatau lebih meriah dan memiliki konsep lebih menarik sehingga tujuan-tujuannya dapat tercapai. “Inovasi-inovasi kegiatan harus terus dikembangkan. Apapun tema yang akan dibawakan di tahun depan, hal tersebut harus koheren dengan kondisi bangsa saat ini,” lanjutnya.

Penutupan Krakatau II diwarnai dengan Forkommi Award 2018. Melalui Forkommi Award, panitia menyampaikan penghargaan dengan berbagai kategori, yaitu teraktif, social butterfly award, uda forkommi, uni forkommi, 911 award, panitia terbaik, proker terbaik kabinet Marawa Nan Sabatang, departemen terarek, pakek, ndak ado ambek, dan ditutup oleh kategori Ormada terbaik. Acara malam itu juga dimeriahkan oleh Sanggar Marawa Forkommi yang menampilkan tarian Minangkabau yang dikreasikan. Tepuk tangan riuh memecah keheningan malam di Gelanggang.

Penulis: Weli Febrianto/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul

Oleh Divisi Redaksi

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul